Dicari: Pemimpin Kampungan

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Politik
dipublikasikan 11 September 2017
Dicari: Pemimpin Kampungan

Sebelum saya ketik tulisan ini di handphone, seorang kawan mencegat saya dengan mengajukan pertanyaan kritis: "Menurutmu, memang masih ada pemimpin yang layak?"

"Layak? Maksudmu?" tanya saya.

"Iya layak, punya kapasitas yang benar-benar seorang pemimpin."

Dialog itu mengubah hampir seluruh skema tulisan yang ingin saya bangun. Semula saya ingin merangkai narasi kecil soal "Apatisme Massa", dengan asumsi dasar: alih-alih banyak orang yang berlaku seolah peduli pada calon-calon bupati dan gubernur yang berseliweran, justru yang nampak adalah ketidakpedulian.

"Baiklah, pertanyaanmu membuka ruang optimisme untuk tumbuh."

Kepadanya saya bilang, bahwa selain harus melibatkan kapasitas, seorang pemimpin harus bergurat pada dirinya nilai-nilai. Juga harus jelas siapa dan dari mana ia berasal. Harus terang benderang bagaimana bobot, bibit, bebetnya. Pemimpin tidak diutus dari negri antah berantah, tidak juga lahir dari kegaliban yang dibingkai media. Ia tumbuh dan dipahat lingkungan. Pemimpin dilahirkan, bukan diciptakan.

Semua keharusan itu pernah dirangkum oleh Prabu Siliwangi, pemimpin Kerajaan Sunda Galuh berabad-abad lalu, dengan istilah budak angon.

Dan budak angon bukan hanya mengasuh manusia. Lebih dari itu, ia mengatur ritme dan dinamika semesta. Dari setitik atom sampai rotasi bumi. Dari pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh, sampai kelakai yang berjatuhan dari pohonnya. Dari mulai urusan kesejahteraan raga manusia sampai kesejahteraan ruhaninya. Ia menjadi software yang menyambungkan segala macam keterputusan.

Sayangnya, istilah itu berangsur-angsur hilang di tengah komunikasi kita. Atau bergeser maknanya menjadi sekedar "gembala" ternak. Belum lagi generasi muda yang lebih memilih pergi ke kota, bekerja sebagai buruh kantoran dan pabrik. Alias workaholic. Mereka enggan meneruskan profesi bapaknya sebagai petani dan gembala ternak. Ujung-ujungnya menjual sawah untuk modal hidup di kota. Istilah _budak angon_ pelan-pelan terdengar asing, bahkan akan lenyap pada waktunya.

Hilangnya istilah itu menyebabkan kita tidak punya indikator pemimpin yang diharapkan. Kecuali istilah "kapasitas" yang cenderung kognitif dan melemahkan pertimbangan mental dan nilai-nilai personal. Namun tidak berarti hilangnya istilah, penanda, simbol, dengan serta merta hilang juga spiritnya.

"Jadi, kita perlu berupaya menyelamatkan spirit budak angon dengan istilah lain?" tanyanya.

"Iya, saya kira itu perlu," jawab saya sembari menyulut sebatang kretek.

"Ada istilah lain yang masih banyak digunakan," lanjut saya, "yaitu kata 'kampungan'. Walaupun istilah ini mengandung citra dan stigma negatif, tetapi perlu ada penyegaran. Memang kalau kita buka KBBI, tertulis di sana pengertian buruk seperti terbelakang, culun, dan jauh dari peradaban yang maju. Tapi dari opsi pengertian itu, ada juga yang baiknya, yakni melakukan kebiasaan kampung."

Lebih lanjut saya sertakan perbandingan dengan istilah ummīyyu yang disematkan kepada kanjeng Nabi Muhammad. Banyak orang mengartikannya dengan "tuna-aksara", tidak bisa baca dan tulis, buta huruf dan buta baca. Sementara ada juga yang mengartikannya sebagai "orang kampung" atau "berasal dari perkampungan".

Maka seperti kebiasaan orang kampung yang hidup sederhana, saling membantu walaupun tanpa diminta, dekat dengan bahasa indung, mengerti apa yang dibutuhkan rakyat kecil, pemimpin _nu ngampung_ punya semua indikator itu. Boleh jadi ia tidak lihai untuk bicara dengan bahasa asing, tidak mengerti istilah-istilah barat dalam hal moral, arsitektur bangunan, manajemen yang moderen, tapi ia punya pandangan dan makna-makna filosofis sendiri yang lahir dari proses panjang. Ia bukan pemimpin instan yang begitu saja datang, tetapi ia sudah di sana sejak dulu, sudah ada dan dibentuk oleh kesadarannya sebagai orang kampung yang terpanggil untuk mengasuh kita semua.

Hendra Januar

  • view 30