Bulan, Rahim dan Kehamilan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Desember 2017
Bulan, Rahim dan Kehamilan

BULAN, RAHIM DAN KEHAMILAN
Oleh: Hendro Noor Herbanto
 
Sesungguhnya segala ciptaan Allah yang terdapat di langit maupun di bumi dan apa yang ada di antara keduanya DIA ciptakan berdasarkan hukum yang haq atau pasti mengandung kebenaran yang mutlak dan diciptakan juga secara seimbang. Tidak ada yang sia-sia atas ciptaan Allah. Semuanya bermanfaat bagi kelangsungan semua makhluk-Nya di muka bumi, terutama makhluk bernama manusia yang telah diberikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani serta diberikan akal kecerdasan agar manusia mau memikirkan semua ciptaan Allah.
 
Kali ini kita sama-sama belajar dan berproses untuk memahami ciptaan Allah yang ada di langit yaitu bulan dan peredarannya serta yang ada di bumi yaitu proses penciptaan manusia yang ada di dalam rahim seorang perempuan (ibu).
 
Inspirasi tulisan kali ini bersumber dari ayat-ayat Al-Qur'an yaitu wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw yang diperintahkan untuk "membaca (iqra')" dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan proses penciptaan manusia yang berasal dari alaqah (segumpal darah). 
 
QS. Al-'Alaq (96): 1-2
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
 
Inspirasi juga datang dari kalimat "basmalah" yang jika di awal ayat surat Al-Alaq hanya menyebut nama Tuhan, akan tetapi di awal ayat surat Al-Fatihah ini yang disebut langsung adalah nama "Allah" Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
 
QS. Al-Fatihah (1): 1 
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
 
Ar-rahman dan ar-rahim sendiri ternyata mengandung hikmah petunjuk bagi para ulul albab untuk terus menggali ayat-ayat Qauliyah dan mencocokkan dengan ayat-ayat Kauniyah yang ada pada proses penciptaan manusia di dalam rahim dan peredaran bulan.
 
Ar-rahman dan ar-rahim berasal dari bahasa Arab dan mempunyai akar kata yang sama, yaitu "rahima" yang artinya "persaudaraan, ikatan darah atau hubungan kerabat.” Penamaan rahim pada peranakan seorang perempuan karena darinya kelak terlahir anak yang akan menerima limpahan kasih sayang dan kelembutan hati dari orang tuanya terutama dari ibunya dimana rahim berada.
 
Ya, setiap perempuan telah diberikan tempat untuk membesarkan benih cinta bersama pasangan halalnya yaitu rahim yang kokoh yang secara fisik letaknya ada di dalam perut. 
 
Allah sang pemilik semua kehidupan menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan. Ada langit sebagai atap terpelihara dan ada bumi sebagai tempat menetap. Ada malam untuk beristirahat dan ada siang untuk berusaha. Ada jantan berpasangan dengan betina. Ada laki-laki berpasangan dengan perempuan, dan kata berpasangan lainnya.
 
Di dalam kata rahman dan kata rahim pun terdapat setidaknya 2 kata yang berpasangan, yakni: 1) tersurat dan tersirat; dan 2) nyata dan gaib.
 
 
RAHMAN YANG TERSURAT DAN NYATA
 
Di dalam Al-Qur'an kata rahman ada dan tersurat serta menjadi salah satu nama surat yang ada pada urutan nomor ke-55, yakni surat Ar-Rahman, dimana ada satu ayat yang dibaca berulang kali sebanyak 31 kali yang berbunyi "Fabiayya aalaa i' rabbikumaa tukadzibaan - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan."
 
Ya, selalulah bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya sepanjang hayat seperti nikmat terlahir ke muka bumi, nikmat bernafas, nikmat sehat, nikmat berpasangan, nikmat berketurunan, dan nikmat-nikmat lainnya yang jika kita hitung satu per satu nikmat tersebut kita pasti tidak akan sanggup menghitungnya.
 
Allah Yang Maha Pemberi selalu mengasihi setiap makhluk hidup yang tinggal dan menetap di bumi ini tanpa terkecuali dan tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya menurut ukuran atau kadar yang dibutuhkan.
 
Selain tersurat kata rahman pun terdapat pada suara, warna dan rasa karena semua manusia yang telah diberikan panca indera seperti pendengaran, penglihatan dan hati. Atau dengan kata lain semua nikmat itu adalah tidak gaib alias nyata.
 
Seperti saat kita melihat peredaran bulan di malam hari. Bulan jika tidak ada sumber energi yang menerangi yaitu matahari maka bulan tidak bisa bercahaya. Cahaya Bulan ditangkap oleh mata manusia karena bulan memantulkan sinar matahari.
 
Matahari dan Bulan adalah dua benda yang ada di langit yang dengan peredarannya menjadi perhitungan waktu bagi pengamat yang berada di bumi. 
 
QS. Yunus (10): 5
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
 
Bumi berputar pada dirinya sendiri (rotasi) selama 24 jam membagi dua keadaan yakni malam dimana manusia bisa beristirahat dan siang dimana manusia bisa mencari karunia pada semua bagian bumi dan menghasilkan yang namanya hari.
 
QS. Al-Isra' (17): 12
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
 
Bulan menjadi dasar pembagi dalam setahun menjadi 12 bulan seperti yang tercantum dalam ayat berikut.
 
QS. At-Taubah (9): 36
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.
 
Dalam perhitungan kalender matahari/masehi/syamsiyah, satu tahun (365 hari) dibagi 12 akan menghasilkan jumlah hari rata-rata 30/31 hari dalam satu bulan.
 
Dan dalam perhitungan kalender bulan/hijriyah/qomariyah, satu tahun (354 hari) dibagi 12 akan menghasilkan jumlah hari rata-rata 29/30 hari dalam satu bulan.
 
Ya, setiap bulannya pada kalender hijriyah yaitu kalender yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan dan menurut pengamatan para ahli astronomi, setiap bulannya atau setiap 28 hari sekali, cahaya bulan dapat terlihat dari hilal (sabit tipis awal) ke hilal berikutnya (sabit tipis akhir) adalah selama 27 hari (bulan sideris) ditambah 1 hari atau hari ke-28 yaitu saat bulan tidak lagi memantulkan cahaya matahari karena posisinya membelakangi bumi atau cahaya bulan terjadi di sisi sebaliknya.
 
Patokan 28 hari inilah yang menjadi dasar dunia kedokteran untuk menghitung masa subur perempuan. Masa subur yaitu masa di saat indung telur sedang mengeluarkan sebutir telur yang siap dibuahi oleh sperma.
 
Menurut sistem kalender masa subur dengan siklus haid normal adalah saat berhenti haid sampai mendapatkan haid lagi berlangsung selama 28 hari. Lalu kapankah indung telur mengeluarkan sebutir telurnya setiap bulan sekali?
 
Karena penciptaan peredaran bulan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya sebagai perhitungan waktu bagi semua manusia yang pasti mengandung kebenaran bagi siapapun orangnya yang mau mengambil hikmah dan pelajaran dan Allah Yang Maha Adil menegakkan keseimbangan dari fase-fase bulan tersebut (fase-fase atau wajah-wajah bulan terjadi selama 28 hari), yaitu dengan membagi dua, hari ke-28 menjadi hari ke-14, lalu ditambahkan dan dikurangi sebanyak satu hari sehingga menghasilkan tiga hari dimana bulan terlihat bundar penuh atau bulan sedang mengalami purnama atau layaknya seperti sebutir telur yang sedang keluar dari indung telur perempuan.
 
28 : 2 = 14 
 
Hari ke-14 + & - 1 hari = hari ke 13, 14 & 15
 
Ilustrasinya adalah sebagai berikut:
 
Pada peredaran bulan:
 
|----bulan bercahaya---|    Bulan
1          13    14   15          27    28
|---------|-----|-----|---------|-----|
        Bulan Purnama             Mati
 
Pada siklus haid normal:
 
|------siklus haid normal-----| 
1          13     14     15               28
|----------|-----|-----|-------------|
       Tiga Hari Masa Subur
 
Ya, tanda kebesaran Tuhan pada saat terjadinya bulan purnama selama tiga hari (hari ke-13, 14 & 15) dan pada saat sebutir telur/ovum keluar dari indung telur diantara ketiga hari (hari ke-13, 14 & 15) setelah berhenti haid yang diceritakan kembali oleh-Nya pada kisah Nabi Zakaria yang meminta tanda dari Allah agar diberikan keturunan. Dan tandanya adalah 3 hari tersebut.
 
QS. Ali 'Imran (3): 41
Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Allah berfirman, "Tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama TIGA HARI, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari."
 
QS. Maryam (19): 10
Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." (Allah) berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama TIGA MALAM, padahal engkau sehat."
 
Dan tanda tiga hari inipun disarankan oleh Nabi Muhammad Saw untuk bersyahadat dan memperhatikan bulan saat purnama dan disunahkan untuk berpuasa setiap bulannya selama tiga hari di hari-hari putih yaitu di hari ke-13, 14 dan 15.
 
“Rasulullah Saw biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa TIGA HARI pada hari-hari putih  (ayyamul bidh) setiap bulannya yaitu   tanggal 13, 14 dan 15.” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”
(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434)
 
Ya, ternyata bulan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya yang "nyata" atau ayat-ayat Kauniyah sebagai perumpamaan bagi mereka yang beriman dan mau memikirkan serta sebagai petunjuk untuk memperoleh keturunan yang baik dari sisi-Nya seperti yang dialami sendiri oleh Nabi Zakaria dan istrinya saat dianugerahi anak yang bernama Yahya yang artinya "hidup".
 
 
RAHIM YANG TERSIRAT DAN GAIB
 
Rahim hanya dipunyai oleh seorang perempuan dan letaknya "gaib" atau tidak bisa terlihat dengan mata telanjang.
 
Rahim juga "tersirat" dalam Al-Qur'an karena tidak ada satu surat pun yang bernama surat Ar-Rahim. Rahim tersirat dalam surat mukadimah alias surat Al-Fatihah di ayat ke-1 dan ke-3 yang mempunyai arti "Yang Maha Penyayang".
 
Ya, kata rahim dimana benih calon bayi berkembang selama 9 bulan 10 hari hanya akan Allah anugerahkan kepada siapa yang DIA kehendaki tanpa perhitungan. Sudahkah kita memantaskan diri dihadapan-Nya untuk berkasih sayang kepada sesama dan alam sekitar kita?
 
Seperti kisah Nabi Zakaria sewaktu menjaga Siti Maryam yang masih perawan dan suci serta tidak pernah ada seorang laki-laki pun yang menyentuhnya, tetapi dikehendaki oleh Allah untuk mengandung Nabi Isa di dalam rahimnya.
 
QS. Ali-Imran (3): 37
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
 
Proses kehamilan dan adanya bermacam makanan di sisi Siti Maryam menjadi persaksian dan inspirasi Nabi Zakaria yang merasa sudah tua dan merasa juga bahwa istrinya mandul, untuk berdoa kepada Allah dengan lemah lembut dan penuh harap untuk memperoleh keturunan yang baik dari sisi-Nya.
 
QS. Ali-Imran (3): 40
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
 
QS. Maryam (19): 5
Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu,
 
QS. Ali-Imran (3): 38
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

Ya, selalulah berpikiran positif. Selalulah berkata yang bermuatan positif. Dan selalulah bertindak tanduk dengan hal yang positif, agar hasilnya pun bisa positif (tanda perempuan hamil umumnya ditandai dengan lambang (+) positif).
 
QS. Al-Anbiya (21): 90
Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
 
Tidak ada yang tidak bisa terjadi jika Allah sudah menghendaki. Bulan, rahim dan kehamilan pun sebagai tanda bukti bahwa menciptakan adalah haknya Allah dan DIA akan memberikan rahim-Nya kepada siapa yang DIA kehendaki tanpa perhitungan serta DIA pun menjadi saksi atas segala sesuatu.
 
QS. Fushshilat (41): 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
 
Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bishawab.
 
 
Ditulis @Cileungsi Bogor, 18 Desember 2017 / 30 Rabiul Awal 1439 H
 

Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.

 

  • view 289