Habis Gelap Terbitlah Terang

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 April 2016
Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang

Oleh: Hendro Noor Herbanto
 
Pada suatu hari, anak saya yang masih duduk di Sekolah Dasar sedang bermain pianika. Ia memainkan lagu yang dulu sering saya mainkan juga, malahan lagu ini adalah lagu pertama kali saya bisa memainkan semua not angkanya dengan benar dan lengkap melalui piano. Lagu tersebut berjudul:
 
Ibu Kita Kartini - Ciptaan W.R. Supratman
 
Ibu kita Kartini
Puteri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
 
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
 
Wahai ibu kita Kartini
Puteri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi indonesia
 
Iseng-iseng saya menanyakan kepada anak saya, "De, ibu kita Kartini siapa namanya?" Spontan anak saya terkejut, lalu berhenti memainkan pianikanya. "Aneh ya pertanyaan papah?" "Kenapa aneh de pertanyaan papah?" Tanya saya. "Iyalah aneh, sudah tahu judul lagunya Ibu Kita Kartini, ya namanya ibu Kartini, pah!" Sahut ade. "Coba sekarang ade nyanyikan lagunya tanpa pianika," kata saya.
 
Mulailah ade menyanyikan lagunya sampai akhir lagu. Saya tanya kembali, siapa namanya? Masih bingung dengan pertanyaan saya, lalu setelah tiga kali lagu tersebut dinyanyikan, akhirnya ade menyerah dan tidak menemukan jawaban dari apa yang saya tanyakan.
 
"Memangnya namanya siapa pah?" Kata Ade penasaran.  Akhirnya saya kasih tahu jawabannya, "Harum, de namanya." Wah papah benar-benar aneh ya???" Sambil memainkan kembali lagu Ibu Kita Kartini dengan pianikanya.
 
Ibu Kartini-lah pembawa cahaya terang benderang kepada kita semua dari kegelapan. Namanya-pun menjadi "harum", biar jasadnya sudah tiada, tetapi perjuangan beliau untuk menerangi bumi pertiwi Indonesia dari kebodohan menjadi kecerdasan patut diapresiasi dan menjadi panutan bagi kita semua terutama kaum perempuan.
 
Beliau adalah teladan bagi kita semua. Tidak ada halangan untuk dapat belajar menuntut ilmu yang setara dengan kaum laki-laki pada zamannya, dimana pada waktu itu kaum perempuan lebih banyak berada pada status sosial yang rendah.
 
Kesempatan untuk bisa menuntut ilmu bagi Ibu Kartini datang seiring dengan gelar bangsawan yang ada di depan namanya. Raden Ajeng atau disingkat R.A. Kartini yang membuatnya bisa mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi. Selain bisa berbahasa Belanda, beliau juga pintar menulis surat dengan sahabatnya di Belanda.
 
Pada usia 12 tahun, Ibu Kartini bersekolah di ELS (Europe Lagere School). Di sekolah ini beliau belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah itu, ia harus tinggal di rumah karena dipingit oleh keluarganya.
 
Beliau mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari negara Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. 
 
Ibu Kartini juga belajar dari banyak buku-buku, koran dan majalah Eropa. Beliau ingin memajukan kaum perempuan Indonesia, karena tertarik pada kemajuan dan cara berpikir para perempuan di benua Eropa sana.
 
Kegemaran membaca dan menulis serta kecintaan akan ilmu pengetahuan yang membuat wawasan dan cara berpikir beliau semakin terasah lebih baik lagi.
 
Ibu Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang di asuh Pieter Brooshooft, majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Beberapa kali beliau mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.
 
Dari surat-suratnya terlihat perhatian Ibu Kartini tidak hanya semata-mata persoalan emansipasi wanita saja, tetapi juga masalah sosial kemasyarakatan. 
 
Kartini melihat perjuangan perempuan kaumnya masih tertinggal. Untuk itu ia ingin kaum perempuan Indonesia memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.
 
Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan mendukung serta memberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
 
Anak pertamanya dan sekaligus anak terakhirnya bernama Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian. Tepatnya tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.
 
Pada tahun 1912 di Semarang didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini. Menyusul kota lainya seperti kota Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Nama sekolahnya yaitu “Sekolah Kartini”.
 
Sebagian besar buah pemikiran Kartini di surat-suratnya berisi keinginan Kartini kepada kaumnya untuk memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.
 
Surat-suratnya juga berisi keinginannya pada lingkungannya terutama kaum perempuan untuk bisa memiliki kebebasan belajar menuntut ilmu setara dengan kaum laki-laki, seperti kaum muda Eropa.
 
Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal dan harus bersedia dimadu.
 
Pandangan-pandangan beliau yang cemerlang dan masih berusia muda inilah yang menjadikan ia berpikir kritis dan mempertanyakan lingkungan sekitar yang hanya menjadikan kitab suci Al-Qur'an sebagai kitab yang hanya dilafalkan dan dihafalkan tanpa mencoba untuk bisa dipahami arti dan maknanya. Hanya sekedar bacaan biasa yang dibaca dan didengarkan dari telinga kiri dan keluar telinga kanan saja tanpa membekas sedikitpun di hati.
 
Ia mengungkapkan pandangannya bahwa terjadinya perselisihan antar manusia, terpisah atau terkotak-kotaknya manusia dengan manusia yang lain atau antar kelompok, dan saling menyakiti satu sama lainnya karena tidak adanya kepahaman yang mendalam dari apa yang sudah Tuhan turunkan di dalam Al-Qur'an.
 
Menurut Kartini, "Agama harus menjaga kita dari perbuatan dosa, tetapi berapa banyak dosa dibuat orang atas nama agama."
 
Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkaplah sudah penderitaan kaum perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
 
Begitulah kisah perjuangan pahlawan kita yang meninggal di usia 25 tahun yang lahir tanggal 21 April 1879. 
 
Ibu Kita Kartini gigih berjuang dalam memberantas kebodohan menjadi kecerdasan buat kaumnya, sehingga anak-anak perempuan sekarang ini mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dengan anak-anak laki-laki dalam hal belajar dan menuntut ilmu.
 
Allah menakdirkan kita menjadi anak laki-laki atau anak perempuan pada dasarnya adalah mutlak kehendak Allah semata, tidak ada campur tangan kita sebagai manusia atas kehendak-Nya tersebut (takdir Qadar).
 
Tetapi Allah Yang Maha Perkasa, tidak semena-mena menakdirkan seseorang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan tanpa dilandasi takdir yang kedua (takdir Qadla), yaitu takdir/kehendak Allah Yang Maha Bijaksana yang diberikan kepada seseorang baik diberikan kepada laki-laki atau perempuan atas “usaha” orang tersebut untuk mau merubah keadaan dirinya, lingkungan dan bangsannya menjadi lebih baik serta bermanfaat.
 
Seperti itulah usaha dan perjuangan Ibu Kartini yang perlu kita lanjutkan, pertahankan, dan terus diperjuangan dengan penuh semangat dan pantang menyerah.
 
Hidup adalah sebuah pilihan. Apakah kita memilih hidup dengan berarti dan banyak memberi manfaat pada semua makhluk di langit dan bumi ataukah kita memilih hidup yang biasa saja tanpa memberikan arti dan manfaat bagi dunia dan mungkin memilih hidup sebagai pecundang dari pada menjadi pahlawan. Memilih nothing daripada something. Memilih zero daripada hero. Memilih malas berusaha daripada rajin berusaha. Memilih hidup dalam kegelapan daripada hidup menerangi kepada jalan yang lurus.
 
Wahai Ibuku,... Ibu Kita Kartini
Walaupun engkau hanya hadir sebentar di bumi Indonesia
Namun jasamu tetap ada di hati kami
Walaupun jasadmu sudah tiada
Namun namamu tetap harum abadi
 
"Selamat Merayakan Hari Kartini, di setiap tanggal 21 April...."
 
Habis Gelap Terbitlah Terang!
 
 
Semoga bermanfaat....wallahu a'lam bishahwab
 
Sumber Wikipedia Indonesia: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kartini 
 
Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 17 Agustus 2015
 
Salam hangat,
Hendro Noor Herbanto
Penulis | Komposer | Praktisi Perbankan


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    merinding bacanya apalagi awal cerita..jadi ikutan nyanyi-nyanyi dan baca sampai tuntas. berhasil membuat saya teringat kembali tentang Raden Ajeng Kartini, terima kasih sudah menyelipkan sejarah, lagu dan cerita yang apik dalam satu kolom hanya di inspirasi.
    Kereeeeeeennnnn.......

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Pembukaannya keren.. memancing pembaca untuk membaca sampe habis tentang biografi RA Kartini dan di tutup dg ciamik..
    .
    .
    .
    Kalimat ini yg gue suka > Menurut Kartini, "Agama harus menjaga kita dari perbuatan dosa, tetapi berapa banyak dosa dibuat orang atas nama agama."
    .
    .
    .
    Mas kok kayaknye double tulisan ya? Mau ta share jadi ragu.. :-)

    • Lihat 1 Respon

  • Reza Hayatul
    Reza Hayatul
    1 tahun yang lalu.
    Gw suka tulisana kocak, BTW emangnya ibu Kartina pernah pakai jilbab?

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Suka dengan opening kisah di postingan ini... ^_