Memahami Dan Mengapresiasi Keberadaan Sang Waktu

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Agama
dipublikasikan 28 Mei 2017
Memahami Dan Mengapresiasi Keberadaan Sang Waktu

 


Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal saleh) dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.
QS. Al-Ashr (103): 1-3
 

 
Alhamdulillah kita semua berkesempatan dapat menjalankan kembali beribadah puasa di bulan mulia yaitu bulan Ramadan. Ibadah puasa Ramadan adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman agar menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti yang Allah perintahkan di dalam ayat berkut ini:

QS. Al-Baqarah (2): 183
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
 
Ya, berpuasa di bulan Ramadan adalah latihan bagi orang-orang yang beriman untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan akhirnya menjadi pribadi yang bertakwa seperti yang sudah diwajibkan atas orang-orang sebulum kita atau nenek moyang kita dahulu.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan kitab suci yang mulia, yaitu Al-Qur’an yang agung.

QS. Al-Baqarah (2): 185
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

QS. Al-Qadar (97): 1-5
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar (kemuliaan) . Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu Bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. 

Dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut di atas dapat kita pahami bahwa puasa wajib selama sebulan penuh sudah ditentukan waktunya dan juga waktu diturunkannya Al-Qur’an pertama kali ada di bulan Ramadan.

Berikut lima ayat yang pertama kali turun di Bulan Ramadan:

QS. Al-Alaq (96): 1-5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena (kalam). Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.

Kali ini kita sama-sama belajar untuk memahami dan mengapresiasi keberadaan sang waktu.

Waktu diciptakan Allah pada saat ledakan besar (big bang) berbarengan dengan penciptaan materi, energi dan ruang. Sebelum ledakan besar terjadi, tidak ada yang dinamakan materi, energi, ruang dan waktu. Jadi waktu sebelum ledakan besar dalam keadaan tidak bergerak alias diam atau nol (0).

Ya, setelah ledakan besar tersebut, waktu mulai bergerak dan terus berjalan ke masa depan melewati masa lalu dan hari ini. Berbagai peristiwa dan kejadian hadir di segala penjuru ruang langit dan bumi.

Menurut pendapat Anda, apakah waktu itu? Apakah waktu itu saat kita melihat ke arah jam tangan? Atau ke arah jam dinding? Atau ke arah jam digital yang ada di smartphone kita? 
 
Waktu adalah “sesuatu” yang meliputi semua benda, dari benda yang paling kecil sampai benda yang paling besar. Dan waktu akan memaksa segala benda tersebut menuju ke arah “penuaan”. Tanpa kita sadari waktu terus berlalu menuju masa depan dan mempunyai parameter menuju kebinasaan atau masa tua atau masa kehancuran.

Sebagai contoh dalam hal penciptaan manusia. Manusia tadinya tiada, kemudian diciptakan oleh Allah melalui peran ayah dan ibu sehingga terlahirlah kita. Setelah melalui berbagai masa seperti bayi, balita, kanak-kanak, remaja, dan dewasa, kemudian menikah dan punya anak, lalu akan menuju kepada usia yang tua renta. Dari ketiadaan menjadi ada dan kelak akan tiada kembali. Dari kulit yang masih mulus menjadi keriput lalu hancur menjadi tanah kembali.

Dalam hal makanan maupun minuman pun akan mengalami hal yang sama. Makanan seperti sayuran atau buah-buahan yang masak jika tidak dimanfaatkan atau diolah manusia akan mengalami kondisi yang tidak segar lagi dan lama-lama akan membusuk menuju kehancurannya. Minuman pun demikian, misalnya minuman susu, dari yang tadinya segar bisa menjadi berbau lalu menjadi basi.

Di dalam Al-Qur’an, Allah sudah berjanji dengan waktu:
 
QS. Al-Ashr (103): 1-3
Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal saleh) dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.

Ya, waktu jika tidak kita apresiasi dan pergunakan untuk hal-hal yang benar, yang baik dan bermanfaat, maka kerugianlah yang akan kita dapatkan. Waktu tidak pernah kembali ke masa lalu, ia akan terus bergerak melindas segala peristiwa, kejadian maupun umur seseorang menuju penuaan.

Dan hanya manusia-manusia yang beriman sajalah dan yang mau mengusahakan untuk berbuat amal saleh, berkarya yang baik dan bekerja keras tidak hanya untuk dirinya sendiri atau untuk keluarganya saja, melainkan untuk kebaikan bersama seluruh manusia yaitu dengan cara saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran yang akan beruntung.

Untuk bisa “melakukan kebenaran”, manusia sebagai makhluk materi membutuhkan asupan energi yang berasal dari makanan dan minuman seperti daging, ikan, susu, air, telur, buah-buahan dan sayur-sayuran serta berolahraga secara teratur. Tanpa adanya usaha tersebut, maka bisa dipastikan usia manusia akan lebih cepat berakhir menuju kematiannya tanpa harus menjadi tua terlebih dahulu.

Dan untuk bisa “melakukan kesabaran” di saat sedang diuji dan dicoba oleh Allah, manusia membutuhkan keberadaan sang waktu dan berbagai peristiwa yang menyertainya agar tetap berusaha menghadapi semua itu dengan semangat pantang menyerah, jika jatuh ia akan bangkit kembali, tegar, dan ikhlas hingga  waktu itu sendiri yang akan menjawab hasil dari kesabarannya.

Melakukan kebaikan diperlukan usaha yang diibaratkan sebagai sedang mendaki ke atas gunung. Sebaliknya melakukan keburukan tidak membutuhkan usaha, ia akan menggelinding begitu saja dari atas gunung. Inilah yang dinamakan dengan amal saleh.

Amal saleh (melakukan kebaikan) harus dibarengi dengan kesabaran dalam menjalaninya. Ia butuh kesengajaan, usaha dan kesabaran. Bagi orang-orang yang tidak sabaran, pasti akan sulit berbuat amal saleh. Cenderung tergesa-gesa dalam bertindak dan tidak tahan diuji dan dicoba oleh-Nya. Sangat jauh dari makna kesabaran.

Lalu, kapankah waktu yang tepat untuk melakukan banyak kebaikan dan amal saleh yang akan dibalas berlipat-lipat ganda besarnya oleh Allah?

Ya, di Bulan Ramadan inilah waktunya, karena di Bulan inilah Allah SWT melimpahkan berbagai karunia dan mengganjar amal saleh dan kesabaran dengan melipatgandakan pahala, memberikan kebaikan di  dunia dan kebaikan di akhirat nanti, serta dijauhkan dari siksa api neraka.

Marilah kita sama-sama belajar dan berproses untuk memahami betapa penting dan berharganya waktu dan mengapresiasinya dengan berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya serta saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Semoga bermanfaat…. wallahu a’lam bishshawab
 
Ditulis Kembali @Cileungsi Bogor, 27 Mei 2017 / 1 Ramadan 1438 H
 
 

Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.

 

  • view 87