Siluet Senja

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Desember 2016
Siluet Senja

Suatu senja ketika itu, aku membayangkan ia keluar dari balik bukit yang diiringi semburit mega di langit. Aku membayangkannya menjadi siluet yang berjalan menari-nari dengan rambut yang tercerai berai, dan dengan tubuh yang manja melangkahkan kakinya ke arahku.

Aku membayangkan langit yang memerah menjadi warna yang melatari kehadirannya. Burung-burung yang ceria beterbangan mengitari setiap langkahnya, sambil menyanyikan lagu "L'oxcile De Matrius" dari Alan Mattew. Lagu yang dahulu pernah dinyanyikan bersama di sebuah pesta kecil di tepi pantai.

Aku habiskan sebatang rokok yang tinggal tiga kali hisapan. Dilihat olehku, atau oleh khalayanku, dia benar-benar keluar dari balik bukit lengkap dengan gambaran yang aku harapkan. Seakan aku tidak peduli apakah ia hanya imajinasiku atau memang senja memberi keajaiban di luar nalar. Aku hanya ingin menyambutnya bersama sisa kenangan yang bisa menjadi topik pembicaraan ketika waktu tiba-tiba membeku.

Tak lama kemudian ia benar-benar berjalan dan mengampiriku yang sedari tadi hanya menatapnya. Siluet itu kini menampilkan warna kulitnya yang indah dan bajunya yang terbuat dari kain tipis, mirip selendang yang hanya dilingkarkan ke tubuhnya. Wajahnya kini terlihat jelas. Wajah yang selalu hadir setiap kali aku ingin mengenang siapa yang paling aku cintai. Kini ia semakin mendekat dengan senyuman di wajahnya yang kian merekah.

"Hai, sudah lama menungguku, sayang?"

"Tidak. Tapi, apakah ini benar-benar kamu?"

Ia tak menjawab, hanya tersenyum manja. Wajahnya mendekat dan bibirnya yang merah jambu mendarat di keningku. Sebentar aku tahu ini mungkin kecupan rindu, atau mungkin benalu, aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli inikah aku yang sedang mimpi atau terjaga, ia benar-benar hadir dari balik bukit, menari-nari, mendekat, mengecup keningku dan kini ia duduk di sampingku dengan rambut hitam lurus yang tersibak-sibak angin.

"Sayang, maukah kau ikut denganku?" tanyanya.

"Kemana?"

Ia kembali tersenyum sambil menunjukkan arah kemana ia mengajakku pergi. Telunjuknya yang manis menunjuk senja yang semakin gelap, namun masih tersisa cahaya yang menempel di awan, menjadi mega yang tak lagi memerah. Aku sejenak berpikir, apakah maksud dari ajakannya itu. Terlebih lagi, bagaimana aku bisa berjalan menuju senja. Aku yang semula tidak peduli dengan khayalan atau kenyataan ini, tiba-tiba dengan ragu meminta penjelasan yang bisa dimengerti.

"Dimana itu senja? Apakah sebuah tempat yang ada di langit? Bagaimana aku menujunya, terbangkah? Apa ia benar-benar serius dengan ajakannya ini?" tanyaku.

"Kau memang masih seperti dulu, sayang, selalu memastikan semuanya harus masuk di akal. Kali ini simpanlah pertanyaanmu, kau akan temukan alasan setelah sampai di sana. Maukah?" pintanya.

"Aku tidak mungkin menerima ajakan dan informasi yang tidak aku mengerti, sekali pun darimu wanita yang aku cintai. Bukankah senja itu hanya sensasi saja? Senja hanya simbol dari pergantian siang ke malam? Senja bukan suatu tempat, bagaimana aku menujunya?"

Ia tak menjawab, hanya kembali tersenyum. Kini ia berdiri memberi isyarat bahwa ajakannya benar-benar serius. Sementara aku tetap duduk, aku merasa semua ini tidak masuk akal. Ia tahu aku menolak ajakannya, tetapi aku tidak melihat sedikit pun ekspresi kekecewaan di wajahnya. Ia kembali mengecup keningku, kecupan yang membuatku merasa damai, sebuah kondisi yang sulit digambarkan lebih dari itu.

"Selamat tinggal, sayang."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ia perlahan menjauh, melambaikan tangan sebagai tanda ia akan pergi --menghilang kembali. Langkah kaki itu pernah aku saksikan sebelumnya, beberapa tahun lalu. Ia terus melangkah, semakin mengecil dari pandanganku. Aku terus memandangnya yang kembali berjalan ke balik bukit, menjadi siluet yang menari-nari dan akhirnya hilang ditelan langit yang semakin gelap. Sedangkan aku kembali sendiri, duduk di beranda bersama kopi yang sudah dingin dan sepuntung rokok yang mati tertiup angin.

 

(Hendra Januar)

  • view 1.2 K