Datang Bulan Sebagai Tanda Kesuburan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Renungan
dipublikasikan 24 April 2017
Datang Bulan Sebagai Tanda Kesuburan

Ada yang menarik perhatian saya dengan istilah “datang bulan” yang ternyata ada hubungan yang sangat erat dengan “peredaran bulan” mengelilingi bumi, dimana dalam peredarannya tersebut bulan mempunyai fase-fase atau wajah-wajah dari terlihatnya hilal, kemudian terlihat sabit kecil, lalu membesar, kemudian menjadi bulan penuh atau sering disebut dengan bulan purnama, lalu mengecil cahayanya, kemudian menjadi bulan sabit kembali, lalu cahaya bulan menghilang yang sering dinamakan sebagai bulan yang mati (bulan baru).
 
Hidupnya bulan adalah saat ia bercahaya yaitu memantulkan sinar matahari ke arah bumi. Sedangkan matinya bulan adalah saat ia tidak dapat memantulkan sinar matahari karena terhalang oleh bayangan bumi.
 
Ada tiga macam pola gerakan bulan sebagai benda langit dan satelit bumi, yaitu:
 
Pertama, rotasi bulan. Bulan berotasi pada dirinya sendiri dari arah barat ke arah timur. Satu kali putaran rotasi bulan sama dengan satu kali revolusinya. Akibatnya wajah bulan yang menghadap ke bumi relatif terlihat sama dimanapun manusia sebagai pengamat itu berada.
 
Kedua, revolusi bulan. Revolusi bulan adalah waktu yang ditempuh bulan dalam mengelilingi bumi dari arah barat ke arah timur. Rata-rata revolusi bulan adalah 27 hari 7 jam 43 menit dan 12 detik. Waktu rata-rata ini desebut sebagai satu bulan sideris.
 
Ketiga, bulan bersama dengan bumi mengelilingi matahari. Perjalanan bumi berevolusi mengelilingi matahari dengan membawa bulan sebagai satelitnya bumi, menghasilkan jumlah bulan dalam setahun sebanyak 12 bulan.
 
Ketiga gerakan tersebut menghasilkan bulan sebagai perhitungan, baik sebagai perhitungan waktu atau kalender maupun sebagai perhitungan masa subur diantara dua siklus haid yang dialami perempuan.
 
Informasi tentang ketiga gerakan bulan tersebut juga difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an seperti dalam ayat-ayat berikut:
 
QS. Al-Baqarah (2): 189
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang BULAN SABIT. Katakanlah, “ITU ADALAH (PENUNJUK) WAKTU BAGI MANUSIA dan (ibadah) haji."….
 
QS. Al-An’aam (6): 96
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan BULAN UNTUK PERHITUNGAN. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
 
QS. At-Taubah (9): 36
Sesungguhnya JUMLAH BULAN menurut Allah ialah DUA BELAS BULAN, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi,….
 
QS. Yunus (10): 5
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan BULAN BERCAHAYA, dan Dialah yang menetapkan TEMPAT-TEMPAT ORBITNYA, agar kamu mengetahui BILANGAN TAHUN, dan PERHITUNGAN (WAKTU). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
 
QS. Yaasin (36): 39
Dan telah Kami tetapkan TEMPAT PEREDARAN BAGI BULAN, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
 
 
Wajah Bulan Yang Selalu Berubah
 
Matahari selalu tampak bundar, baik ketika terbit di timur maupun terbenam di barat. Demikian pula ketika matahari tepat di posisi tertinggi. Pada posisi tersebut, matahari sulit dilihat dan sebaiknya kita tidak melihat matahari secara langsung karena dapat menyebabkan kebutaan. Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan media air ketika melihat bayangan matahari di siang hari. Bayangan matahari tersebut terlihat bundar. Ya, matahari selalu terlihat bundar di setiap keadaan (pagi, siang dan sore hari).
 
Bulan tidak selalu dapat dilihat bundar meskipun pada malam hari. Suatu waktu, bulan berbentuk lengkungan tipis. Penampakan ini jelas tidak menggambarkan bentuk bulan sebenarnya. Bulan selalu berevolusi dimulai dari tidak ada, kemudian lahir dalam bentuk garis halus yang melengkung dan terus membesar sampai berbentuk bundar purnama selama beberapa malam (biasanya selama tiga hari), dan menjadi mengecil kembali yaitu berbentuk lengkungan tipis lagi, dan kemudian lenyap (bulan mati/bulan yang tidak mendapat sinar matahari karena terhalang bayangan Bumi).
 
 
Terjadinya Datang Bulan (Haid)
 
Setiap perempuan akan mengalami masa akhil baliq dengan ditandai keluarnya darah haid pertama kali di usia antara 12 – 14 tahun. Selain itu alat reproduksi juga sudah mulai bekerja dengan ditandai bekerjanya hormon-hormon. Setiap bulan di antara dua siklus haid (28 hari), sebutir telur keluar dari indung telur perempuan. Jika telur tersebut tidak dibuahi sperma laki-laki, maka telur tersebut akan hancur lalu mengeluarkan darah atau sering disebut dengan haid atau “darah kotor”. Sebaliknya jika telur perempuan bertemu dengan sperma laki-laki dan terjadi pembuahan di dalam rahim, maka haid akan berhenti sementara selama sembilan bulan kedepan sampai calon bayi siap dilahirkan ke dunia.
 
Ya, selama seorang perempuan masih mendapatkan haid yang dimulai dari haid pertama kali sampai indung telur tidak lagi memproduksi telur/ovum (menopause), selama itu pula seorang perempuan dalam kondisi subur dan siap bersinergi dengan pasangan halalnya melalui pembuahan untuk bisa mendapatkan anak/keturunan.
 
 
Siklus Peredaran Bulan = Siklus Haid Perempuan
 
Menurut pengamatan para ahli astronomi, setiap bulannya atau setiap 28 hari sekali, cahaya bulan dapat terlihat dari hilal (sabit tipis awal) ke hilal berikutnya (sabit tipis akhir) adalah selama 27 hari (bulan sideris) ditambah 1 hari yaitu saat bulan tidak lagi memantulkan cahayanya akibat sinar matahari terhalang oleh bayangan bumi. 
 
Patokan 28 hari inilah yang menjadi dasar dunia kedokteran untuk menghitung masa subur perempuan. Masa subur yaitu masa di saat indung telur sedang mengeluarkan sebutir telur yang siap dibuahi oleh sperma.
 
Menurut sistem kalender masa subur dengan siklus haid normal adalah saat berhenti haid sampai mendapatkan haid lagi berlangsung selama 28 hari. Lalu kapankah indung telur mengeluarkan sebutir telurnya setiap bulan sekali?
 
 
Diciptakan Menurut Hukum Keseimbangan
 
Apa yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Tuhan ciptakan dengan kebenaran. Diciptakan secara berpasangan seperti langit dan bumi, malam dan siang, laki-laki dan perempuan, dan lain sebagainya serta diciptakan dengan hukum keseimbangan. 
 
QS. Al-Hijr (15): 85 
Dan Kami tidak MENCIPTAKAN LANGIT dan BUMI serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan KEBENARAN...
 
QS. Āli 'Imrān (3): 190
Sesungguhnya dalam PENCIPTAAN LANGIT dan BUMI, dan pergantian MALAM dan SIANG terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
 
QS. Fatir (35): 11
Dan Allah MENCIPTAKAN kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu BERPASANGAN (LAKI-LAKI dan PEREMPUAN). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
 
QS. Ar-Rahmān (55): 5-9
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).  Dan langit telah ditinggikan-Nya dan DIA CIPTAKAN KESEIMBANGAN,  agar kamu JANGAN MERUSAK KESEIMBANGAN itu. Dan TEGAKKANLAH KESEIMBANGAN itu DENGAN ADIL dan JANGANLAH kamu MENGURANGI KESEIMBANGAN itu.
 
Keseimbangan dapat terjadi bila sisi kanan dan sisi kiri mempunyai jumlah yang sama atau kedua sisinya saling meniadakan sehingga menghasilkan angka nol.
 
1 = 1   atau   1 - 1 = 0
 
Contoh konkretnya adalah terjadinya malam dan siang yang dirasakan setiap manusia yang lahir, hidup, menetap dan mati dimanapun manusia itu berada tanpa terkecuali dan tanpa membeda-bedakan status, suku, agama, ras dan antargolongan untuk bisa beristirahat dan berusaha.
 
Malam dapat terjadi karena ada bagian bumi yang tidak mendapatkan sinar matahari. Sebaliknya siang dapat terjadi karena bagian bumi lainnya mendapatkan sinar matahari. Sehari-semalam ditandai dengan berlalunya waktu selama 24 jam. Dan hukum keseimbangan yang Allah tegakkan dalam penciptaan malam dan siang hari adalah dengan membagi bumi menjadi dua bagian, yaitu malam dan siang masing-masing terjadi sebanyak 12 jam.
 
24 : 2 = 12
 
Demikian pula dengan perumpamaan pada saat bulan mati adalah sama dengan saat perempuan mendapatkan haid. Saat bulan mendapatkan sinar matahari dan memantulkan cahayanya ke bumi adalah selama 27 hari dan di hari ke-28 adalah hari dimana bulan tidak lagi mendapatkan sinar matahari akibat terhalang bayangan bumi.
 
Karena penciptaan peredaran bulan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya sebagai perhitungan waktu bagi semua manusia yang pasti mengandung kebenaran bagi siapapun orangnya yang mau mengambil hikmah dan pelajaran dan Allah Yang Maha Adil menegakkan keseimbangan dari fase-fase bulan tersebut (fase-fase atau wajah-wajah bulan terjadi selama 28 hari), yaitu dengan membagi dua, hari ke-28 menjadi hari ke-14, lalu ditambahkan dan dikurangi sebanyak satu hari sehingga menghasilkan tiga hari dimana bulan terlihat bundar penuh atau bulan sedang mengalami purnama atau layaknya seperti sebutir telur yang sedang keluar dari indung telur perempuan.
 
28 : 2 = 14 
 
Hari ke-14 + & - 1 hari = hari ke 13, 14 & 15
 
Ilustrasinya adalah sebagai berikut:
 
Pada peredaran bulan:
 
|-------bulan bercahaya------|       Bulan
1            13    14    15              27       28
|----- -----|-----|-----|------------|-------|
             Bulan Purnama                   Mati
 
Pada siklus haid normal:
 
|-----------siklus haid normal-----------| 
1                    13     14     15                  28
|----------------|------|------|----------------|
              Tiga Hari Masa Subur
 
 
Ya, tanda kebesaran Tuhan pada saat terjadinya bulan purnama selama tiga hari (hari ke-13, 14 & 15) dan pada saat sebutir telur/ovum keluar dari indung telur diantara ketiga hari (hari ke-13, 14 & 15) setelah berhenti haid yang diceritakan kembali oleh-Nya pada kisah Nabi Zakaria yang meminta tanda dari Allah agar diberikan keturunan. Dan tandanya adalah 3 hari tersebut.
 
QS. Āli 'Imrān (3): 41
Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Allah berfirman, "Tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama TIGA HARI, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari."
 
QS. Maryam (19): 10
Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." (Allah) berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama TIGA MALAM, padahal engkau sehat."
 
Dan tanda tiga hari inipun disarankan oleh Nabi Muhammad Saw untuk memperhatikan bulan saat purnama dan disunahkan untuk berpuasa setiap bulannya selama tiga hari di hari-hari putih yaitu di hari ke-13, 14 & 15.
 
“Rasulullah Saw biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa TIGA HARI pada hari-hari putih (ayyamul bidh) setiap bulannya yaitu tanggal 13, 14 dan 15.” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”
(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434)
 
Ya, ternyata datang bulan itu adalah salah satu tanda kebesaran-Nya buat siapapun orangnya yaitu para ulul albab yang mau memikirkan ciptaan-Nya. Dan datang bulan itu adalah tanda kesuburan bagi setiap perempuan.
 
»Sumber:
  1. Al-Qur'anulkarim - Al-Ihsan (Al-Qur'an Perkata Transliterasi). Penerbit Cordoba.
  2. Mengintip Bulan Sabit Sebelum Maghrib. Karya: Agus Mustofa. Penerbit Padmapress.
  3. Penanggalan Islam - Peradaban Tanpa Penanggalan, Inikah Pilihan Kita? Karya: Muh. Hadi Bashori. Penerbit Quanta.
  4. Jangan Asal Ikut-ikutan Hisab & Rukyat. Karya: Agus Mustofa. Penerbit Padmapress.
  5. DIA Dimana-mana - "Tangan" Tuhan Dibalik Setiap Fenomena. Karya: M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati & Pusat Studi Al-Qur'an.
  6. Miracle Of The Quran - Keajaiban Al-Qur'an Mengungkap Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern. Karya: Caner Taslaman (Peneliti dan Penulis Bestseller di Turki untuk Tema-Tema Filsafat Sains dan Sosiologi Agama). Penerbit Mizan.
  7. Nalar Ayat-Ayat Semesta - Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan. Karya: Agus Purwanto, D. Sc. (Ahli Fisika Teoritis, Lulusan Universitas Hiroshima, Jepang). Penerbit Mizan.
 
 
Semoga bermanfaat... Wallahu a’lam bishshawab
 
Salam hangat,
HNH
 
Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 23 April 2017 / 26 Rajab 1438
 
Note:
Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.

- See more at: http://hendronoorherbanto.com/datang-bulan-sebagai-tanda-kesuburan-detail-46443.html#sthash.s1a3WQGl.dpuf

  • view 137