Ikhtiar Cinta

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 02 Juni 2016
Ikhtiar Cinta

Ikhtiar Cinta
 
Setiap Yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami. [QS. Al-Anbiya (21): 35]
 
Siklus kehidupan setiap orang akan mengalami berbagai fase kehidupan seperti berikut: tadinya tidak ada, kemudian dilahirkan dari rahim ibu kita, lalu menjadi bayi, kemudian balita, lalu remaja, kemudian dewasa, lalu menikah, kemudian punya anak, lalu tua dan terakhir mati meninggalkan dunia ini.
 
Kematian setiap orang pun akan menemui ajalnya dengan berbagai macam cara, waktu, sedang melakukan apa dan dimana matinya.
 
Ada yang meninggalnya secara mendadak. Ada yang karena sakit keras. Ada yang karena kecelakaan. Ada yang meninggalnya bersama ibunya saat dilahirkan. Ada yang meninggalnya di usia yang sangat tua renta. Ada yang meninggalnya sedang melakukan perbuatan jahat. Ada yang meninggalnya sedang beribadah. Adapula yang meninggalnya di darat maupun di lautan.
 
Ya, setiap orang tidak pernah tahu kapan kematian datang menjemput. Sudahkah kita mempersiapkan hidup setelah mati? Sudahkah kita membekali diri dengan banyak perbuatan baik yang bermanfaat bagi banyak orang dan seluruh alam?
 
Menurut Al-Qur’an, setiap orang akan dibalas secara seimbang atas apa yang ia usahakan di dunia dahulu. Orang-orang yang berbuat jahat akan mendapatkan hasil akhirnya di neraka dan hanya orang-orang yang melakukan perbuatan baik sajalah yang akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, seperti janji-Nya. Dan janji Allah pasti Dia penuhi kelak di Hari Akhirat.
 
Kali ini kita sama-sama belajar memahami tentang bagaimana seharusnya kita memperjuangkan “Ikhtiar Cinta”, sebelum kita meninggalkan dunia ini untuk kembali kepada-Nya.
 
Lagu berikut ini liriknya diciptakan dari puisi sahabat saya teman sekolah dulu, yaitu seorang Ibu Guru PAUD, single parent, dengan dua orang putri.
 
Awal cerita, Ibu Guru Dina menulis puisi tersebut di halaman media sosial miliknya sekitar bulan September 2011 untuk sahabatnya yang kehilangan suaminya karena sakit. Saat saya melihat posting-an miliknya, saya langsung menyukainya karena puisi tersebut bagus, begitu dalam dan penuh dengan makna, lalu saya meminta izin untuk membuatnya menjadi lagu. 
 
Belum sempat dijadikan lagu, akhir Juli 2015 suami Ibu Dina meninggal dunia karena sakit keras. Puisi yang ibu Dina tulis buat sahabatnya terjadi kepadanya.
 
Seiring berjalannya waktu dan karena kesibukan saya, puisi tersebut hampir terlupakan. Sampai sekitar Bulan Februari 2016 lalu, ibu Dina mengingatkan saya bahwa saya masih punya hutang lagu kepada dia.
 
Ternyata mencari notasi dan inspirasi lagu yang pas untuk puisi tersebut belum juga  saya dapatkan. 
 
Tanggal 28 Mei 2016 lalu, teman-teman SMA di grup media sosial mengajak untuk bertemu ber-karaoke bersama di Bilangan Jakarta Selatan. Kebetulan teman-teman di grup suka bernyanyi. Saya menyanggupi untuk kopi darat sekalian mengasah bakat bernyanyi saya… hehe. 
 
Saat saya dan teman-teman sedang bernyanyi di ruangan karaoke, saya dikejutkan dengan kehadiran Ibu Dina yang awalnya tidak ada konfirmasi untuk hadir di acara tersebut.
 
Singkat cerita, saya berbicara empat mata dengan sahabat saya ini untuk melunasi hutang lagu kepadanya. Saya hanya bertanya seperti ini, “Dina, lagunya mau seperti apa? Kira-kira ada usulan lagunya siapa?” Lalu Ibu Dina menjawab seperti berikut, “Seperti lagunya BCL (Bunga Citra Lestari) ya Dro, yang soundtrack film-nya Habibie & Ainun. Saya suka lagu-lagunya BCL.” 
 
Kemudian saya berujar, “Bisa juga seperti lagu-lagunya Rossa atau lagu-lagu ciptaan Melly Goeslow ya Din.” Ibu Dina berkata, “Boleh Dro, dipadukan saja semuanya hehe…”
 
Alhamdulillah, keesokan harinya, Minggu 29 Mei 2016, lagu tersebut selesai saya buat hanya satu jam saja. Inspirasi dan notasi datang begitu mudahnya. Mungkin memang harus bertemu dahulu dengan pembuat puisinya supaya bisa lancar semuanya. Silaturahmi itu memudahkan segala urusan. Thanks to Allah.
 
Sedih dan terharu saya sewaktu membuat dan menyanyikan lagu tersebut. Saya langsung teringat almarhum ayahanda.
 
Berikut hasil kolaborasi saya dan Ibu Guru Dina:
 
Ikhtiar Cinta – Cipt. Dina Suwandayanie & Hendro Noor Herbanto
 
Sebelum ufuk berangkat
Naik ke peraduaannya
Satu hembusan dari nafasmu
Terakhir kurasakan
 
Kukira mimpi ternyata bukan 
Terhenyak aku dalam gelombang
Ku tak kuasa menahan kenyataan
Bahwa kau tlah tiada
 
REFF:
Ikhtiar yang kita upayakan
Segalanya hanya untuk Cinta
Namun apa daya Dia Maha Kuasa
Atas Cinta Kita
 
Baru sebentar kita bersama
Merengkuh asa dan juga cinta
Meniti jalan dengan segala
Kesederhanaannya
 
REFF:
Ikhtiar yang kita upayakan
Segalanya hanya untuk Cinta
Namun apa daya Dia Maha Kuasa
Atas Cinta Kita
 
Ikhtiar Cinta takkan berakhir
Sampai di sini saja
Ikhtiar Cinta selalu bersemayam
Di hati ini…. Selalu ada….
 
Ini link lagunya:
https://soundcloud.com/hero0308/ikhtiar-cinta
 
Ya, setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tetaplah melakukan yang terbaik hingga ajal menjemput nanti. 
 
Berikhtiarlah selalu Atas Nama Cinta. Bisa saja kisah pada lagu tersebut terjadi pada diri saya sendiri, anda atau siapapun orangnya seperti yang terjadi pada ibu Guru Dina dan sahabatnya.
 
Cinta butuh perjuangan, jatuh bangun, pengorbanan dan lebih banyak memberi arti bagi kehidupan. Allah ingin memilih hamba-hamba-Nya untuk dimasukkan ke dalam surga-Nya kepada siapa saja yang selalu ber-ikhtiar dengan cinta melalui ujian dan cobaan disepanjang hidup hingga hembusan nafas terakhir.
 
Oh ya, saya dan Ibu Guru Dina mempunyai mimpi lagu ini bisa dinyanyikan oleh BCL atau Rossa. Mungkin ada diantara sahabat-sahabat yang baik hati mau meneruskan lagu ini kepada BCL dan Rossa. Kita berdua hanya berikhtiar melalui karya, rasa, cita dan cinta… semoga Allah meridhai dan mengabulkan permohonan kami… Aamiin YRA. 
 
 
Semoga bermanfaat…. wallahu a’lam bishshawab
 
Ditulis @Cileungsi Bogor, 2 Juni 2016
 
Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
www.hendronoorherbanto.com
[hanya memberi tak harap kembali]

 

  • view 147