Yang Lebih Sepi

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Buku
dipublikasikan 20 Desember 2017
Yang Lebih Sepi

Ia menerima khabar, neneknya tutup usia dipanti wreda. Ia sama sekali tak terkejut. Ia mengerti, setiap manusia -termasuk neneknya- akan pergi.

Itu yang saya tangkap dari bagian pertama novel "Orang Asing". Setiap kalimat yang ditulis, di satu sisi, melukis seorang kesepian. Di sisi lain, itu cermin yang memantulkan keadaan lain: putus asa.

Saya baru duduk di bangku SMP ketika mendengar nama Albert Camus. Seorang kawan sering berkisah, bahwa Camus memang aneh dan bermasalah. Saya sempat tak percaya sebelum sampai ke ujung cerita. Media Inggris melaporkan: ia menabrakan mobilnya ke sebuah pohon besar tegap. Ia merenggang nyawa seketika.

Agaknya itu memang wajar. Camus pernah bertanya ke setiap pembaca, dengan nada muram," Apa yang menahanmu untuk tidak bunuh diri?"

Ada dunia yang gelap di balik pertanyaan itu. Ia -secara brutal dan tanpa ampun- mengoyak alasan manusia bertahan hidup. Manusia harus mencari cara terbaik untuk meniadakan diri.

Novel lain yang ditulisnya, "Mitos Sisifus", akan mengarah pada hidup yang sia-sia: malang sekali hidup Sisifus itu, setelah dikutuk Zeus, ia dipaksa mendorong batu bulat besar ke puncak bukit. Sialnya, ia selalu gagal sebelum meraih puncak. Batu itu kembali bergulir ke bawah dan harus didorong kembali. Gagal lagi. Begitu seterusnya.

Dunia kemudian menangkap satu istilah penting dari setiap karya Camus, yakni, "absurditas". Sebuah istilah yang, menurut saya, berhasil mewakili manusia yang tipis harapan. Di dunia yang tak terkendali, kaotik dan tak berujung-pangkal, absurditas bisa jadi teman karib yang paling mengerti.

Dan, dibanding wajah muram di dunia yang semakin bengis, kesepian yang kita alami belum apa-apa.

Hendra Januar,
Rabu, 20 Desember 2017.

  • view 109