Bunga Matahari Pun Tunduk Berserah Diri

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Mei 2017
Bunga Matahari Pun Tunduk Berserah Diri

-------¥-------
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.
[QS. Al-Isrā (17): 44]
-------¥-------
 
Matahari adalah sumber kehidupan semua makhluk hidup yang tinggal di bumi. Dengan sinarnya tumbuhan bisa berfotosintesis, pergerakan angin dan awan, dan terjadinya hujan, serta lainnya seperti mengeringkan pakaian sehabis mencuci. Menghasilkan bahan bakar untuk energi dari minyak bumi, gas dan batubara adalah proses dari energi yang tersimpan secara tidak langsung dari sinar matahari.
 
Matahari juga berguna menentukan perhitungan waktu sehingga menghasilkan kepastian waktu seperti hari, bulan dan tahun (kalender). Siang dan malam terjadi karena bumi berputar mengelilingi matahari. Wajah-wajah/fase-fase cahaya bulan juga terjadi akibat disinari matahari.
 
Tahukah Anda jika ada tanaman yang selalu mengikuti kemanapun sinar matahari pergi dari terbit di ufuk timur sampai terbenamnya di ufuk barat yang namanyapun sama dengan yang diikutinya? Ya, dialah bunga matahari yang dimaksud.
 
Bunga matahari (Helianthus annuus), baik daun maupun bunganya bersifat heliotropis, yaitu selalu mengikuti datangnya cahaya/sinar matahari. Ia menyimpan hormon auxin yang mengatur pertumbuhan. Jumlah auxin biasanya lebih banyak di sisi yang jauh dari sinar matahari yang menyebabkan batang bunga matahari akan tumbuh ke arah sinar matahari. Meskipun demikian, hanya bunga matahari yang sudah mekar secara penuh saja yang tidak lagi bersifat heliotropis, akan tetapi selalu menghadap ke arah timur sebagai perlambang menanti datangnya cahaya (petunjuk) mengganti gelapnya malam.
 
Perumpamaan dari bunga matahari yang dapat kita ambil hikmah dan pelajaran adalah tibanya waktu-waktu shalat wajib lima waktu yang selalu mengikuti pola perubahan gerakan posisi matahari setiap harinya.
 
Shalat merupakan interaksi seorang hamba yang beriman kepada Tuhan seluruh alam yang telah ditentukan waktunya.
 
QS. An-Nisā (4): 103
.... Sungguh, SHALAT itu adalah KEWAJIBAN YANG DITENTUKAN WAKTUNYA atas orang-orang yang beriman.
 
Berikut ini adalah waktu-waktu shalat wajib lima waktu:
 
Shalat Subuh. Dimulai saat terbitnya fajar shadiq dan berakhir saat matahari terbit. Fajar shadiq secara astronomi dapat dipahami dengan mulai munculnya seberkas cahaya di ufuk timur menjelang matahari terbit, yaitu saat matahari berada dikisaran 18 derajat di bawah horizon.
 
Pada ayat 49 surat Ath-Thur disebutkan masuknya waktu Subuh ialah saat terbenamnya bintang-bintang.
 
QS. Ath-Thūr (52): 49
dan pada sebagian malam BERTASBIHLAH kepada-Nya dan (juga) pada waktu TERBENAMNYA BINTANG-BINTANG (pada waktu fajar).
 
Dan berakhirnya waktu subuh adalah saat terbitnya matahari (syuruq).
 
QS. Qāf (50): 39
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan, dan BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu SEBELUM MATAHARI TERBIT dan sebelum terbenam.
 
Shalat Zuhur. Menurut Al-Quran, waktu Zuhur adalah saat tergelincirnya matahari pada tengah hari. 
 
QS. Al-Isrā (17): 78
Laksanakanlah salat SEJAK MATAHARI TERGELINCIR sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
 
Menurut para ahli astronomi, masuknya waktu Zuhur dinamakan dengan kulminasi, yaitu waktu condongnya matahari dari meridian atas dengan penambahan waktu sekitar dua menit. Waktu meridian adalah waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam.
 
Shalat Ashar. Dasar yang menjadi acuan dalam menentukan masuknya waktu Ashar ada di dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, Nasai, dan Tarmidzi dari Jabir ra., saat Nabi saw., diajak shalat Ashar oleh Malaikat Jibril ketika panjang bayangan suatu benda sama dengan tinggi benda sebenarnya. Dan keesokan harinya Nabi kembali diajak Malaikat Jibril untuk shalat Ashar ketika panjang bayangan suatu benda dua kali tinggi benda sebenarnya.
 
Shalat Maghrib. Masuknya waktu Maghrib adalah saat tenggelamnya matahari di ufuk barat dimana saat tersebut adalah permulaan malam terjadi. 
 
Untuk penentuan mulainya shalat Maghrib biasanya ditambahkan dua menit setelah matahari terbenam, karena ada larangan melakukan shalat tepat saat matahari terbit dan terbenam atau saat kulminasi atas.
 
QS. Hūd (11): 114
Dan laksanakanlah salat PADA KEDUA UJUNG SIANG (pagi dan PETANG) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). 
 
Shalat Isya. Masuknya waktu Isya ditandai dengan memudarnya cahaya merah di ufuk barat dan berganti dengan gelapnya malam.
 
QS. Al-Isrā (17): 78
Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir SAMPAI GELAPNYA MALAM dan (laksanakan pula salat) subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
 
Dimulainya dan berakhirnya waktu Isya menurut Imam Abu Hanifah adalah dengan hilangnya cahaya putih sampai datangnya waktu fajar shadiq (masuknya waktu Subuh). Di dunia astronomi masuknya waktu Isya dikenal juga sebagai akhir senja astronomi (astronomical twilight).
 
Waktu-waktu Shalat Wajib Menurut Hadits
Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, "Bangunlah dan lakukan shalat." Maka beliau melakukan shalat Zuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Subuh menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Subuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan Tarmidzi)
 
Ya, ternyata bunga matahari pun tunduk berserah diri untuk bertasbih mengikuti cahaya sang sumber energi bagi seluruh kehidupan di muka bumi sebagai perumpamaan bagi manusia untuk berserah diri mengingat-Nya di dalam masuknya waktu-waktu shalat wajib. Subhanallah, tiada yang sia-sia atas ciptaan-Mu ini ya Allah. 
 
Sumber:
 
 
Semoga bermanfaat... Wallahu a’lam bishshawab
 
Salam hangat,
HNH
 
Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 2 Mei 2017 / 5 Sya'ban 1438 H
 
Note:
Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.
 
- See more at: http://hendronoorherbanto.com

  • view 147