Cahaya Bulan Bagai Tingkatan Dalam Kehidupan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Desember 2017
Cahaya Bulan Bagai Tingkatan Dalam Kehidupan

Cahaya Bulan Bagai Tingkatan Dalam Kehidupan
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Sesungguhnya, Allah pencipta yang paling baik dan sempurna. Tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Semua ciptaan-Nya membawa kemanfaatan bagi makhluk-Nya.

Sinar matahari, perkisaran angin, turunnya hujan yang membasahi bumi yang kering (mati) kemudian menyuburkan berbagai macam tanaman adalah beberapa ciptaan-Nya yang berguna. Juga daun yang jatuh ke tanahpun pasti ada manfaatnya. Kecuali "buih" yang mengambang, kemudian dibawa arus setelah turunnya hujan, seperti yang diinformasikan dalam ayat Al-Qur'an berikut ini.

QS. Ar-Ra'd (13): 17
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.

Setiap ciptaan-Nya juga mempunyai siklus hidup atau tingkatan dalam kehidupan. Manusia, hewan dan tumbuhan adalah makhluk hidup yang mempunyai siklus hidup yang sama. Berasal dari ketiadaan, kemudian terlahir ke muka bumi untuk menjalani proses hidup yang telah ditentukan umurnya, lalu akan berakhir siklus hidupnya pada kematian.

Semua yang hidup dan diciptakan oleh-Nya di bumi berasal dari air.

QS. Al-Anbiya (21): 30
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?

Demikian pula proses penciptaan manusia oleh Allah melalui pertemuan sperma ayah dan ovum (telur) ibu di dalam rahim yang kemudian menjadi alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim), lalu menjadi janin sampai menjadi calon bayi selama 9 bulan 10 hari yang kemudian siap dilahirkan menjadi seorang bayi.

Ya, setiap orang akan mengalami siklus hidup yang sama. Terlahir dari rahim seorang ibunya masing-masing, kemudian menjadi bayi, lalu balita, kemudian anak-anak, lalu ramaja, kemudian dewasa, lalu menikah dan mempunyai anak, kemudian menjadi tua, lalu berakhir siklus hidup pada kematian, seperti dijelaskan dalam ayat berikut.

QS. Al-Hajj (22): 5
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang siklus hidup atau tingkatan hidup manusia yang berasal dari air. Petunjuk-Nya tersebut bagaikan cahaya bulan purnama yang menerangi di tengah gelapnya malam.

Bulan mempunyai siklus hidupnya ketika ia mendapatkan sinar matahari dan memantulkannya ke arah bumi dimana manusia bisa melihat peredaran bulan setiap bulannya. Terlihatnya cahaya bulan sebagai lambang ia sedang hidup. Dan sebaliknya, ketika bulan tidak terlihat oleh pengamatan mata manusia padahal ia ada karena sinar matahari hanya terjadi di sisi sebaliknya sebagai lambang bulan sedang mati.

QS. Al-Insyiqaq (84): 18 -19
demi bulan apabila jadi purnama, sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Pada peredaran bulan mengelilingi bumi, bulan mempunyai fase-fase atau wajah-wajah dari terlihatnya hilal, kemudian terlihat sabit kecil, lalu membesar, kemudian menjadi bulan penuh atau sering disebut dengan bulan purnama, lalu mengecil cahayanya, kemudian menjadi bulan sabit kembali, lalu cahaya bulan menghilang yang sering dinamakan sebagai bulan yang sedang mati.

Ada tiga macam pola gerakan bulan sebagai benda langit dan satelit bumi, yaitu:

Pertama, rotasi bulan. Bulan berotasi pada dirinya sendiri dari arah barat ke arah timur. Satu kali putaran rotasi bulan sama dengan satu kali revolusinya. Akibatnya wajah bulan yang menghadap ke bumi relatif terlihat sama dimanapun manusia sebagai pengamat itu berada.

Kedua, revolusi bulan. Revolusi bulan adalah waktu yang ditempuh bulan dalam mengelilingi bumi dari arah barat ke arah timur. Rata-rata revolusi bulan adalah 27 hari 7 jam 43 menit dan 12 detik. Waktu rata-rata ini desebut sebagai satu bulan sideris.

Ketiga, bulan bersama dengan bumi mengelilingi matahari. Perjalanan bumi berevolusi mengelilingi matahari dengan membawa bulan sebagai satelitnya bumi, menghasilkan jumlah bulan dalam setahun sebanyak 12 bulan.

Ilustrasi peredaran bulan setiap bulannya:

|...1 bulan sideris...|..Bulan
|.bulan bercahaya.|...mati
1.....13...14...15....27   28
|........|......|......|........|......|
...Bulan Purnama...              

Dalam dunia kedokteran kita mengenal masa subur seorang perempuan dengan perhitungan sebagai berikut:

Hari ke-28 : 2 = Hari ke-14

Hari ke-14 (+/- 1 hari) = Hari ke 13, 14 & 15

Ya, hari ke-28 itulah yang menjadi dasar perhitungan siklus haid normal karena pada hari ke-28 adalah hari seorang perempuan mulai mendapatkan haid atau hari di mana wajah/fase bulan mulai tidak lagi mendapatkan cahayanya (sinar matahari).

Layaknya siklus perjalanan sebutir telur (ovum) yang mulai diproduksi indung telur saat haid seorang perempuan sudah terhenti (sudah mandi besar/junub) dan hari haid berhenti itulah sebagai perhitungan hari ke-1.

Hari ke-1 s/d hari ke-12, bulan mempunyai wajah/fase dari terlihatnya hilal, kemudian terlihat sabit kecil, lalu membesar membentuk 1/4 cahaya, kemudian 1/2 cahaya, lalu 3/4 cahaya dan terakhir wajah/fase bulan hampir bulat penuh cahayanya. Fase ini jika kita kaitkan dengan masa subur seorang perempuan adalah masa diproduksinya telur yang siap untuk dikeluarkan setelah hari ke-12.

Kemudian bulan menjadi penuh cahayanya atau sering disebut juga dengan bulan purnama yang terjadi di setiap hari ke-13, 14 & 15 pada kalender hijriyah/kalender qomariyah, dimana intensitas cahaya bulan antara 97% s/d 100%. Kaitan dengan 3 hari bulan sedang purnama adalah sama dengan sebutir telur yang sedang dikeluarkan oleh indung telur di antara ketiga hari tersebut, yakni hari ke-13, 14 & 15. Bentuk bulan yang sedang purnama layaknya bentuk telur sebagai perumpamaan dari-Nya agar di antara ketiga hari tersebut telur dapat dibuahi oleh sperma pasangannya.

Alam syahadat pada bulan purnama itulah yang Allah tampakkan secara tersirat kepada kita semua sebagai pengamat yang berada di bumi dan yang Allah suratkan pada kitab suci Al-Qur'an (ayat qauliyah) pada kisah Nabi Zakaria yang meminta "tanda" dari-Nya untuk diberikan keturunan.

QS. Ali-Imran (3): 41
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Allah berfirman, “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama TIGA HARI, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.”

Dan tandanya adalah "3 hari" saat bulan sedang purnama (hari ke-13, 14 & 15) dan "3 hari" pada masing-masing masa subur perempuan (hari ke-13, 14 & 15) yang dihitung dari berhentinya haid atau seorang perempuan sudah mandi besar/junub. Keduanya sebagai bentuk ayat kauniyah yang ada di alam makrokosmos (peredaran bulan) dan yang ada di alam mikrokosmos (dalam diri manusia).

Jika pada ketiga hari tersebut telur tidak dibuahi sperma, maka tidak terjadi pembuahan (tidak terjadi kehamilan) dan di hari ke-16 s/d Hari ke-27, penampakan yang bulan perlihatkan adalah sebaliknya setelah bulan purnama, yaitu cahayanya mulai berkurang intensitasnya dari bulat sempurna, kemudian menjadi bulan 3/4 cahaya, lalu 1/2 cahaya, kemudian 1/4 cahaya, lalu menjadi bulan sabit kembali dan terakhir bulan kehilangan cahayanya di hari ke-28 atau dinamakan juga sebagai bulan yang mati.

QS. Ya Sin (36): 39
Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

Siklus ini jika dikaitkan dengan siklus haid seorang perempuan adalah siklus haid yang normal setiap bulannya atau sering dinamakan juga dengan istilah "datang bulan". Datang bulan terjadi jika seorang perempuan sudah akil baligh yang ditandai dengan mulai keluarnya "darah kotor" sampai usia menopause yaitu saat indung telur sudah tidak memproduksi telur lagi.

Dan haid bisa berhenti saat seorang perempuan sudah menikah dan sperma pasangan halalnya berhasil membuahi telur (ovum) di "3 hari yang menentukan" yakni di antara hari ke-13, 14 & 15 setelah haid berhenti atau seorang perempuan sudah mandi besar/junub. Berhentinya haid selama 9 bulan 10 hari itulah yang dinamakan juga dengan berita gembira bagi pasangan laki-laki dan perempuan saat mendengar dari dokter bahwa hasilnya adalah "positif (+) hamil".

Ya, ternyata cahaya bulan saat purnama itulah tanda kebesaran-Nya buat siapapun orangnya yaitu para ulul albab yang mau memikirkan ciptaan-Nya. Dan Allah akan menunjukkan cahaya petunjuk-Nya dari gelapnya malam dengan memberi rezeki-Nya (keturunan) kepada siapa yang DIA kehendaki tanpa perhitungan.

»Sumber:
- Al-Qur'anulkarim - Al-Ihsan (Al-Qur'an Perkata Transliterasi). Penerbit Cordoba.
- Mengintip Bulan Sabit Sebelum Maghrib. Karya: Agus Mustofa. Penerbit Padmapress.
- Penanggalan Islam - Peradaban Tanpa Penanggalan, Inikah Pilihan Kita? Karya: Muh. Hadi Bashori. Penerbit Quanta.
- Jangan Asal Ikut-ikutan Hisab & Rukyat. Karya: Agus Mustofa. Penerbit Padmapress.
- DIA Dimana-mana - "Tangan" Tuhan Dibalik Setiap Fenomena. Karya: M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati & Pusat Studi Al-Qur'an.
- Miracle Of The Quran - Keajaiban Al-Qur'an Mengungkap Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern. Karya: Caner Taslaman (Peneliti dan Penulis Bestseller di Turki untuk Tema-Tema Filsafat Sains dan Sosiologi Agama). Penerbit Mizan.
- Nalar Ayat-Ayat Semesta - Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan. Karya: Agus Purwanto, D. Sc. (Ahli Fisika Teoritis, Lulusan Universitas Hiroshima, Jepang). Penerbit Mizan.

Semoga bermanfaat... Wallahu a’lam bishshawab

Salam hangat,
HNH

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 3 Desember 2017 / 14 Rabi'ul Awal 1439 di saat bulan sedang purnama penuh (full moon)

*Note:
Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.
 

  • view 26