Hidup Jangan Berlebihan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 September 2017
Hidup Jangan Berlebihan

Manusia adalah makhluk yang kosong yang penuh dengan keseimbangan. Kosong artinya tiada daya dan upaya melainkan hanya ada pertolongan Allah semata.

 
Kosong adalah sebuah 'potensi' untuk mengisi kekosongan dengan perbuatan baik dan buruk.
 
Kosong juga berpotensi untuk mengisi segala sesuatunya dengan tu7uh yang selalu berulang. Ada surat Al-Fatihah yang selalu berulang yang sedikitnya dibaca sebanyak 17 kali sehari di dalam shalat.
 
Ada tu7uh hari yang selalu berulang: Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at dan Sabtu.
 
Ada tu7uh suara yang selalu berulang, yaitu yang sering kita sebut sebagai 'tingkatan nada': 1 (Do), 2 (Re), 3 (Mi), 4 (Fa), 5 (Sol), 6 (La) dan 7 (Si).
 
Ada tu7uh warna yang selalu berulang, yaitu yang sering kita sebut sebagai 'warna pelangi': Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu, atau sering disingkat sebagai MeJiKuHiBiNiU. Dan tu7uh yang selalu berulang lainnya.
 
Manusia sebagai makhluk yang kosong pun pasti sudah, sedang dan akan merasakan semua kata yang 'berpasangan' dan juga kata yang 'berlawan', seperti berikut ini:
1. Sehat dan sakit
2. Waktu luang dan waktu sempit
3. Muda dan tua
4. Kaya dan miskin
5. Hidup dan mati
6. Malam dan siang
7. Cahaya dan gelap
8. Kebenaran dan kesalahan
9. Kebaikan dan Kejahatan
10. Kemanfaatan dan kemudharatan
11. Kesulitan dan kemudahan
12. Dan kata-kata lainnya yang menggambarkan dan menyuarakan kata berpasangan dan juga berlawanan.
 
Kita semua pun juga sudah, sedang dan akan merasakan yang namanya sunatullah/hukum-hukum Allah yang terhampar di langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri manusia itu sendiri.
 
Ada hukum resonansi, ada hukum gaya gravitasi, ada hukum sebab-akibat, ada hukum kekekalan energi dan sunatullah/hukum-hukum lainnya.
 
Menurut informasi Al-Qur'an dan pendapat para ilmuwan, penciptaan alam semesta pertama kali terjadi saat 'ledakan besar' (big bang). Dari ketiadaan menjadi keadaan dan nantinya kembali kepada ketiadaan lagi pada peristiwa hari Kiamat. Pada saat big bang, pertama kalinya lima unsur alam semesta terbentuk:
1. Energi
2. Materi
3. Ruang
4. Waktu
5. Informasi
 
Semua manusia yang hidup di muka bumi ini pasti tersusun dan ada di dalam kelima unsur tersebut serta sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidupnya.
 
Ya, manusia sebagai makhluk yang kosong dan penuh dengan keseimbangan akan selalu merasakan: 'tu7uh yang selalu berulang' apapun itu namanya, merasakan semua kata 'berpasangan dan berlawanan' apapun itu namanya, merasakan 'hukum-hukum/sunatullah-sunatullahnya' apapun itu namanya dan membutuhkan kelima unsur: energi-materi-ruang-waktu-informasi.
 
Penciptaan-penciptaan tersebut di atas menandakan bahwa ada Kekuasaan Yang Maha Dahsyat yang mendesain alam semesta ini. Dia tidak pernah tidur dan Dia setiap waktu dalam kesibukan. Dia Maha Melihat dan Dia Maha Mendengar. Dia Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
 
Penciptaan-penciptaan alam semesta tersebut juga berguna agar semua manusia yang sudah, sedang dan akan mengalami semua kondisi tersebut diatas bisa mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah diperbuatnya. Baik perbuatan yang membawa kebenaran-kebaikan-kemanfaatan maupun perbuatan sebaliknya yang membawa kesalahan-kejahatan-kemudaratan agar di hari penghisaban kelak tidak ada lagi protes atas apa yang sudah manusia usahakan dahulu di dunia.
 
Jika kita sudah tahu atas konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk yang akan diberi reward dan punishment berupa surga dan neraka, mengapa kita tidak memilih perbuatan yang baik saja daripada perbuatan yang buruk?
 
Hidup di dunia adalah pilihan. Pilihlah yang terbaik buat hidup kita setelah kita mati dan hidup abadi kelak di hari akhirat di surga yang penuh kenikmatan.
 
Memilih perbuatan yang baik pun janganlah berlebihan, karena kita manusia adalah makhluk yang kosong dan penuh keseimbangan.
 
Sebagai contoh jika kita sedang dalam kondisi sehat dan berdoa ingin selalu sehat. Apakah pantas doa tersebut kita panjatkan tanpa adanya 'usaha' untuk mempertahankan kesehatan kita dengan berolahraga dan memakan makanan yang sehat, halal dan baik serta tidak berlebihan. Jika tidak kita lakukan usaha tersebut, apakah pantas jika doa kita pun tidak akan dikabulkan oleh Allah.
 
Ya, sebaiknya kita berdoa ingin sehat jika kita dalam kondisi sakit saja. Jika sudah sehat sebaiknya agar dipertahankan kesehatan tersebut dengan berolahraga secara teratur dan memakan makanan yang baik dan halal serta tidak berlebihan.
 
Rasulullah saw sendiri adalah suri tauladan yang terbaik buat kita. Beliau adalah makhluk yang kosong dan penuh keseimbangan juga. Contohnya tentang makanan. Bagaimana beliau mengajarkan cara makan yang terbaik yaitu 'makan ketika sudah terasa lapar' dan 'berhenti makan ketika belum terasa kenyang'. Ya, itulah parameter makhluk yang bernama manusia.
 
QS. Al-A'raf (7): 31
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
 
Demikian juga dengan sakit. Janganlah berlebihan menghadapinya. Inginnya cepat sehat tetapi tidak sabar menghadapinya. Padahal sakit itu adalah penggugur dosa-dosa kita apabila kita tabah dan tawakal atas kesembuhannya kepada Allah saja.
 
Bukankah Dia yang memberikan kita hidup setelah kita mati? Bukankah sehat dan sakit sama dengan hidup dan mati? Bukankah sakit adalah kata berpasangan dan berlawanan dari kata sehat? Bukankah kita semua manusia pasti akan merasakannya?
 
Bagaimana dengan kata sabar? Mengapa kita tidak mempergunakan sabar di saat kita sakit? Inginnya lekas sembuh, tapi yang dilakukannya minta kesembuhan segera kepada 'dukun/orang pintar' yang selain Allah, bukan meminta kesembuhan hanya kepada Allah.
 
Puluhan juta, bahkan bermilyaran sudah dikeluarkan buat jasa orang pintar tersebut yang ternyata banyak orang telah tertipu oleh 'oknum' yang menamakan dirinya pintar, padahal mereka adalah orang-orang yang 'minteri' alias penipu.
 
Alangkah indahnya jika uang bermilyaran tersebut kita sedekahkan buat membantu fakir miskin dan anak yatim. Membantu yang lemah pada saat kita kuat secara financial.
 
Dan mengapa sabar tidak diiringi dengan yang namanya shalat atau dzikrullah (mengingat Allah). Fungsi utama dari shalat hanya ada dua, yaitu: mengingat Allah dan meminta tolong hanya pada Allah. Seperti ayat kelima surat Al-Fatihah yang selalu kita baca di dalam setiap rakaat shalat yaitu:
 
QS. Al-Fatihah (1): 5 
Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.
 
Ya, ternyata shalat pun harus dengan sabar menjalaninya. Dan bahkan di dalam shalat itu tidak ada yang namanya mencari kekhusyu'an, tidak ada yang namanya mencari rezeki, tidak ada yang namanya mencari kesehatan. Tetapi itu semua (khusyu', rezeki dan sehat) hanya ada di luar shalat lewat usaha (ikhtiar) kita dalam berproses dan berserah diri serta tawakal atas hasilnya hanya pada Allah semata.
 
Dan sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang kosong dan penuh keseimbangan, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal (ulul albab).
 
Siapakah orang-orang yang berakal itu? Yaitu kita semua ras manusia yang tinggal di muka bumi ini, orang-orang yang selalu mengingat Allah (dzikrullah) dan memikirkan tentang penciptaan Allah (tafakur) sambil berdiri (sehat), duduk dan berbaring (sakit) seraya berkata, "Tidak ada yang sia-sia atas ciptaan-Mu, ya Allah. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka-Mu.
 
Ingatlah! Setiap ibadah janganlah melampaui batas, karena kita adalah ras manusia yang mempunyai parameter yang sama yaitu makhluk yang kosong yang penuh dengan keseimbangan, yaitu seperti ilustrasi berikut ini:
 
·|-----|-----|·
-1.....0.....1
 
*Keterangan:
- Jika angka nol (0) adalah angka keseimbangan maka ia bertindak sebagai timbangan dan berada di tengah-tengah layaknya alat timbangan diantara angka 1 dan minus 1.
- Jika angka 1 dan minus 1 melebur jadi satu, maka akan saling meniadakan atau menghasilkan angka nol (0) atau dirumuskan: 1 - 1 = 0.
 
Dan jangan sampai kita dimasukkan ke dalam neraka-Nya jika ternyata kita 'lalai' atas semua tanda-tanda kebesaran-Nya yang terhampar di langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri kita sendiri dan tidak menyembah-Nya dengan tulus ikhlas hanya beribadah kepada Allah semata.
 
QS. Al-An'am (6): 162
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
 
Ya, hiduplah secara seimbang (merasa cukup) dan banyak bersyukur serta jangan berlebihan.
 
Semoga bermanfaat. Wallahu alam bishshawab.
 
Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Writerpreneur | Entrepreneur | Composer
 
Ditulis @Cileungsi Bogor - Indonesia
16 September 2017 / 25 Dzulhijjah 1438 H

  • view 112