Dan Surat Al-Ikhlas Pun Tidak Ada Kata Ikhlasnya

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 28 Juni 2016
Dan Surat Al-Ikhlas Pun Tidak Ada Kata Ikhlasnya

Dan Surat Al-Ikhlas Pun Tidak Ada Kata Ikhlasnya
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda Kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.
 
Yaitu orang-orang yang selalu memikirkan tentang penciptaan Allah (tafakur) sambil berdiri, duduk dan berbaring dan selalu mengingat Allah (dzikrullah) pada pagi, siang, sore dan malam hari, bahwasanya tiada yang sia-sia atas semua ciptaan-Nya yang terhampar di langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri manusia itu sendiri.
 
Kali ini kita sama-sama belajar untuk memahami tentang surat Al-Ikhlas, yaitu surat yang termasuk surat pendek di dalam Al-Qur'an, dimana surat ini seringkali kita baca dalam shalat dan keutamaan surat tersebut buat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari untuk beribadah dengan ikhlas tanpa pamrih.
 
Manusia adalah makhluk yang kosong, makhluk yang ketika terlahir ke muka bumi dari peran seorang ibu adalah dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa atau terlahir secara fitrah.
 
Selain sebagai makhluk yang kosong, manusia juga bisa disebut sebagai makhluk yang penuh keseimbangan. Keseimbangan dapat terjadi jika antara sisi positif dan sisi negatif saling meniadakan (1 - 1 = 0). Atau keseimbangan terjadi jika ada suatu timbangan yang diberi berat yang sama di sisi kanan dan kiri timbangan (-1 < 0 > 1).
 
Kita semua manusia yang terlahir ke muka bumi ini adalah manusia-manusia sebagai makhluk yang  kosong dan penuh dengan keseimbangan.
 
Kita semua akan merasakan mati sebanyak dua kali dan merasakan hidup juga selama dua kali. Tadinya kita belum ada (mati yang pertama) dan sekarang sedang mengalami hidup di dunia (hidup yang pertama).
 
Kapan, dimana, bagaimana, usia berapa dan sedang apa kita nanti mati setelah hidup di dunia (mati yang kedua), hanya Allah Yang Maha Mengetahui, apakah kita akan sendiri-sendiri matinya ataukah bersama-sama matinya dengan seluruh alam semesta pada Hari Kiamat.
 
Setelah itu kita semua akan di bangkitkan (hidup yang kedua) untuk dihisab atas perbuatan baik dan buruk kita di dunia dahulu, apakah mendapatkan reward berupa surga yang penuh kenikmatan ataukah mendapatkan punishment berupa neraka yang penuh kesengsaraan.
 
Allah adalah Tuhan seluruh alam. Dia selalu ada di awal dan juga di akhir. Tiada sekutu bagi-Nya. Segala kerajaan hanya Dia sebagai Rajanya Yang Maha Menguasai. Dia Maha Mengatur segala urusan. Dia tidak pernah tidur. Setiap waktu Dia di dalam kesibukan. Dia-lah Allah Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.
 
Jika manusia adalah makhluk yang kosong, maka ia bersimbolik dengan angka kosong (0) atau keikhlasan. Jika Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka Dia bersimbolik dengan angka Satu (1) atau ketauhidan.
 
Sekarang mari kita sama-sama belajar untuk memahami Ikhlas (0) di dalam ketauhidan Allah (1).
 
Surat Al-Ikhlas adalah surat di dalam Al-Qur'an yang terdiri dari empat ayat berikut:
 
 
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.”   
 
1  =  Allah
 
Pada ayat pertama, Allah ingin memperkenalkan Dirinya Yang Maha Esa dan Allah itu sama dengan Satu (1). Tiada tuhan selain Allah.
 
Di sini Allah melalui perantaraan Nabi Muhammad SAW, ingin menegaskan kepada semua manusia di muka bumi ini bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan seluruh alam, sedangkan manusia itu adalah 0 (nol), kosong dan tidak ada daya dan upaya melainkan hanya pertolongan dari Allah. Tidak ada yang berhak disembah melainkan hanya Allah semata.
 
Kata Allah sendiri terdiri dari 4 (empat) huruf dalam bahasa Arab yang terdiri dari 1 (Alif), J (lam), J (lam) dan 4 (Ha besar). Kala kita tulis kata Allah pun dimulai dari kanan yang bermakna “lebih baik/lebih bagus”, seperti ajaran Rasulullah SAW jika memulai sesuatu selalu mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.
 
Huruf 1 (Alif) pun kenapa berdiri sendiri tidak bersambung dengan huruf J (lam) pertama? Dan ada diurutan pertama dari kata Allah? Ya, karena Allah itu 1 (Satu) dan Allah itu Maha Esa. Satu atau huruf 1 (Alif) itu berdiri tegak. Ya, bediri tegak dan hanya kepunyaan Allah jualah ketegakkan/kesombongan itu. Kesombongan? Ya hanya Allah Yang Maha Esa yang memiliki kesombongan dan manusia harusnya merasa dirinya kosong dan tiada daya dan upaya melainkan hanya pertolongan Allah.
 
Maka dari itu bolehkah kita berjalan dimuka bumi ini dengan kesombongan? Astaghfirullah!, mohon ampunan-Mu ya Allah, jika selama ini kami hamba yang kosong pernah melakukan kesombongan demi kesombongan yang mana kesombongan itu hanya milik-Mu saja.
 
Kenapa huruf J (lam) di tulisan Allah jumlahnya ada 2 (dua) huruf? Kenapa harus diulang huruf J (lam) nya? Huruf J (lam) yang diulang tersebut menegaskan bahwa huruf 1 (Alif) itu tetap 1 (Satu) dan yang paling pertama jika kita menulis kata “4JJ1”. Huruf J (lam) jika kita perhatikan seperti huruf 1 (Alif) yang ada kailnya. Disini Allah ingin memberitahukan kepada kita bahwa Allah itu memang berdiri tegak tetapi bisa melenturkan huruf 1 (Alif) tersebut menjadi huruf J (lam) yang berulang.
 
Huruf 4 (Ha besar) adalah huruf terakhir dari kata “4JJ1”. Jika kita menulisnya pun terlihat huruf 1 (Alif) nya pun masih ada di huruf 4 (Ha besar) tersebut dan di tambahkan angka 0 (nol) yang posisinya menyambung dan ada disebelah kiri atas huruf 1 (Alif).
 
Masya Allah, ternyata Allah sendiri berthawaf (berputar) terhadap dirinya yang Satu. Dimulai dari kanan ke kiri, dari huruf demi huruf yaitu dari 1 (Alif) – J (lam) – J (lam) – 4 (Ha besar). Dari ketegakkan/kesombongan menjadi kelenturan dan berthawaf terhadap diri-Nya yang Maha Esa. Ternyata Allah yang 1 (Satu) ingin selalu dekat dengan hambanya yang 0 (nol) dan selalu memberi kasih dan sayang-Nya serta ilmunya bagi hamba-hambanya yang kosong yang selalu ingat dirinya yang kosong dan Diri Allah yang Satu.
 
Bukankah angka 0 (nol) itu dekat dengan angka 1 (Satu)? Mahasuci Allah yang sudah menciptakan angka 1 (Satu) dan angka 0 (nol) dari 10 (sepuluh) angka-angka yang kita ketahui. Coba perhatikan jika angka 10 kita uraikan menjadi 1 + 0 = 1. Masya Allah, angka 10 yang paling banyak pun ternyata milik Allah yang 1 (Satu). Satu itu lambang dari “ketauhidan” dan nol itu lambang dari “keikhlasan”.
 
Perhatikan juga perumpamaan ciptaan Allah berikut ini:
Angka 10 (sepuluh) yang kita kenal tersebut dilambangkan dengan jari-jari tangan kita yang juga berjumlah sepuluh. Di tangan kanan ada lima jari dan demikian juga di tangan kiri yang merupakan lambang dari asmaul husna dari “Adil”.
 
Coba perhatikan jari-jari tangan kita yang sebelah kanan dengan telapak tangan menghadap ke depan, yang terdiri dari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk dan jempol. Jika jari telunjuk dan jempol kita satukan seperti kita bilang “OK!” dengan tangan kita, membentuk huruf 0 (nol), tulisan apakah yang terbentuk? Masya Allah, ternyata yang terbentuk adalah nama “Allah”.
 
Sekarang coba lihat, jari manakah yang paling tinggi dari ke lima jari tadi? Jari tengah kan. Sekarang jari manakah yang paling berisi? Jari jempol kan. Yang paling kurus dan paling kecil jari manakah? Kelingking! Ya jari kelingking, biarpun kurus kecil tapi tidak sombong dan melambangkan huruf 1 (Alif). Huruf J (lam) harus berulang sampai dua kali dilambangkan dengan jari manis dan jari tengah, serta huruf 4 (Ha besar) pun harus bersinergi antara jari telunjuk dan jari jempol untuk merangkai kata “4JJ1”.
 
Demikian pula jika jari-jari tangan kiri kita telapak tangannya menghadap ke mata kita, yang terbentuk pun kata “4JJ1”. Dan jika jari-jari tangan kanan dan kiri kita bersinergi satu sama lain atau dalam keadaan bertepuk tangan, ada transfer energi positif dari sinergi tersebut yang menghasilkan “suara/bunyi”. Mahasuci Allah, tiada yang sia-sia atas semua ciptaan-Mu ini.
 
Allah tempat meminta (bergantungnya) segala sesuatu.
 
      1
      ---  =  0000000000~.... dst
      0
 
Pada ayat kedua surat Al-Ikhlas seperti ilustrasi di atas, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 1 (Satu) jika dibagi dengan 0 (nol) menghasilkan bilangan 0 (nol) yang tak terhingga (~). Angka 1 (Satu) pun posisinya berada diatas dan selalu berada diatas angka 0 (nol). Ya, karena angka 0 (nol) sangat bergantung pada angka 1 (Satu) dan angka 0 (nol) adalah kita sebagai hamba-Nya yang tidak memiliki daya dan upaya melainkan pertolongan Allah semata.
 
Allah akan mengabulkan setiap doa hambanya apabila dia meminta hanya kepada-Nya. Karena Allah Maha Pemberi dan memiliki sifat Yang Maha Pengasih (ar-rahman) lagi Maha Penyayang (ar-rahim). Dia (Allah) adalah Raja Yang Memiliki Hari Pembalasan. Dialah Pemilik (Raja) langit dan bumi beserta isinya dan Yang Maha Mengatur segala sesuatu dengan sempurna, detail dan adil. Hanya kepada Allah sajalah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita sebagai makhluk yang kosong memohon pertolongan-Nya.
 
Kita sebagai hamba Allah harus menyadari bahwa kita ini dilahirkan melalui ibu kita masing-masing tidak memiliki apa-apa ketika dilahirkan alias hanya telanjang bulat. Saat di dalam kandungan rahim ibu pun kita telah berjanji kepada Allah, ketika ruh Ilahi akan ditiupkan ke dalam rahim ibu, Allah berkata: "Siapakah Tuhan kamu?" Kita sebagai calon hamba yang kosong pun menjawab: "Engkaulah Tuhan kami ya Allah" sembari mengangkat tangan kanan seperti kalau kita bilang OK!. (ingat teori jari tangan yang membentuk nama “4JJ1”).
 
QS. Al-A’raf (7): 172
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
 
Masya Allah, tanda lahir kita pun membentuk kata Allah. Maka dari itu bolehkah kita berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi ini padahal kita menggenggam nama-Nya di kedua tangan kita? Allah jualah yang telah memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tanda-tanda penciptaan-Nya kepada kita melalui kedua tangan kita supaya kita selalu ingat Allah dan selalu bergantung kepada-Nya.
 
Semoga kita senantiasa mensifati dengan sifatnya Allah, yaitu memberi dengan ikhlas, menolong sesama manusia tanpa pamrih, tidak merusak alam seisinya, berlaku adil, tidak serakah dan semena-mena ketika berada di atas atau sedang berkuasa, karena kita hanya dititipi amanah dari Allah dan kita ini yang seharusnya sadar bahwa kita ini hanyalah hamba Allah yang bergantung kepada-Nya supaya kita sebagai khalifah dimuka bumi ini bisa menjadi insan yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
 
Dia (Allah) tidak beranak (melahirkan seorang manusia) dan tidak pula diperanakkan (dilahirkan dari seorang manusia atau ibu).
 
1  #  0    dan    0  #  1
 
Pada ayat ketiga surat Al-Ikhlas ini, Allah menegaskan bahwa Dia (Allah) itu tetap Satu. Dia sudah ada sewaktu alam semesta beserta isinya belum diciptakan-Nya, dan Dia tetap ada sewaktu alam semesta ini akan hancur lebur pada saatnya nanti (hari Kiamat).
 
Allah itu Esa dan Allah itu 1 (Satu). Dia tidak mungkin menghasilkan angka 0 (nol) dan Allah tidak mungkin juga berasal dari yang 0 (nol). Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Karena tidak ada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Jika ada sekutu selain Allah maka sudah hancur lebur alam semesta beserta isinya ini akibat berebut kekuasaan. Dan jika Allah dilahirkan melalui seorang manusia (ibu), maka Allah tidak mempunyai kekuasaan karena berasal dari kuasa yang lain. 
 
QS. Al-Mu’minun (23): 91
Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.
 
Astagfirullah, mohon ampunan-Mu ya Allah jika hamba-Mu ini sering berebut kekuasaan dengan menindas dan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Padahal kekuasaan itu hanya titipan bagi kami yang kosong supaya berlaku jujur, adil, amanah dan dapat dipercaya.
 
Dan tidak ada seorang manusia pun yang sanggup menandingi-Nya.
 
1  >  0
 
Di ayat terakhir surat Al-Ikhlas ini Allah lebih menegaskan tentang ketauhidan, agar manusia yang kosong ini sadar akan kodratnya yang kosong yang tidak memiliki apa-apa dan hanya membutuhkan Allah apabila berdoa dan meminta pertolongan, bukan kepada tuhan-tuhan yang lain. Karena angka 1 (Satu) itu lebih besar daripada angka 0 (nol).
 
Kisah Raja Fir'aun di dalam al-Qur'an membuktikan ke Esa-an Allah. Betapa kesombongan Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan selain Allah ditelan air laut oleh kekuasaan Yang Maha Dahsyat lewat perantaraan tongkat Nabi Musa AS, sebagai bukti bahwa kesombongan dan kekuasaan hanya milik Allah saja.
 
Berserah dirilah hanya kepada Allah. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Banyak-banyak-lah bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya, dan Allah akan menambah nikmatnya apabila kita banyak bersyukur kepada-Nya.
 
Berbaik sangkalah selalu kepada Allah, karena Dia sangat-sangat baik dan selalu memberi rezeki-Nya tanpa diminta ataupun diminta kepada seluruh alam beserta isinya termasuk kepada kita, manusia yang kosong ini. Betapa banyak nikmat-Nya yang kalau kita hitung satu persatu, kita tidak akan mampu dan pasti tidak akan mampu menghitung nikmat-Nya.
 
Pergunakan akal dan hati kita di dalam keseharian kita, agar selalu berada di jalan yang lurus dan selalu berada di garis edar-Nya serta bersinergi dengan seluruh alam semesta untuk ber-thawaf hanya kepada Allah semata.
 
Allah ingin hamba-Nya mengenal-Nya dengan perantaraan ilmu kalam (baca-tulis), karena itu nama suratnya Al-Ikhlas, karena untuk mengenal Allah, manusia harus menyadari kekosongannya, suci dan bersih serta ikhlas bahwa hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah ada pepatah mengatakan: “Tidak kenal maka tidak sayang”. Allah-lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu.
 
Dekati Allah dengan berjalan, maka Allah akan berlari untuk mendekati hamba-Nya.
 
Mahasuci Allah, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka-Mu. 
 
Dan ternyata di dalam surat Al-Ikhlas ini, tidak ada satu pun kata Ikhlas di dalamnya. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
 
 
Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab
 
Ditulis @Cileungsi Bogor, 28 Juni 2016 / 23 Ramadan 1437 H
 

 

  • view 248