Cinta dan Ketidaktuntasan

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Mei 2016
Cinta dan Ketidaktuntasan

Cinta: sebuah pengertian yang mengoyakkan hati dan telah membingungkan manusia selama berabad-abad, sepatah kata yang menciptakan manusia-manusia pengkhayal tetapi juga bisa mendorong orang untuk merelakan dirinya. Sejak dahulu manusia mencoba merumuskannya dengan berbagai pengertian yang silih berganti. Tetapi kenyataaannya cinta tak pernah bisa dirumuskan, bukan bagian dari apa yang selalu kita tangkap melalui konsep semata.

"Cinta tak punya definisi," konon demikianlah kata Ibnu Arabi, seorang filsuf sekaligus sufi besar kelahiran Spanyol pada Abad-12 itu. Di dalam risalahnya Futuhat al-Makiyyaia menambahkan," Barang siapa yang mendefinisikan cinta berarti tak mengenalnya, karena cinta adalah anggur tanpa melepas dahaga."

Perihal cinta: kita hanya menangkapnya sebagai sesuatu yang terjadi begitu saja. Ada semacam proses yang muncul tiba-tiba tanpa bisa dipotret secara utuh. Ketiba-tibaan mengisyaratkan adanya pengetahuan di luar usaha kita menolak atau menariknya. Jalaluddin Rumi, sufi yang paling masyur dengan syair-syairnya mengungkapkan pengertian cinta sebagai Isyq. "Cinta adalah laut ke-tak-ada-an," begitu kata Rumi. Cinta menjelma tabir yang paling rahasia, sekalipun kita mencoba membukanya akan nampak tabir yang lain, begitu seterusnya sampai tak dikenali.

Di hadapan nalar intelek manusia, segala sesuatu harus lolos dari pengadilan akal. Seolah ada dua kubu yang saling bersitegang: hati dan akal. Akal mendorong manusia untuk menyusun pengetahuan secara universal, sistematik dan proposisional. Akal manusia sibuk menerangi ruang dan meraih kehidupan dunia. Sementara hati tempat bersemayamnya cinta, ia seperti hidup dengan dunianya sendiri. Seperti seorang anak kecil yang asik bermain di halaman rumah tanpa peduli siapa yang datang dan apa yang sedang terjadi di dunia.

Perhatikanlah ketika Rumi berkata:"Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu." Orang yang penuh dengan perasaan cinta akan menemukan tempat paling rahasia dunia. Tempat yang tak mungkin dijamah oleh Nalar manusia yang hanya menyelinap ke balik realitas yang kering, retak, saling bertubrukan dan tumpang tindih. Demikianlah kenapa para Filsuf Muslim menggolongkan cinta kepadaal-ilm al-huduri (pengetahuan langsung), yaitu pengetahuan yang tidak melewati pengadilan nalar. Hal ini bisa mudah dipahami ketika seseorang menyentuh api lalu berteriak merasakan panas.

Di tangan para penyair, cinta diletakkan di muara. Tak pernah ada seorang penyair yang berhasil secara utuh membangun pengertian tentangnya. Charles Bukowski, penyair sekaligus novelis asal Los Angeles-Amerika, ketika ditanya pengertian cinta ia menjawab,"Love is a fog that burns with the first daylight of reality." Dalam keilmuan logika, jawaban semacam itu tidak disebut definisi melainkan deskripsi metaforis; bahwa cinta adalah (seperti) kabut api yang membakar.


  • Diane Yuyie
    Diane Yuyie
    1 tahun yang lalu.
    Dahsyat penjabarannya

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    penuh dengan analogi kesusasteraan,dan yang pasti cinta itu gak serumit yang di bayangkan kok cuma bingung aja hihihihi, salam kenal

    • Lihat 12 Respon