Semacam Perubahan

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 14 Juni 2016
Semacam Perubahan

Di satu sisi orang mengusung kebebasan dari level berpikir sampai bertindak, tapi di sisi lain karena kebebasan itu terjadi kekacauan dimana-mana. Kemarin ada kabar tentang seorang gadis, kira-kira berusia 15 tahun, diperkosa dan dibunuh oleh lima orang sekaligus. Ironisnya, salah satu dari lima orang itu adalah pacarnya.

Padahal di negri ini ada hukum. Tapi hukum seperti kehilangan harga dirinya, kehilangan fungsinya sebagai 'pengendali' keadaan. Hukum dibuat agar supaya kehidupan masyarakat bisa aman, harmonis, damai dan bisa hidup dalam atmosfer yang manusiawi. Terus terang saya tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Terkadang saya khawatir, bagaimana kelak anak cucu saya menjalani hidup.

Bagi mereka yang hidup nyaman dan segala sesuatunya terkondisikan, mungkin tidak ada masalah. Tapi bagi sebagian besar masyarakat, hal demikian sangatlah mengancam. Mereka yang bahkan tidak sanggup membangun pagar untuk melindungi rumahnya; mereka yang harus bekerja siang dan malam demi menafkahi keluarga, sementara anak-anaknya pada saat yang sama tidak sempat diperhatikan. Anak-anak itu, disebabkan kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, kemudian hidup bebas, bergaul dengan siapa saja yang dianggap menyenangkan. 

Saya dan mungkin orang yang menyadari hal ini akan berkata bahwa ini semua harus diubah. Iya, harus diubah. Tetapi, dengan cara apa? Orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan bukanlah orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang pintar yang mengenyam pendidikan tinggi. Kalau pun mereka itu sebenarnya bodoh-bodoh, bukankah masih ada para professor yang duduk di kampus-kampus yang sekiranya mampu menciptakan solusi. Tetapi nampaknya mereka pun tak kunjung sanggup membenahi keadaan yang terlanjur kacau ini. Bagaimana?

Ada satu cerita yang saya pangkas jadi satu paragraf. Cerita yang barangkali bisa menjadi bahan untuk memunculkan optimisme dalam diri dan menjawab sedikitnya apa yang harus diperbuat oleh setiap individu.

Suatu ketika ada seorang yang bertekad merubah dunia. Dari waktu ke waktu ia tak kunjung berhasil untuk melakukannya. Kemudian ia sadar bahwa untuk merubah dunia harus terlebih dahulu merubah keadaan di Negrinya. Hal yang sama terjadi, negrinya pun tidak mengalami perubahan. Lalu ia berpikir ingin merubah kotanya dimana ia tinggal. Pun demikian, kondisi kota tak berubah. Ia kemudian berpikir untuk merubah keluarganya saja. Tapi tetap tak ada perubahan. Pada akhirnya ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatian, yaitu ia harus merubahh dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum merubah yang lain.

Cerita itu tertulis dalam cerita seorang Biksu di China. Sebuah cerita rakyat yang sifantnya universal, bahwa dimana pun dan kapan pun orang mesti terlebih dahulu melihat dirinya. Ada hukum logika yang mengatakan: hanya yang memiliki X yang mampu memberi X. Orang tidak mungkin memberi kebahagiaan kepada orang lain jika ia tidak memiliki kebahagiaan. Orang tidak mungkin membenahi keadaan lingkungannya sebelum ia berbenah diri.

Merubah diri adalah hal yang tersulit. Berabad-abad manusia hidup di dunia terus-menerus mencari cara bagaimana diri mereka bisa berubah ke arah lebih baik. Samapai muncullah pembahasan yang memotong frasa "merubah diri" menjadi kata per kata. Yaitu, membahas secara lebih dalam apa itu "perubahan" dan apa itu "diri". Sehingga diharapkan ada semacam pemahaman yang integral dan holistik tentang diri sendiri. 

Dari sekian banyak pengertian tentang "perubahan", saya hanya ingin mengambil satu pengertian yang mungkin paling mudah diterima oleh khalayak. Menurut Ibn Sina, "berubah" syarat dengan "gerak", dan "gerak" adalah perubahan dari pontensi menjadi aktual. Maksudnya begini, jika ada seseorang yang berpotensi untuk menjadi pemain bola, maka orang tersebut telah mengalami perubahan ketika sanggup bermain bola; atau ketika saya sakit, saya berpotensi untuk sembuh, dan setelah sembuh itulah saya disebut mengalami perubahan. Pengertian perubahn sesederhana itu, tetapi masuk akal.

Namun yang tersulit adalah mencari pengertian tentang "diri" yang terkadang disimbolkan dengan kata "aku". Seseorang berkata,"Aku lebih suka buah jeruk dari pada buah apel." Pada saat yang sama ia seolah-olah telah memahami apa yang ia katakan, yaitu 'aku' dalam kalimat itu. Tetapi kalau kemudian ditanyakan kepadanya siapa 'aku' dalam ungkapannya, barangkali ia akan bingung, siapa. 

Kata "aku", menurut Ibnu Sina, adalah pengetahuan yang tak perlu dipertanyakan. Sebab kata tersebut sudah jelas, yaitu 'aku' adalah yang di sini, yang menulis atau yang berkata-kata. 'Aku' adalah keseluruhan yang terkait dengannya. Saking jelasnya, maka upaya mencari pengertian tentang 'aku' malah akan berakhir tidak jelas. Sesuatu yang sudah jelas tak memerlukan penjelasan. 

Dengan demikian, jika kita mengawinkan kata "merubah' dan kata "diri", maka akan menghasilkan pengertian sebagai berikut: 

Merubah diri adalah upaya mengaktualkan segala potensi positif dalam diri manusia.

Mengaktualkan berarti menjadikan sesuatu yang semula belum terwujud menjadi nyata. Sehingga diharapkan seorang manusia belum seharusnya memimpin selainnya selama segala potensi dirinya belum terwujud. Hal ini sangat mudah dipahami, tetapi cukup untuk menjelaskan bagaimana seseorang perlu merubah dirinya sebelum merubah orang lain. Seseorang perlu melihat apa yang kurang dalam dirinya sebelum melihat kekurangan orang lain. 

Bangsa ini memang memerlukan perubahan total dalam segala aspek, dan perubahan tersebut mustahil terjadi hanya jika setiap individu masih berada dalam kondisi statis, bahkan bergerak ke arah yang lebih buruk. Ini yang kemudian disebut "revolusi kemanusiaan"; setiap manusia perlu bercermin, melihat dirinya sendiri yang serba kekurangan. Setiap manusia pertama kali perlu menjadi pendengar yang baik, memasukkan sari-sari makna ke dalam dirinya untuk merubah apa yang belum nampak sebagai kebaikan. 

 

 

 

  • view 125