Imbalanku Hanya Dari Allah

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 14 Juni 2016
Imbalanku Hanya Dari Allah

Imbalanku Hanya Dari Allah

Kali ini kita sama-sama belajar bagaimana seharusnya kita menyampaikan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan (berdakwah) seperti yang banyak dicontohkan para nabi dan rasul dahulu yang tidak pernah mengharapkan apapun dari manusia kecuali ridha Allah semata.

Berikut ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang dimaksud:

QS. Yunus (10): 72

Maka jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah dan aku diperintah agar aku termasuk golongan orang-orang muslim (berserah diri).

QS. Hud (11): 29

Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh.

QS. Hud (11): 51

Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?

QS. Yusuf (12): 104

Dan engkau tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka (terhadap seruanmu ini), sebab (seruan) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.

QS. Al-Furqan (25): 57

Katakanlah, “Aku tidak meminta imbalan apa pun dari kamu dalam menyampaikan (risalah) itu, melainkan (mengharapkan agar) orang-orang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.”

QS. Asy-Syu’ara (26): 145, 164 & 180

Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.

Lalu, bagaimanakah caranya para nabi dan rasul mendapatkan rezeki untuk menafkahi keluarganya? Padahal beliau semua hanya mengharapkan ridha Allah semata dalam menyampaikan risalah-Nya kepada semua orang.

Ya, beliau semua mendapatkan rezeki hanya dari apa yang diusahakannya dengan bekerja keras pada bidang selain bidang dakwah tentunya.

Ada yang menjadi tukang kayu, seperti dicontohkan oleh Nabi Nuh As.

QS. Hud (11): 37

Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Ada yang bekerja sebagai pandai besi seperti yang dicontohkan oleh Nabi Daud As.

QS. Al-Anbiya (21): 80

Dan telah Kami ajarkan (pula) kepada Daud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?

QS. Saba (34): 10-11

….dan Kami telah melunakkan besi untuknya (yakni Daud); (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan (amalan yang shalih). Sesungguhnya Aku Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Ada yang menjadi penggembala kambing, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Musa As.

QS. Taha (20): 18

Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.”

Ada yang bekerja sebagai pedagang dan penggembala kambing, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

QS. Al-Furqan (25): 7

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?....

QS. Al-Furqan (25): 20

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar….

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya, ”Dan engkau sendiri?” Beliau menjawab, ”Ya, aku juga dulu menggembalakan (kambing-kambing) milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.” [HR. Bukhari]

Lalu siapakah yang diberi petunjuk oleh para nabi terutama Nabi Akhir Zaman? Apakah hanya untuk orang yang sudah memeluk Islam sajakah? Ternyata Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Saw adalah peringatan bagi segala umat seluruh alam.

QS. Al-An’am (6): 90

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.

Dan sudah sepatutnya kita mencontoh perbuatan para nabi dan rasul-nya dalam menyampaikan kabar gembira dan pemberi peringatan kepada siapapun orangnya tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan serta hanya mengharapkan imbalan dari Allah semata, bukan kepada orang-orang yang kita dakwahi tersebut.

Siapapun orangnya yang bertugas menyampaikan kebenaran dan petunjuk (dakwah) harus berupaya untuk tidak menerima upah atau imbalan atau keuntungan dalam pengabdiannya untuk menyebarkan kebenaran, karena pengaruh ucapan kepada manusia ada di tangan Allah Swt. Dia selalu mengaitkan pengaruh ucapan dengan tingkat kejujuran, keikhlasan, dan pengorbanan serta sikap untuk tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun dari tugas dakwah.

Seperti saat kita berpuasa di bulan Ramadan. Ibadah puasa adalah ibadah yang dijalankan dengan penuh kejujuran, keikhlasan, dan pengorbanan. Bagi siapapun orangnya baik laki-laki maupun perempuan yang beriman dan beramal saleh serta mengerti akan manfaat dari puasa bagi kesehatan maka ia akan melakukannya karena Allah semata. Dan Allah akan membalas dengan ampunan dan pahala yang besar.

QS. Al-Ahzab (33): 35

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

Semoga bermanfaat,…. wallahu a’lam bishshawab

*Sumber: Muhammad Fethullah Gulen. Islam Rahmatan Lil ‘alamin – Menjawab Pertanyaan Dan Kebutuhan Manusia. 2011. Jakarta. Republika Penerbit.

Ditulis @Cileungsi Bogor, 12 Juni 2016 / 7 Ramadan 1437 H

Dilihat 90