Kasih Ibu

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Desember 2017
Kasih Ibu

KASIH IBU
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Terimakasih padamu ibu... yang sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan diriku, bahkan bisa jadi nyawamu sebagai pengorbanannya.

Suka dan duka, jatuh dan bangun, ujian dan cobaan yang silih berganti mewarnai kehidupan ini tidak pernah ibu keluhkan dan ikhlas engkau jalani dengan penuh kasih dan sayang, serta hanya ingin agar anak-anakmu menjadi anak yang berguna, saleh/salehah, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa.

----
 
Semua manusia yang berada di belahan bumi manapun berasal dari pertemuan sperma seorang ayah dan ovum seorang ibu yang kemudian menetap selama 9 bulan 10 hari di dalam kandungan masing-masing ibunya untuk menanti saat tibanya dilahirkan sebagai seorang manusia yang baru atau bayi yang lahir secara fitrahnya sebagai makhluk yang suci bersih tanpa noda dan dosa.

Setiap bayi yang terlahir dari rahim seorang ibu ke dunia ini pasti dalam keadaan telanjang bulat. Tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.

Pernah terbayang tidak, perjuangan seorang ibu untuk melahirkan kita sebagai anaknya, begitu bersusah payah dan menyakitkan, dan bahkan nyawapun siap diambil oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan kita semua, sang buah hatinya.

Allah menceritakan di dalam Al-Quran, betapa proses tersebut sangat memayahkan, menyakitkan dan penuh perjuangan serta pengorbanan.
 
QS. Al-Ahqaf (46): 15
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."

Ya, setiap ibu pasti akan mengalami proses mengandung dan melahirkan dengan bersusah payah dimanapun seorang ibu itu berada dan tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan.

Setelah ibu melahirkan kita, coba perhatikan perjuangan seorang ibu di dalam merawat, menjaga, mendidik dan mengasihi kita dengan ikhlas. Dimulai saat kita terlahir ke dunia, kemudian di usia balita, lalu beranjak pada usia anak-anak, kemudian di usia remaja, lalu tumbuh dewasa yang kemudian menikah dan punya anak, lalu sampai saat ini saat anda membaca tulisan ini dan sampai kematian yang akan memisahkan kita dan ibu kita nanti.

Apakah semua proses itu dilakukan seorang ibu dengan pamrih atau meminta imbalan atas jasanya layaknya profesional meminta balasan atas jasa yang sudah ibu berikan?

Jelas tidak! Ibu bukan seorang profesional. Ibu adalah ibu yang tulus ikhlas memberikan itu semua tanpa mengharapkan sesuatu apapun dan kepada siapapun selain ridha Allah semata.

Banyak sekali ibu yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras membanting tulang demi keluarganya atau demi anaknya karena tulang punggung keluarganya (ayah)-nya telah tiada. Sambil menggendong anaknya, ibu tersebut bekerja keras tiada kenal lelah dan berputus asa demi kelangsungan hidup kita sebagai anaknya. Masyaallah, sungguh mulia hatimu ibu. Kami anakmu sangat berterimakasih kepadamu ibu... yang sudah mengandung dan melahirkan dengan bersusah payah, bahkan bisa jadi nyawamu sebagai taruhannya.

Setelah terlahirpun, kami anak-anakmu selalu menyusahkan dirimu. Di malam hari ibu terbangun hanya untuk memberikan ASI atau mengganti popok, saat kami menangis karenanya.

Atau saat kami masih balita dan dalam keadaan sakit, engkaulah ibu yang selalu merawat dan mendoakan serta menjaga kami supaya kami lekas sembuh.

Atau saat kami remaja, dimana ibu selalu menunggu dengan harap-harap cemas, karena misalnya kita telat sampai di rumah.

Suka dan duka, jatuh dan bangun, ujian dan cobaan yang silih berganti mewarnai kehidupan ini tidak pernah ibu keluhkan dan ikhlas engkau jalani dengan penuh kasih dan sayang, serta hanya ingin agar anak-anakmu menjadi anak yang berguna, saleh/salehah, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa.
 
QS. Lukman (31): 14
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
 
Ya, bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan kita hidup dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua kita karena atas peran kedua orang tua kita tersebut kita dapat merasakan hidup di dunia ini agar dapat berbuat banyak kebajikan yang Allah ridhai, terutama peran ibu yang telah melahirkan, merawat dan mendidik dengan tulus ikhlas tanpa pamrih yang selalu beliau berikan dan lakukan yang terbaik dengan sepenuh kasih dan sayangnya di sepanjang masa.

Ya, kasih ibu itu bagaikan sinar matahari yang selalu menerangi dunia. Seperti lagu berikut yang ketika kecil sering kita nyanyikan:

Kasih Ibu

Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menerangi dunia
 
· Kolaborasi Spesial Anggun dan Andien: "Kasih Ibu" 

https://youtu.be/L60x1C_zLEU

Dan jangan lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tua kita di sepanjang hayat kita, "Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku semenjak aku kecil".
 
Semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bishahwab.
 
Salam Hangat,
HNH
"Selamat hari ibu di setiap hari dan di sepanjang masa."

  • view 40