Kant dan "Critique and Pure Reason": Sebuah Catatan Kecil

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 31 Juli 2016
Kant dan

Kant menerbitkan bukunya yang terkenal “Critique and Pure Reason” pada tahun 1781 M. Sebuah buku yang cukup tebal dan sulit dibaca, diisi aneka prosa yang kering dan kompleks. Dua tahun kemudian, Kant mencoba meringankan pembacanya dengan menerbitkan buku baru yang berjudul “Prolegomena to Any Future of Metaphysics”. “Prolegomena” adalah buku yang, menurut saya, sedikit mudah dipahami dari pada CPR; sebuah buku yang sepertinya menjadi sangat penting dalam metafisika dan epistemologi Kant.
 
Tujuan Kant, tiada lain, adalah untuk menentukan batas-batas dan ruang lingkup “nalar murni” (pure reason). Maksudnya, dia ingin tahu apakah dengan nalar saja, manusia mampu menentukan pengetahuan tanpa bantuan indra dan fakultas lainnya dalam diri manusia. Metafisika, tentu sebelum muncul Kant, membuat klaim tentang sifat dasar realitas yang semata-mata didasarkan pada nalar murni, namun klaim tersebut seringkali bertentangan satu sama lain. Selanjutnya, Kant yang dipengaruhi skeptisisme David Hume, sangat meragukan kemungkinan metafisika semacam itu.
 
Kant menggambarkan dua perbedaan penting: antara pengetahuan a priori dan a posteriori, antara putusan analitik dan sintetik. A posteriori adalah pengetahuan partikular yang diperoleh manusia dari pengalaman, sementara a priori adalah pengetahuan niscaya dan universal dalam diri manusia yang terlepas dari pengalaman, seperti pengetahuan matematika. Dalam putusan analitik, konsep predikat terkandung dalam subjek, misalnya kalimat “Bujangan adalah pria yang belum menikah” (dalam konteks ini, predikat mengacu pada apa pun yang sudah dipahami di dalam subjek, yaitu ‘pria yang belum menikah’). Tetapi dalam putusan sintetik, konsep predikat berisikan informasi yang tidak terkandung dalam subjek, dan oleh karena itu, putusan sintetik lebih bersifat informatif dari pada definitif. Biasanya, kita mengasosiasikan pengetahuan a posteriori dengan putusan sintetik, dan pengetahuan a priori dengan putusan analitik. Misalnya, pada satu sisi kita menilai kalimat “semua angsa berwarna putih” sebagai putusan sintetik, karena kata ‘putih’ bukan bagian dari konsep ‘angsa’ (angsa hitam masih bisa disebut angsa meskipun warna hitam), tapi di sisi lain kita bisa menyebutnya sebagai pengetahuan a posteriori, karena kita hanya bisa mengetahui kalimat itu dari pengalaman setelah observasi.
 
Kant berpendapat bahwa matematika dan prinsip-prinsip sains mengandung apa yang kemudian disebut dengan ‘pengetahuan synthetic a priori. Misalnya, “7+5=12” adalah a priori karena merupakan kebenaran niscaya dan universal yang terlepas dari pengalaman, tetapi juga sintetik karena konsep “12” tidak terkandung dalam konsep “7+5”. Kemudian menurut kant, hal yang sama juga berlaku pada prinsip-prinsip ilmiah-saintifik, seperti “untuk setiap aksi atau gerakan ada persamaan reaksi yang berlawanan”, karena ia berlaku secara universal, maka harus menjadi pengetahuan a priori, bukan pengetahuan a posteriori yang hanya menceritakan pengalaman partikular.
 
Fakta bahwa kita mampu meraih pengetahuan synthetic a priori, menunjukkan, dengan nalar murni saja, kita mengetahui kebenaran. Namun demikian, Kant tidak mengikuti metafisika-rasional yang menyatakan bahwa nalar murni memiliki kekuatan tersendiri untuk memahami misteri realitas termasuk semesta. Sebaliknya, Kant berpendapat, banyak dari apa yang kita anggap sebagai realitas dibentuk oleh pikiran kita sebagai pengamat (observer). Pikiran, menurutnya, tidak secara pasif menerima informasi yang disediakan indra. Kebalikan dari itu, pikiran secara aktif ikut membentuk dan menciptakan pengertian kita tentang realitas. Jika peristiwa dalam pengalaman kita berlangsung dalam waktu tertentu, itu karena pikiran kita mengatur pengalaman sensorik pada perkembangan yang temporal. Dan jika kita melihat beberapa peristiwa menyebabkan lahirnya peristiwa lain, itu tidak lain karena pikiran kita menciptakan pengertian tentang berbagai peristiwa dalam istilah ‘sebab’ dan ‘akibat’. Argumentasi Kant sesuai dengan contoh orang yang akan melihat realitas berwarna biru kalau saja memakai kecamata biru, dan akan terlihat merah jika pakai kecamata berwarna merah.
 
Tentang “ruang dan waktu’, Kant berpendapat, bahwa keduanya adalah bentuk intuisi murni yang datang dari fakultas-sensibilitas (faculty of sensibility), dan konsep fisika seperti sebab-akibat adalah bentuk intuisi murni dari fakultas pemahaman (faculty of understanding). Pengalaman indrawi menjadi rasional karena fakultas-sensibilitas dalam diri kita memproses itu, mengorganisirnya sesuai dengan intuisi kita tentang ruang dan waktu. Intuisi yang Kant maksud adalah sumber dari matematika: pemahaman kita tentang angka-angka berasal dari intusi kita atas moment yang terjadi berturut-turut dalam waktu, sementara geometri berasal dari intuisi kita tentang ruang. Segala peristiwa yang berlangsung dalam ruang dan waktu masih tidak bermakna dan bercampur aduk tanpa fakultas yang ada dalam diri kita.
 
Jika ruang dan waktu adalah konstruksi pikiran, maka kita akan bertanya-tanya apa yang ada “di luar sana” (out-there), yang independen dari pikiran kita. Kant menjawab bahwa kita tidak mungkin mengetahuinya secara pasti. Indra kita bereaksi terhadap stimulus yang datang di luar mental, tetapi kita hanya memiliki pengetahuan tentang bagaimana mereka muncul untuk kita setelah diproses oleh fakultas sensibilitas dan pemahaman. Sesuatu yang Kant sebut sebagai “things-in-themselves” tidak bisa diketahui oleh manusia secara pasti. Kant kemudian membedakan dunia noumena, yaitu sebuah dunia pada-dirinya-sendiri, dan dunia fenomena, yaitu dunia yang muncul ke dalam mental kita.
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi: Kant, Immanuel, Critique of Pure Reason. Trumpinton Street UK: Cambridge University Press, 1998.

  • view 317