Bersyukur Dengan Perbuatan

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juni 2016
Bersyukur Dengan Perbuatan

Bersyukur Dengan Perbuatan
 
Manusia diciptakan ke dunia ini untuk mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Ada yang bersabar menghadapinya. Ada pula yang tidak sabar (tergesa-gesa) dan bersifat suka mengeluh. 
 
QS. Al-Anbiya (21): 37
Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa….
 
QS. Al-Ma’arij (70): 19-20
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah.
 
Padahal Allah sudah memberikan banyak kemudahan dan semua fasilitas kepada siapapun orangnya tanpa terkecuali seperti tempat tinggal (bumi), sumber energi (matahari), pakaian dan makanan (tumbuhan dan hewan). Mengapa kita tidak berusaha untuk memfaatkan semua itu?
 
Ya, kita seharusnya bisa memanfaatkan semua fasilitas yang sudah Allah anugerahkan kepada setiap  manajer di bumi ini (setiap orang) untuk mengelola dan memanfaatkan dalam berbagai bentuk.
 
Kita dibekali dengan akal yang dengannya kita dapat berpikir. Dibekali dengan mata yang dengannya kita dapat melihat. Dibekali dengan telinga yang dengannya kita dapat mendengar. Dibekali dengan hati yang dengannya kita dapat memilih dan merasakan. Dan kita dibekali dengan anggota badan seperti tangan dan kaki yang dengannya kita dapat berusaha, memegang sesuatu dan berjalan.
 
Sudahkah kita manfaatkan semua bekal tersebut untuk menghasilkan karya yang benar, yang baik, dan bermanfaat bagi banyak orang dan alam sekitar kita.
 
Coba anda perhatikan anggota tubuh kita yang susunannya sempurna dan seimbang? Apakah ada anggota tubuh kita yang cacat? Atau adakah ciptaan-Nya seperti mata atau telinga hanya satu buah atau lebih dari dua buah? Atau adakah hidung yang tidak mempunyai lubang untuk bernafas?
 
Coba kita lihat apa saja yang sudah kita dapatkan selama ini. Kebaikan-kebaikan apa saja yang telah dianugerahkan kepada kita sampai sekarang ini. Rezeki-rezeki pun demikian banyaknya sudah Dia limpahkan kepada kita, baik berupa materi, kesehatan, anak-anak, keluarga yang harmonis, makanan yang bergizi dan lain sebagainya.
 
Sudahkah kita mensyukuri atas semua yang sudah kita dapatkan sampai dengan hari ini? Banyak diantara saudara-saudara kita yang masih lebih kurang daripada kita, baik kurang secara fisik maupun secara harta.
Ada yang buta matanya, ada yang tuli telinganya, ada yang cacat fisiknya. Ada yang tidak punya tangan atau kaki. 
 
Ada yang tidak punya rumah tinggal atau hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Ada yang menjadi yatim atau piatu sehingga harus tinggal di yayasan. Atau hidup sebagai kaum duafa yang serba kekurangan.
 
Ada yang hidup sebagai ibu dan ayah sekaligus (single parent) sehingga harus membanting tulang untuk menafkahi keluarganya.
 
Sudahkah kita mensyukuri atas hidup kita sekarang ini? Hidup tidak cacat tubuhnya. Hidup dengan keluarga yang harmonis. Tidak hidup sebagai anak yatim atau piatu atau keduanya seperti Rasulullah Saw yang sudah menjadi yatim piatu sewaktu kecil. 
 
Hidup yang sudah berkecukupan. Mau makan dan minum apapun tersedia dengan mudahnya.
 
Ya, banyak-banyaklah bersyukur karena kita masih hidup lebih beruntung daripada mereka. 
 
QS. Ad-Dhuha (93): 11
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
 
Apakah diperbolehkan kita bersyukur hanya dengan mengucapkan hamdalah saja? Tentu saja boleh, karena menurut Al-Qur'an, barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka Dia akan tambahkan nikmat-Nya bagimu. 
 
QS. Ibrahim (14): 7
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu..."
 
Untuk dapat meningkatkan keimanan kepada ketakwaan, kita harus melanjutkan ucapan syukur kita baik secara lisan maupun di dalam hati, dengan perbuatan nyata.
 
Membantu mereka yang tidak seberuntung kita dengan uluran tangan kita sendiri, baik membantu dengan harta, tenaga, pikiran dan bantuan apapun  bentuknya.
 
Beriman identik dengan keyakinan. Sedangkan bertakwa identik dengan aksi nyata melalui perbuatan, baik melaksanakan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya.
 
QS. Al-Baqarah (2): 177
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang BERIMAN kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA.
 
Seperti ayat tentang puasa di bulan Ramadan, yang hanya mewajibkan berpuasa bagi orang yang beriman saja dengan tujuan akhir menjadi orang yang bertakwa.
 
QS. Al-Baqarah (2): 183]
Wahai orang-orang yang BERIMAN! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu BERTAKWA.
 
Ya, jadilah orang yang pandai "Bersyukur dengan perbuatan". Dan berpuasa di bulan Ramadan adalah salah satu contohnya.
 
Semoga bermanfaat,…. wallahu a’lam bishshawab
 
Ditulis @Cileungsi Bogor, 8 Juni 2016 / 3 Ramadan 1437 H

 

  • view 83