Jumlah Tuhan

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2016
Jumlah Tuhan

Selepas sholat asar, dia bergegas menemani kakeknya yang tengah duduk di halaman rumah. Sambil menikmati teh panas dan beberapa biskuit, dia mulai mengungkapkan pertanyaan yang selama ini membuatnya bingung.

"Kek, Tuhan itu banyak ya?" tanyanya dengan raut muka sedikit serius.

"Maksudnya?"

"Maksudnya, Tuhan itu ada berapa, Kek?"

"Satu."

"Tapi kata ustadz, Tuhan itu dimana-mana."

"Iya, dimana-mana."

"Berarti banyak dong, Kek?"

Si kakek sejenak terdiam, mencari jawaban termudah agar bisa dipahami oleh cucunya yang baru berusia 15 tahun. 

"Jadi, gimana Kek?" tanyanya kedua kali.

"Kakek akan jawab, tapi dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Cari tujuh ember yang berisi air jernih, lalu simpan di halaman rumah selepas sholat dzuhur."

"Beneran, Kek?"

"Iya."

"Memang untuk apa ember dan air itu?"

"hehe..bawa saja besok."

Demi mendapatkan jawaban, dia berhasil mengumpulkan tujuh ember bahkan sebelum adzan Isya berkumandang. Di samping dia tahu besok pagi harus sekolah, dan tidak akan ada waktu untuk mengumpulkan ember-ember itu sampai siang tiba.

Keesokan harinya, sepulang dari sekolah, dia kumpulkan tujuh ember yang berisikan air itu di halaman rumah. Segera dia memanggil kakeknya yang baru saja selesai sholat dzuhur. 

"Kek, ayo, ini terkumpul embernya!"

"Baiklah."

"Jadi, gimana kek, apa jawabannya?"

"Coba lihat matahari di atas itu dan jelaskan apa yang kamu lihat!" si kakek memintanya sambil menunjuk ke atas.

"Silau, gak bisa dilihat."

"Tapi kamu tahu ada berapa?"

"Ada satu."

"Walau sulit dilihat dengan jelas?"

"Iya."

"Nah, sekarang, coba lihat air di ember itu, apa yang kamu dapatkan?"

"Aku lihat matahari, tapi gambarnya saja,  pantulannya saja. Kalau yang asli di atas gak bisa dilihat jelas."

"Apakah disetiap ember itu ada pantulan matahari?"

"Iya ada."

"Jadi, berapa jumlah matahari?"

"hmm..ada satu tapi banyak pantulannya."

"Benar sekali. Tuhan itu dzatnya satu dan hanya satu-satunya, seperti matahari itu. Tetapi gambaran Tuhan ada banyak dan tak terhitung. Jadi, Tuhan itu satu sekaligus banyak. Satu dalam dzatnya dan banyak dalam gambarannya. Satu dalam dzat bukan satu seperti angka satu yang bisa ditambah angka satu lainnya hingga hasilnya dua. Satu dalam dzat adalah satu yang tak bisa dibagi-bagi, satu yang bukan hasil dari penjumlahan, satu yang sederhana, satu yang tak terbatas oleh apapun, bahkan tak terbatas oleh kata "tak terbatas itu sendiri", satu yang meliputi semuanya dimana tidak ada yang terbebas darinya. Manusia hanya bisa mendekatinya melalui gambarannya yang banyak itu. Gambarannya yang berada dimana-mana, bahkan kemana pun manusia menghadapkan wajah disana ada wajah Tuhan."

"