Memahami Arti Berakal, Beriman Dan Bertakwa

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 03 September 2017
Memahami Arti Berakal, Beriman Dan Bertakwa

Semua manusia yang hidup dan lahir di muka bumi ini pada dasarnya dalam keadaan suci bersih tanpa dosa atau dalam keadaan fitrah.
 
Tadinya kita dalam keadaan tiada (mati). Kita terlahir ke dunia ini (hidup) karena peran kedua orang tua kita. Setelah mengalami berbagai macam drama kehidupan di dunia, kita semua pasti akan merasakan (mati) yang kedua kali. Bagaimana caranya, kapan terjadinya dan dimana kita mati, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Setelah itu kita pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan baik yang akan beroleh surga dan perbuatan buruk yang akan beroleh neraka, yang akhirnya kita semua pasti kembali kepada-Nya.
 
Segala sesuatu yang ada di langit maupun di bumi dan apa yang ada diantara keduanya merupakan 'grand design' dari Allah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.
 
Dia menciptakan hukum-hukum/sunatullah/ketetapan-Nya secara seimbang. Ada hukum kekekalan energi. Ada hukum sebab-akibat. Ada hukum gaya grafitasi dan lainnya.
 
Ada hukum tu7uh ayat yang berulang, yaitu surat Al-Fatihah. Ada hukum tu7uh suara yang berulang, yaitu Do (1), Re (2), Mi (3), Fa (4), Sol (5), La (6), Si (7). Ada hukum tu7uh warna yang berulang yang sering kita sebut sebagai warna pelangi, yaitu warna Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu atau yang sering kita sebut sebagai: Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U. Dan hukum-hukum/sunatullah lainnya.
 
Dia juga menciptakan segala sesuatunya dengan 'berpasangan dan berlawanan'. Ada baik-buruk. Ada malam-siang. Ada sabar-syukur. Ada kanan-kiri. Ada jatuh-bangun. Ada terang-gelap. Ada langit-bumi. Ada laki-laki-perempuan. Ada utara-selatan. Ada timur-barat. Ada kesulitan-kemudahan. Dan nama lainnya yang menggambarkan kata berpasangan dan berlawanan.
 
Selain itu, Dia juga menciptakan semua manusia di dunia ini dengan potensi yang luar biasa tanpa terkecuali. Ada otak untuk berpikir. Ada telinga untuk mendengar. Ada mata untuk melihat. Ada hati untuk merasakan. Ada tangan untuk melakukan/memegang. Ada kaki untuk berjalan. Dan fungsi lainnya yang ada pada diri semua manusia.
 
Kesemuanya ciptaan Allah tersebut diatas, diciptakan dengan maksud agar manusia bisa berfikir, bisa mendengar, bisa melihat, bisa merasakan semua hukum-hukum/sunatullah/ketetapan Allah. Bisa merasakan semua kata yang berpasangan dan semua kata yang berlawanan dengan potensi yang ada pada dirinya sendiri.
 
Hukum-hukum/sunatullah/ketetapan Allah, kata-kata berpasangan dan berlawanan, serta potensi yang ada pada diri manusia-pun berlaku tetap, seimbang dan tidak akan pernah berubah sedikitpun sejak pertama kali diciptakan Allah lewat ledakan besar atau 'Big Bang', sampai sekarang pada saat anda membaca tulisan ini dan sampai dihancurkan kembali oleh Allah pada hari akhir nanti, supaya nanti pada hari penghisaban, manusia tidak bisa mengelak dan protes atas apa yang ia perbuat di dunia dahulu, apakah mendapatkan surga akibat perbuatan baiknya ataukah beroleh neraka akibat perbuatan buruknya.
 
Sebelum manusia 'percaya' akan adanya Allah atas semua ciptaan-Nya yang terhampar pada langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, ada proses yang harus dilalui, diamati, dilihat, didengar dan dirasakan oleh semua manusia yang hidup di alam dunia ini dengan 'akalnya', sehingga apa yang semua manusia pikir, dengar, lihat dan rasakan secara berulang-ulang pada malam dan siang selama 24 jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun akan terpatri membekas dihatinya, sehingga apa yang diyakininya itu diharapkan membuahkan pemikiran, perbuatan dan kepahaman yang benar, baik dan membawa manfaat. Dan bukan pemikiran, perbuatan dan kepahaman yang salah, yang buruk dan membawa kemudharatan.
 
Kata keimanan/keyakinan berasal dari kata iman, yaitu tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan sebagai satu kesatuan yang utuh. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatannya adalah sama di dalam satu keyakinan. Maka orang-orang yang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakannya sama.
 
Menurut sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota."
 
Menurut istri nabi, Siti Aisyah r.a.: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota."
 
Menurut Imam al-Ghazali: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
 
Allah mengajari kita semua untuk memperoleh 'keimanan' dan mempertahankannya dengan cara menggunakan 'akal kecerdasan' dan bukti-bukti yang nyata yang Dia hamparkan pada ciptaan-Nya di langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya serta apa yang ada pada diri manusia itu sendiri.
 
Allah tidak pernah 'memaksa' manusia untuk beriman. Padahal sangat mudah bagi Allah untuk melakukan hal tersebut. Sehingga, jika ada manusia yang memaksa orang lain untuk mengikuti keimanan yang dianutnya, Allah mempertanyakan kewenangan orang tersebut.
 
Kita bebas memilih untuk beriman ataupun memilih kafir/tidak beriman, karena kita ditulari sifat Allah Yang Maha Berkehendak. Setiap pilihan ada resikonya masing-masing. Beriman atau tidaknya seseorang hanya atas izin Allah. Dia adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya, yang lahir maupun yang bathin, yang terlihat maupun yang tersembunyi, termasuk mengetahui isi hati setiap manusia, apakah benar seseorang sedang ingin beriman ataukah sekedar dikarenakan alasan yang lainnya.
 
Bahkan, Allah 'mengancam' akan menimpakan kemarahan kepada orang-orang yang tidak bisa/mau menggunakan akal dalam proses keimanannya.
 
Akal memahami semua ciptaan Allah melalui tafakur (memikirkan tentang semua ciptaan Allah) bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.
 
Kemudian langkah selanjutnya adalah meyakini sesuatu bahwa yang diyakininya (keimanan) itu 'membawa kebanaran' dan 'melakukan kebaikan' serta akhirnya 'membawa kemanfaatan bagi seluruh alam'.
 
QS. Al-Baqarah (2): 177
"KEBAIKAN itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi KEBAIKAN itu ialah orang yang BERIMAN kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang BENAR dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA."
 
Ya, dari proses berakal itulah kita mendapatkan keyakinan (beriman), sehingga diharapkan menjadi orang-orang yang dengan kemauannya dan kehendaknya sendiri dan tanpa paksaan, mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yaitu menjadi orang yang bertakwa.
 
Seperti ayat tentang puasa berikut ini yang sering kali di kutip pada saat bulan Ramadhan.
 
QS. Al-Baqarah (2): 183
"Wahai orang-orang yang BERIMAN! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu BERTAKWA."
 
Semoga kita semua bisa sama-sama belajar dan berproses untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada pada diri kita terutama potensi akal kecerdasan agar bisa memahami dengan hati semua ciptaan-Nya yang terhampar di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya supaya yakin bahwa ciptaan-Nya itu bermanfaat bagi manusia dan tidak ada yang sia-sia sehingga dengan kesadarannya sendiri mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
 
 
Semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bishahwab.
 
Salam hangat,
Hendro Noor Herbanto
Writerpreneur | Entrepreneur | Composer
 
Ditulis kembali @Cileungsi Bogor, 1 September 2017 / 10 Dzulhijjah 1438 H

- See more at: http://hendronoorherbanto.com/memahami-arti-berakal-beriman-dan-bertakwa-detail-12408.html#sthash.ht9VLOv9.dpuf

  • view 42