Sekali Lagi: Tentang Cinta

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Mei 2016
Sekali Lagi: Tentang Cinta

Cinta adalah semacam cerita tak berkesudahan. Cerita yang dirangkai dari denyut-denyut nadi seorang manusia yang menyebarkan rindu pada gelombang, namun sesekali memahat luka di atas nisannya sendiri. Begitulah cinta, sejak Adam jatuh hati pada Hawa, sejak itulah manusia tak pernah bisa lepas dari sekelumit perasaan yang jatuh tiba-tiba.

Cinta mengalirkan ruhnya pada hati anak manusia sebagai modal untuk melihat hidup sebagai kanvas yang siap dilukiskan dengan hati yang tulus. Ia mengalir seperti sungai yang bermuara, mengikuti lekuk bumi untuk sampai ke laut sebagai tujuan, dan laut adalah tempat cinta menemui cinta yang lebih besar. Ia menyebar serupa udara yang menyelinap kepada setiap ruang yang tersisa, bahkan bagi pembenci sekalipun, jika masih tersisa ruang kecil dalam hatinya, cinta diam-diam akan merasukinya. Cinta semacam telur yang meretas, menjelma satu cerita yang diberikan kepada manusia sebagai kemudinya, kepada siapa ia tersampaikan.

Cinta telah melahirkan Kahlil Gibran yang begitu muram dan telah menciptakan Chairil Anwar yang pada setiap bait-bait puisinya menularkan gejolak tak berkesudahan. Di tangan para penyair, luka dan bahagia melebur dalam satu tarikan nafas.  Jika cinta sudah menjadi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan lidah untuk bicara, maka derita dan bahagia sama saja.

Detik demi detik beradu gesit dengan perasaan yang ditafsirkan sebagai cinta. Dari hari ke hari manusia mulai menafsirkan sebegitu rupa, tetapi manusia masih saja mencari-cari apa cinta itu sebenarnya. Sementara ilmu pengetahuan semakin maju, teknologi semakin canggih, dunia perlahan-lahan menjadi serba terukur  dan terencana. Gedung-gedung menjulang mengalahkan awan, tertancap di atas tanah yang dahulu pepohonan lebat berisikan sarang-sarang burung pernah hidup di atasnya. Manusia seolah mengabarkan kepada dunia bahwa mereka sudah menemukan cinta. Ya, cinta pada dunia.

Cinta memang sekelumit cerita tak berkesudahan. Sekali manusia berani menyudahi, cinta akan terus menelurkan banyak peristiwa dan membentuk kenangan-kenangan baru. Hingga manusia kembali berlomba menafsirkannya dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, sebab tak ada manusia yang kuasa melawan kenangannya sendiri, sebab pengertiannya manusia terletak pada (si)apa yang paling ia cintai. Begitulah cinta; sekali manusia menyudahi, selamanya ia akan ditemui. 

 

 

  • view 107