Menggarami Laut

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 16 Mei 2016
Menggarami Laut

Memberi makna pada hidup ibarat menggarami laut. Beramai orang memproduksi arti atas apa yang dianggap tidak dipahami. Gunung-gunung tertancap, lautan membentang, hutan-hutan bersimbah ruah serta apa pun yang perlu ditafsirkan sebagai sesuatu. 

Pada saat yang sama peperangan terjadi dimana-mana, kekacauan merebak seperti rerumputan yang bisa tumbuh dimana saja. Setiap hari media informasi mengabarkan kekhawatiran. Ada seorang Ayah tega membunuh bayinya yang masih berumur bulanan. Belakangan, televisi diramaikan dengan seorang Mahasiswa yang berani membunuh dosennya. Malapetaka seolah tak terhindari. 

Pemerintah nampak kehabisan akal. Baru-baru ini mereka tengah memperdebatkan undang-undang tentang kekerasan seksual. Berhari-hari belum juga menemukan hukuman apa yang pantas untuk pelaku kekerasan seksual, khususnya pada anak-anak. Rasanya hukuman mati terlalu ringan. Tapi apa boleh buat, kematian adalah puncak, tak ada lagi di atas itu.

Sementara masyarakat disibukkan banyak hal. Sebagian dari mereka masih berdebat soal Agama, madzhab dan fatwa-fatwa sesat atas kelompok tertentu. Sebagian lainnya sibuk memikirkan bagaimana esok bisa tetap bertahan hidup. Ada juga yang mengejar setoran rumah dan kendaraan. 

Semua kita sibuk dengan perkara yang hanya menyangkut diri kita. Segala perkara terpecah-pecah. Seperti puing-puing bangunan, setiap orang mengambilnya satu per satu tanpa peduli dengan hal lainnya. Melihat hal ini, para pengkhotbah bertambah, rumah ibadah dibangun dimana-mana, membangun majelis-majelis untuk masyarakat agar bisa ingat tentang tujuan hidupnya.

Kenyatannya serba kekacauan terus terjadi. Mulai dari konflik antar saudara, teman sampai tingkat antar Negara. Manusia yang sejatinya adalah makhluk kecil di pusaran jagat raya, kini membusungkan dada, mengira bahwa mereka kuasa untuk menaklukkan segalanya. 

Sebagian kecil orang ada yang menyadari hal ini. Mereka yang sadar termenung, berusaha mengeja kembali kehidupan. Kembali menjadi anak kecil yang polos, yang bertanya-tanya dari mana kita berasal, sedang dimana kita dan hendak kemana. Mereka meletakkan dirinya pad dimensi lain. Melihat kehidupan dari jarak yang cukup jauh, hingga terlihat semua ini seperti gumpalan benang kusut, kusut sekali. 

Sementara mereka yang menyerah, akan hanyut dalam masalah-masalah yang tak kunjung usai. Satu perkara terpecahkan, muncullah perkara lain. Hari-hari yang dilewati terasa sesak di dada. "Tetapi begitulah hidup",kata mereka,"diam atau bergerak akan berakhir di nisan yang sama".

Memberi arti pada kehidupan sama saja membelah sesuatu yang semula utuh. Pikiran adalah pisau tajam yang dengannya sanggup menghancurkan Semeru sekali pun. Namun pikiran juga muara dari segala persoalan. Maka kita bisa membayangkan jika membiarkan dunia apa adanya. Pikiran digunakan seadanya. Tidak seperti seorang pemikir yang menafsirkan matahari terbit, padahal ditafsirkan atau tidak, matahari akan tetap terbit dari timur dan memancarkan cahaya. Dengan menelanjangi pikiran-pikiran, manusia akan tiba pada permenungan diri yang sebenarnya. Berusaha menemukan apa yang menjadikan dirinya tetap dirinya dan bukan orang lain.