Lapar

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2016
Lapar

Tidak ada yang lebih luka dari rasa lapar. Perut kosong, perih dan tubuh terasa lemas tak berdaya. Teringat sahabat yang dahulu pernah bersama, merasakan pedihnya jalan raya. Ketika malam tiba, uang recehan hanya cukup membeli segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok kretek, sambil berdiskusi tentang apa pun yang bisa sejenak melarikan diri dari kenyataan.

Tidak ada yang lebih gelap dari rasa lapar. Penglihatan berkurang, mata semakin sayu dan gemetar tangan ketika terangkat. Allah! terbayang oleh kami, betapa enaknya sepiring nasi, semangkuk sup dan segelas teh panas. Rasa lapar melebarkan ruang khayal tentang kenikmatan dunia. Dunia yang penuh tipu daya, sedang ukuran perut tidak sebesar nasi sebakul.

Tidak ada yang lebih tua dari rasa lapar. Sejak Adam mencuri buah Khaldi, sampai ratusan pengemis yang berhamburan di Ibu Kota. Dahulu bagi kami, rasa lapar adalah satu episode yang harus segera dituntaskan. Suatu ketika kami berharap bisa makan sekenyangnya dan sebebasnya meski pun dengan lauk seadanya dan tempat sederhana. 

Wahai, sahabat yang dahulu pernah sama-sama terkulai tak berdaya, yang mengikhlaskan jika malam itu kita tiada, apakah kau merasakan rasa lapar itu terulang kembali seperti har ini. Dimanakah kini kau hidup setelah lama kita tak bersua dan menikmati secangkir kopi sambil tertawa dan bicara soal dunia serta tujuan hidup anak manusia. Sahabat, aku di sini, kau dimana?