Di Hadapan Cermin

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Mei 2016
Di Hadapan Cermin

Di hadapan cermin saya belajar, untuk mengingatkan orang tak perlu bersuara. Seperti ketika suatu pagi saya bercermin sebelum beraktivitas, seketika cermin mengingatkan, ada rambut saya yang belum tertata rapi. Cermin tak perlu berkata-kata, apalagi meninggikan suara. Cukup ketika melihatnya, nampaklah kekurangan saya. Di saat orang-orang ramai berbicara dan saling mengingatkan satu sama lain, cermin tetap menjadi dirinya yang memantulkan pengertian tentang siapa saya sebenarnya. Cermin tahu, kata-kata lebih sering melukai hati manusia. 

Di hadapan cermin saya belajar, musuh saya yang sebenarnya bukanlah orang lain. Musuh yang nyata bagi saya adalah diri sendiri dengan segala kerumitan yang ada di dalamnya. Ibarat tumpukan benang kusut, saya tersadar, untuk memahami orang lain pertama kali saya harus mengenali diri sendiri dan melawan segala hasrat yang menyala-nyala. Pada zaman dimana orang-orang saling bertikai, bermusuhan satu sama lain, cermin mengingatkah bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah "dirimu dengan dirimu".

Di hadapan cermin saya belajar, ada yang selalu luput dari ucapan syukur kepada Tuhan. Cermin mengingatkan saya betapa sempurnanya raga ini. Mengingatkan bahwa saya adalah manusia, dan manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan. Rasa syukur itu seperti melempar saya dari ketinggian ego, sembari muncul kesadaran, ternyata saya tidak lebih sekedar satu ciptaan dari ciptaan Tuhan yang tak terbatas. Saya adalah satu titik yang teramat kecil di tengah jagat raya yang betapa besar dan dahsyat. Apalah artinya itu semua jika tidak disertai rasa syukur atas kehidupan yang begitu indah dan menyenangkan.