Terasingkan

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Mei 2016
Terasingkan

Orang-orang yang berkerumun dan lalu lalang di pasar adalah misteri. Kita tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Mirip seorang sopir yang tak pernah mengenal penumpangnya satu per satu. Seperti itukah juga kehidupan yang lebih luas?

Ada tujuh koma tiga (7.3) jumlah manusia di planet ini. Kita hanya mengenalnya kurang dari seribu. Sisanya adalah orang asing yang melintas dalam kehidupan. Seperti dunia facebook. Berteman dengan tiga ribu akun, namun yang dikenal hanya sedikit. Mereka muncul silih berganti di beranda, kita tak pernah tahu siapa mereka. Kecemasan adalah ketika ada dua orang berdebat tentang suatu perkara tanpa mengenal satu sama lain. 

Suatu ketika saya berada di dalam busway menuju Manggarai. Ada puluhan orang di dalamnya, sebagian duduk dan lainnya berdiri. Kebanyakan mereka bermain gadget, meski pun duduk perdampingan, rasanya ada jarak yang cukup jauh diantara mereka. Mereka seperti bayang-bayang yang bergerak berbentuk manusia-manusia. Bayang-bayang yang memadati Ibu Kota Jakarta.

Saya khawatir, bukan hanya ketika manusia satu sama lain mengalami suatu bentuk terasingan, lebih dari itu, adalah ketika setiap mereka terasingkan dari dirinya sendiri. Mereka disibukkan bekerja siang-malam hingga hilang waktu untuk sekedar menjenguk diri sendiri. Bahkan ketika Tuhan sengaja mengirimkan perasaan sepi, agar mereka sejenak menengok dirinya sendiri, mereka tak kunjung ingin. Dihempaskannya sepi itu untuk kemudian diganti dengan hiburan-hiburan.

Hidup menjadi semacam panggung teater. Setiap kita berusaha memainkan peran yang sekiranya cocok untuk kondisi tertentu, dan merubahnya pada kondisi lain. Canda tawa dan tangisan menjadi dua bentuk adegan sandiwara yang ditampilkan di tengah kerumunan. Jika teater sepenuhnya dimainkan, maka keseriusan menjadi bagian dari yang harus diperankan. Hingga semua merasa ada dalam tiada. 

 


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya sedih habis baca tulisan ini.
    terkadang merasa terasing di dunia nyata, lebih akrab di dunia maya.
    mungkin dunia nyata lebih 'kejam' dari ke-maya-an.
    ah, entah. semoga yang maya bisa mewujud dalam ke-nyata-an.

    • Lihat 2 Respon