Ingin Menjadi Manusia

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 21 Mei 2016
Ingin Menjadi Manusia

Ketika ditanya apa cita-cita yang akan diwujudkan ketika dewasa nanti, saya menjawab ingin menjadi seorang dokter. Waktu itu saya masih berumur tujuh tahun dan sedang duduk di kelas dua SD (sekolah dasar) yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Dengan usia yang masih belia, saya memilih jadi dokter tanpa alasan sama sekali, kecuali hanya terpengaruh teman-teman sekelas yang juga sebagian besar jawabannya sama.

Kira-kira sejak saya duduk di  kelas dua SMP (sekolah menengah atas), cita-cita mulai berubah, saya ingin menjadi polisi, sebuah cita-cita yang populer ketika itu. Tetapi cita-cita menjadi polisi kembali berubah ketika saya duduk di kelas tiga SMA (sekolah menengah atas), setelah tahu kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan, di samping saya sudah tidak berminat menjadi polisi atas dasar tertentu. Akhirnya, saya pikir ingin menjadi guru saja, menjadi pengajar di sebuah sekolah seperti guru-guru yang telah mengajari saya banyak hal baik di dalam maupun di luar kelas. 

Kemudian saya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Saya merasa dunia kampus memang sangat berbeda; bersentuhan dengan banyak pemikiran-pemikiran tentang hampir segala hal yang tidak saya dapat di sekolah, khususnya tentang falsafah hidup. Sehingga perlahan-lahan saya berpikir bahwa cita-cita memilih profesi tertentu tidak menjadikan saya mengerti banyak hal tentang diri sendiri. Karena sebab itulah, menurut hemat saya waktu itu, saya harus lebih dulu bercita-cita ingin menjadi manusia saja, yaitu manusia yang mengerti siapa dirinya.

Siapakah manusia itu?

Semula saya berpikir bahwa cita-cita semacam itu mudah, cukup menjadi orang normal seperti yang lainnya, maka saya sudah dan layak disebut manusia. Boleh jadi saya disebut manusia secara umum ketika hidup seperti teman-teman saat itu: kuliah, kerja, makan, minum, tidur, pacaran, ngokrong, berorganisasi, bermain musik dan lain sebagainya, namun ada banyak hal lain yang luput dari pengetahuan saya tentang siapa manusia itu. 

Menurut seorang bijak dari Yunani, Aristoteles, untuk mengenal siapa manusia kita perlu mencari perbedaannya dengan makhluk lain, perbedaan yang bersifat inti bukan luar. Di dunia ini terdapat banyak entitas atau wujud yang bisa kita cermati dengan mudah, mulai dari benda-benda, tumbuhan, hewan sampai manusia itu sendiri. Kemudian, apa yang membedakan satu sama lain, sehingga kita bisa mengatakan bahwa meja bukan kucing dan kucing bukan tumbuhan, tumbuhan bukanlah manusia. Mengatakan tumbuhan itu bukan hewan diperlukan aspek perbedaan dari keduanya. Lantas, apakah yang membedakan tumbuhan dengan hewan?

Pertama kali, mari kita cari aspek kesamaannya untuk menemukan perbedaannya. Tumbuhan memiliki fisik dan fisiknya mampu untuk tumbuh bergerak, seperti tunas kelapa yang perlahan-lahan tumbuh menjulang dan membuahkan kelapa muda. Hewan pun demikian, misalnya seekor anjing, ia memiliki fisik yang bisa tumbuh sama seperti tumbuhan. Perbedaannya adalah tumbuhan tidak punya keinginan sehingga tidak punya pilihan dalam hidupnya, sementara hewan memiliki keinginan sehingga mampu memilih sesuatu termasuk kemana ia ingin berjalan. Maka wajar saja jika kita tidak pernah melihat sebuah pohon membalas pukulan orang yang menendangnya. Lebih gampangnya lihat table di bawah ini:

  PERSAMAAN PERBEDAAN
Tumbuhan Memiliki fisik dan tumbuh bergerak -
Hewan Memiliki fisik dan tumbuh bergerak Memiliki keinginan/pilihan

 

Bagaimana dengan manusia?

Manusia pun memiliki apa yang dimiliki hewan dan tumbuhan, yaitu manusia memiliki fisik, juga ia tumbuh bergerak dan memiliki keinginan. Dalam hal ini manusia adalah hewan, dan sama derajatnya dengan hewan-hewan lainnya. Tentu kita tidak mau disamakan dengan kucing atau anjing atau semut, kita merasa lebih berderajat tinggi dari hewan-hewan itu. Tetapi dengan mengatakan manusia lebih tinggi derajatnya dari hewan itu tidak cukup, kita harus tahu aspek pembeda dalam diri manusia sehingga penolakan kita beralasan. 

Cara mencari apa yang membedakan manusia dengan hewan atau binatang adalah dengan melihat apa yang bisa dilakukan manusia yang tidak bisa dilakukan oleh hewan, atau sebaliknya, mencari apa yang tidak sanggup hewan lakukan sementara manusia sanggup. 

Saya pernah melakukan percobaan sederhana. Suatu hari saya memasukkan sepotong ikan asin ke dalam bungkus plastik, kemudian saya sodorkan ke depan kucing yang sedang lapar. Apa yang terjadi? Kucing tersebut hanya menjilat-jilat bagian luar dari bungkus plastik, hanya mencium bau asin tapi tidak tahu bagaimana cara meraih ikan asin yang berada di dalam bungkus. Pada hari berikutnya, saya coba membungkus dua batang rokok dan memberikannya kepada seorang teman, kemudian dengan sigap teman saya itu membukanya lalu menyulutnya. 

Dari fenomena tersebut saya menarik kesimpulan bahwa selain mampu memilih manusia juga memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalan, menganalisa dan membedakan sesuatu. Sementara dalam diri hewan tidak memiliki kemampuan itu, kecuali hanya kemampuan memilih saja. Usaha memecahkan persoalan dengan menganalisa dan membedakan satu hal dengan lainnnya adalah kinerja akal yang berproses dalam pikiran. Sehingga, dari percobaan itu, kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang menjadi pembeda dalam diri manusia dengan tumbuhan dan hewan adalah manusia memiliki akal sedangkan yang lainnya tidak. Lebih jelasnya, lihat table berikut:

  PERSAMAAN 1 PERSAMAAN 2 PERBEDAAN
Tumbuhan (1) Fisik, (2) Tumbuh-bergerak,  -- --
Hewan/binatang (1) Fisik, (2) Tumbuh-bergerak,  (3) Kehendak Memilih --
Manusia (1) Fisik, (2) Tumbuh-bergerak,  (3) Kehendak Memilih (4) Akal

 

Dengan demikian, pada diri manusia ada aspek tumbuhan dan hewan, sementara apa yang membedakan manusia dari keduanya terletak pada akal yang berfungsi dalam pikiran. Aspek akal yang ada pada diri manusia, selain merupakan pembeda dari yang lainnya, juga merupakan instrument yang menjadikan manusia lebih tinggi derajatnya dari tumbuhan dan hewan. Semakin manusia yang memperluas dan mempertajam pikirannya, semakin ia menjadi manusia. Sebaliknya, semakin mempersempit dan menumpulkan pikirannya, maka semakin ia mendekati derajat hewan. 

Wallau A'alam.


  • Diane Yuyie
    Diane Yuyie
    1 tahun yang lalu.
    Kepanjangan SMP nya salah hehe jangan jangan bang hendra nih guru biologi

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    jadi, setelah (sudah) menjadi manusia, apa cita-cita Pak Hendra selanjutnya?
    sudahkah juga itu terwujud?

    *nanya ribet

    • Lihat 14 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Bagus..
    Tapi mas, saya juga pemerhati kucing, kebetulan kl kucing saya dikasih ikan asin dalam plastik, otomatis dicakar2nya plastik itu sampai dengan segala cara dia gigitlah si ikan asin.
    Dia pasti mendapatkannya, hanya insting hewan lebih brutal dalam meraih keinginannya.kecuali hewan yang sudah diajari tata krama dalam mengambil makanan.
    Saya pikir sih gitu.. mungkin kucingnya beda ya..

    • Lihat 4 Respon