Out Of The Box

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juni 2016
Out Of The Box

Out Of The Box
 
Al-Quran adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, pembeda antara yang haq (benar) dan batil (salah), pengobat dari berbagai penyakit, kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan peringatan bagi orang-orang yang kafir dan cerita-cerita dari masa lalu sebagai hikmah bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran (berakal).
 
Seperti cerita Nabi Ibrahim berikut ini:
 
Nabi Ibrahim adalah nabi yang sangat di sayang oleh Allah, karena apa yang beliau lakukan melalui akal kecerdasannya di dalam mencari Tuhan yang sesungguhnya yaitu Allah, Tuhan seluruh alam.
 
Sejak kecil sampai usia remaja, Nabi Ibrahim dikelilingi oleh lingkungan dimana masyarakatnya menyembah berhala. Bahkan ayahnya adalah seorang pemahat patung dan pembuat berhala.
 
Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan jahilyah tersebut, Nabi Ibrahim muda bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, "Kenapa masyarakat di sini mau menyembah berhala-berhala tersebut ya? Berhala-berhala itukan benda mati dan dibuat orang. Ia tidak hidup dan tidak kuasa atas dirinya sendiri. Tidak bisa mengabulkan doa dan tidak bisa berbicara apalagi membawa kemanfaatan atau kemudaratan kepada orang-orang yang menyembahnya?"
 
QS. Al-A'raf (7): 192
Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan.
 
QS. An-Nahl (16): 21
(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan.
 
QS. Ar-Rad (13): 14
Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.
 
Akhirnya dihancurkanlah semua berhala tersebut dan hanya disisakan satu yang terbesar. Nabi Ibrahim mempunyai ide brilian menyisakan satu berhala agar mereka para penyembahnya balik bertanya.
 
QS. Al-Anbiya (21): 58
Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.
 
Keesokan harinya, gemparlah penduduk kota atas kejadian tersebut. Mereka saling bertanya siapa gerangan yang berani menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka?
 
Nabi Ibrahim berkata, "Coba kalian tanyakan kepada berhala yang paling besar disana!"
 
Mereka sebenarnya tersadarkan akan kekeliruannya, akan tetapi setanlah yang menggoda mereka agar perbuatan mereka itu terasa baik dan indah. Juga kebiasaan buruk mereka yang turun temurun menyembah berhala seperti apa yang telah diperbuat neneng moyang mereka dahulu sehingga hidayah tidak bisa masuk ke dalam hati mereka.
 
QS. Al-Anbiya (21): 65-66
Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), "Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara." Dia (Ibrahim) berkata, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu?
 
Terbukti kebenaran pola pikir dari Nabi Ibrahim dalam memahami tuhan-tuhan palsu tersebut.
 
Di waktu yang lain ketika Nabi Ibrahim melihat bintang, bulan dan matahari, beliau pikir itu semua adalah tuhannya. 
 
QS. Al-An'am (6): 76-78
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, "Inilah tuhanku." Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, "Aku tidak suka kepada yang terbenam."
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat."
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."
 
Ya, berpikirlah seperti Nabi Ibrahim yang berani berpikir "Out of the box" dan berani berbeda dalam memahami apa yang ia yakini bahwa perbuatan menyembah berhala itu adalah tindakan yang salah dan tidak masuk akal.
 
Beragama itu harus masuk akal, bisa dimengerti dan dipahami. Ya, ikutilah agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik).
 
QS. Ali Imran (3): 95
Katakanlah (Muhammad), "Benarlah (segala yang difirmankan) Allah." Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang musyrik.
 
Optimalkanlah pemberian Allah berupa otak yaitu potensi yang ada di kepala kita agar bisa memikirkan semua ciptaan-Nya yang terhampar di langit dan di bumi serta apa yang ada diantara keduanya sehingga bisa berucap, "Tiada yang sia-sia atas ciptaan-Mu ini ya Allah. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka."
 
Ya, berpikir atau bertafakurlah secara out of the box, untuk apakah ibadah puasa Ramadan kita? Apakah hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja, atau ada maksud lain dari Allah sehingga mewajibkan kita orang-orang yang beriman berpuasa di bulan yang penuh rahmat ini?
 
 
Semoga bermanfaat,…. wallahu a’lam bishshawab
 
Ditulis @Cileungsi Bogor, 9 Juni 2016 / 4 Ramadan 1437 H

 

  • view 53