Pahami! Bukan Sekadar Tahu Tanpa Ilmu

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 April 2016
Pahami! Bukan Sekadar Tahu Tanpa Ilmu

Pahami! Bukan Sekadar Tahu Tanpa Ilmu
Oleh: Hendro Noor Herbanto
 
Kali ini kita sama-sama belajar dari kisah yang terjadi di jaman dahulu kala, yaitu tentang bagaimana seharusnya kita berproses belajar yang membawa kebenaran, kebaikan dan kemanfaatan dari: tahu, kemudian mengerti, lalu memahami dan akhirnya dilakukan dan diulangi secara terus menerus proses tersebut menjadi kebiasaan yang pada akhirnya kita menjadi orang-orang yang bisa dan beruntung.
 
Pada suatu ketika di dunia antah-berantah, hiduplah saudagar kaya yang sok tahu. Dia punya harta benda yang banyak sekali, tetapi sayangnya kekayaannya tersebut tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan.
 
Di suatu pagi yang cerah, ia ingin sekali membeli seekor kuda, karena kuda peliharaannya yang lama sudah tidak bisa diandalkan untuk perjalanan jauh dan sudah tidak bisa membawa barang-barang yang berat, karena sudah berumur cukup tua.
 
Pergilah saudagar itu ke pasar dengan berjalan kaki karena letak pasar tersebut tidak terlalu jauh dari rumahnya.
 
Akhirnya bertemulah ia dengan pedagang yang menjual kuda. Sambil melihat satu persatu kuda yang ada, akhirnya ia melihat seekor kuda yang gagah yang menurutnya inilah kuda yang ia cari.
 
Bertanyalah ia kepada pedagang kuda tersebut dengan percakapan antara keduanya berikut ini:
Saudagar: "Wahai saudaraku, berapakah harga kuda ini?"
Pedagang: "1.000 keping tuan."
Saudagar: "Wah, mahal sekali ya. Biasanya hanya setengah harganya (500 keping)."
Pedagang: "Ya, memang segitu harganya, karena kuda ini adalah kuda yang unik.
Saudagar: "Uniknya di mana?"
 
Sebenarnya kuda ini biarpun badanya kuat, gagah dan bagus, tetapi tidak pernah laku dijual, karena alasan pada percakapan lanjutan di bawah ini:
 
Pedagang: "Jika ingin mengendarai kuda dan memulainya untuk berjalan, kuda ini harus dimulai dengan mengucapkan "Alhamdulillah", demikian juga jika ingin menghentikan kuda tersebut (berhenti) harus mengucapkan "Bismillah". Demikian tuan, unik kan kudanya."
Saudagar: "Wah, unik sekali kudanya. Tanpa pikir panjang ia menyerahkan sejumlah uang yang telah disepakati tadi."
 
Akhirnya dicobalah kuda tersebut dengan mulai menaikinya. Setelah berada diatas kuda tersebut, ia mulai mengucapkan seperti yang pedagang bilang, "Alhamdulillah". Berjalanlah kuda tersebut dengan perlahan-lahan.
 
Selang satu menit berlalu, ia menghentikan kudanya dengan berkata, "Bismillah." Berhentilah kuda tersebut.
 
Sambil berkata dalam hati, "Wah saya suka sekali dengan kuda ini, unik sekali cara berjalannya."
 
Setelah beberapa kali mencoba berjalan dan berhenti dengan kudanya tersebut, akhirnya ia mencoba kudanya untuk berlari kencang.  
 
"Ayo kudaku, saatnya berlari kencang!" Sembari berkata, "Alhamdulillah!" Sebanyak tiga kali. Lajulah lari kudanya sekarang. Lalu ia berkata, "Bismillah!". Lalu berhentilah kudanya.
 
Diulangi-ulangi kata Alhamdulillah dan Bismillah tersebut untuk memerintahkan kudanya berlari dan berhenti.
 
Saat ia berada di atas kudanya yang berlari kencang, kurang lebih 50 meter dihadapannya, ia melihat jurang. Paniklah saudagar tersebut. Sambil berkata dalam hati, "Aduh, celaka aku! Aku lupa yang harus aku ucapkan untuk menghentikan kuda ini. Ucapkan Bismillah atau Alhamdulillah?"
 
Kurang lebih 10 meter sebelum bibir jurang, ia teringat untuk menghentikan kudanya, dengan lantang ia berkata, "Bismillah!" Maka berhentilah kudanya tepat di bibir jurang.
 
Sambil mengucapkan syukur kepada Allah atas keselamatan yang telah diberikan kepadanya, ia lalu berkata, "Alhamdulillah!". Maka majulah kudanya atas perintahnya, lalu jatuhlah ia bersama kudanya ke dalam jurang tersebut.
 
Demikianlah cerita sang saudagar kaya yang sok tahu dan tidak mau menggunakan ilmu yang sudah berlaku di keseharian kita. Jadilah ia orang yang maunya serba instan dan mau saja mendengarkan apa yang dikatakan pedagang kuda tersebut tanpa ditela'ah dengan akal dan ilmu.
 
Hanya karena keunikan kudanya saja, ia akhirnya mendapatkan kecelakaan akibat kebodohannya.
 
Semoga cerita ini bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya, serta selalu berhati-hati dalam berpikir, bertindak dan bertutur kata agar selamat dunia maupun akhirat.
 
 
Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab