DIA Membungkus Kemudahan Dengan Kesulitan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 04 September 2017
DIA Membungkus Kemudahan Dengan Kesulitan

Perjalanan manusia di bumi ini bersifat sementara, karena dunia dan seisinya hanyalah kehidupan yang fana dan penuh dengan senda gurau serta permainan belaka.
 
Sejarah kehidupan manusia berasal dari ketiadaan, kemudian manusia hadir di muka bumi ini melalui proses kelahiran dari rahim masing-masing ibu. Lalu manusia akan menemui ajalnya dan nantinya dibangkitkan kembali oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dahulu apakah akan mendapatkan surga ataukah neraka, sebelum semuanya kembali kepada Tuhan.
 
QS. Al-Baqarah (2): 28
"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan."
 
Setiap manusia tanpa terkecuali terlahir dalam keadaan telanjang bulat dan tidak mengetahui apapun sewaktu dilahirkan.
 
Tidak membawa suatu apapun baik harta maupun benda kecuali dibekali dengan potensi yang sudah ada dan melekat di diri manusia seperti akal, mata, telinga dan hati.
 
QS. An-Nahl (16): 78
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."
 
Dengan akalnya manusia bisa berpikir. Dengan matanya manusia bisa melihat. Dengan telinganya manusia bisa mendengar. Dan dengan hatinya manusia bisa memilih dan merasakan.
 
Semua potensi tersebut ada pada bayi yang baru lahir dan siap digunakan untuk proses kehidupan selanjutnya.
 
Bagaimanakah proses kehidupan selanjutnya itu? Apakah mudah dilalui dengan berdiam diri dan bermalas-malasan saja? Ataukah harus bekerja keras dan jatuh bangun untuk meraihnya?
 
Seperti yang Allah katakan di surat An-Nahl ayat 78 di atas, bahwa Allah mengeluarkan kita semua dalam perut ibu kita dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun.
 
Coba bayangkan saat seorang bayi sebelum di lahirkan. Calon bayi selalu berada di dalam rahim ibunya dengan kehangatan dan serba diberikan kemudahan agar bayi tetap tumbuh dan berkembang. Asupan makanan selalu tersedia pada air ketubannya.
 
Semuanya serba mudah dan serba tersedia agar calon bayi siap dilahirkan. Karena calon bayi tidak kuasa atas dirinya. Serba nyaman di dalam rahim dan sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas tidur.
 
Sekarang coba perhatikan saat bayi terlahir ke dunia ini. Yang awalnya nyaman dan serba mudah tersedia seperti asupan makanan maupun bernafas di dalam rahim melalui air ketuban, kini ia harus bernafas melalui hidung untuk menghirup oksigen di udara saat dilahirkan. Karena itu seorang bayi akan menangis sewaktu dilahirkan yang menandakan awal dimulainya babak baru berupa kesulitan setelah di dalam rahim mendapatkan berbagai kemudahan.
 
Awalnya, seorang bayi belum bisa berjalan atau belum tahu bagaimana caranya berjalan. Seiring dengan usia yang bertambah dan diajarkan oleh ibu dan ayahnya, seorang bayi mulai belajar merangkak, memegang tembok, jika jatuh ia akan bangun lagi sehingga akhirnya bisa berjalan.
 
Kesulitan dalam proses berjalan pun dilaluinya tanpa protes ataupun berkeluh kesah. Jalani saja proses kesulitan itu karena ia akan berganti dengan kemudahan yaitu yang akhirnya bisa berjalan. Sampai sekarang ini saat anda membaca tulisan ini, kita semua pasti sudah diberikan berbagai kemudahan dan sudah terbiasa berjalan. Bisa kemanapun arah yang hendak kita tuju.
 
Demikian juga saat kita berproses belajar naik sepeda. Pasti awalnya sulit. Harus jatuh dari sepeda sehingga dengkulnya luka berdarah. Dan sekarang lihat, kita bisa naik sepeda dengan mahirnya. Coba bayangkan jika kita tidak mau bersusah payah belajar bersepeda, pasti sekarang kita tidak bisa naik sepeda. Bahkan sepeda motor pun bisa kita kendarai dengan lancar dan seimbangan. Tidak ada seorangpun yang bisa mengendarai sepeda motor tanpa bersepeda pada awalnya.
 
Jadi hidup itu jangan diisi dengan bermalas-malasan. Hidup itu harus dijalani dengan kerja keras dan pantang menyerah. Kegagalan adalah hal yang biasa. Jatuh dan bangun akan selalu silih berganti mewarnai kehidupan ini. Teruslah asah kemampuan dan potensi diri agar selalu bangkit dari kegagalan dengan semangat yang membara.
 
Ya, semua manusia tanpa terkecuali dan tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan pasti diberikan kesulitan-kesulitan hidup yang berguna untuk dirinya di tahap dan proses kehidupan selanjutnya.
 
Seperti pepatah katakan, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Inilah kasih dan sayang Tuhan semesta alam yang memberikan hidup pada semua manusia tanpa membeda-bedakan warna kulit, jenis kelamin, suku dan bangsa agar bisa menghantarkan semua manusia ke akhir yang baik sebelum kembali kehadirat-Nya.
 
Siapapun orangnya yang ingin mengharapkan akhir yang baik, maka ia harus bisa menghadapi ujian dan cobaan serta melewati berbagai rintangan, tantangan, hambatan, kerja keras, pantang menyerah, jatuh bangun, bersakit-sakit, sabar, ikhlas, syukur, tawakal, istiqamah dan penuh dengan pengorbanan.
 
Allah hanya membungkus kemudahan dengan kesulitan agar manusia bisa menggunakan semua potensinya tersebut melalui akal, penglihatan, pendengaran dan hatinya di jalan yang benar, yang baik dan yang bermanfaat sebagai bekal terbaik untuk hidup kekal abadi di kehidupan selanjutnya yang penuh dengan kemudahan dan kenikmatan saat melihat wajah-Nya.
 
Q.S. Yunus (10): 26
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."
 
Semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bishahwab
 
Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Writerpreneur | Entrepreneur | Composer
 
Ditulis @Cileungsi Bogor - Indonesia
3 September 2017 / 12 Dzulhijjah 1438 H
 

Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.

 - See more at: http://hendronoorherbanto.com/dia-membungkus-kemudahan-dengan-kesulitan-detail-52504.html#sthash.rfWeyjOA.dpuf

  • view 47