Mencuri WiFi

Mencuri WiFi

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 01 Mei 2016
Mencuri WiFi

Kira-kira malam tadi, waktu sudah semakin larut, tapi mata saya masih terasa ringan. Sudah terlalu lelah membaca buku, akhirnya saya memutuskan membuka lap-top. Semula sekedar ingin refreshing, menonton film “300 BC”, film yang bercerita tentang Negri Spartan Yunani kuno. Memang, setelah saya dekat dengan pemikiran Yunani, rasanya selalu tertarik ingin tahu lebih jauh tentangnya.

Tapi rencana itu batal. Tak lama setelah menghidupkan lap-top, saya melihat network tertulis connections are available. Itu artinya, ada lebih dari satu sinyal “WiFi” hidup dan siap disambungkan. Tanpa banyak pikir, saya langsung click . Ternyata benar, ada dua koneksi yang siap tersambung.

Koneksi yang pertama tak bernama, hanya tertulis nomor handphone. Koneksi kedua bukan nomor, tapi tiga huruf yang tidak bisa saya sebutkan hurufnya—terlalu rahasia. Apa yang terjadi setelah saya mencoba menyambungkan dengan WiFi yang pertama? Error. Malah meminta Password yang tentu saja saya tidak tahu.

Sementara yang kedua—dan inilah yang menjadi motif saya menulis tentang WiFi—tidak ber-password. Mungkin yang punya lupa menguncinya, atau boleh jadi orangnya sangat baik hati dan sengaja membiarkan koneksinya bebas dijamah oleh siapapun. Saya mungkin terlalu “husnudzon”, karena boleh jadi ia lupa dan pada saat yang sama tidak rela kalau sinyalnya dirasuki.  

Setelah berjalan begitu lama, kira-kira sudah setengah jam saya berkoneksi dengan WiFi misterius itu, saya tak enak hati. Jangan-jangan tindakan saya termasuk pencurian. Saya membayangkan andai saja pemiliknya tahu saya menyelinap masuk, mungkin saya dilaporkan ke pihak yang berwajib,”ini kriminal!” itu kata-kata yang terbayang.

Tapi, setelah saya berulang kali berpikir, benarkah tindakan saya termasuk pencurian? Sementara sinyal tetaplah sinyal; ia tidak berwujud benda material, ia adalah kenyataan yang unseen (tak terlihat); ia adalah gelombang lembut yang menembus tembok kamar dan hanya bisa dilihat efeknya. 

Saya tidak memahami persoalan hukum, perdata atau pidana, halal atau haram dan lain sebagainya yang biasa dipelajari di kampus-kampus. Sebab, semua itu bermuara pada sebuah masalah mendasar: sesuatu disebut pencurian kalau ada “barang” yang diambil tanpa izin pemiliknya. Tapi, lagi-lagi, apakah yang dimaksud “barang”? dan apa yang diartikan sebagai pemilik? Lebih jauh, sebelum adanya manusia, siapakah yang memiliki ini dan itu, tanah ini dan tanah itu?

Kalau boleh saya membuat analogi, WiFi itu seperti perasaan, entah itu perasaan cinta, benci atau yang lainnya. Seorang pujangga lewat syairnya terkadang berkata “Kau telah mencuri hatiku”. Bahkan tidak sedikit lirik lagu yang menggunakan kata “mencuri”. Kenyataannya, mereka bukan pencuri, bukan pula kriminalis. Malah mereka disebut penyair yang lirik puisinya terdengar indah.

Perasaan dengan segala jenisnya sama dengan WiFi, tidak terlihat, tapi berefek. Terbayang oleh kita kalau perasaan itu bisa dilihat, kita akan sulit untuk menjalani hidup, ketika pergi ke sebuah Mall atau pasar, orang-orang bisa melihat bagaimana isi perasaan kita. Bagus kalau perasaannya sedang harmonis, tapi kalau sedang kalut dan penuh kebencian, siapa yang mau mendekatinya? Begitu juga seorang perempuan akan tahu apa isi hati seorang lelaki sebelum ‘menyatakan perasaan.

Oleh karena itu, kata mencuri masih bersifat ambigu, uquivocal, polisemik dan metaforis. Tergantung apa objek yang diambil. Kita bisa membedakan antara kalimat mencuri hati, mencuri impian, mencuri semangat, mencuri mobil, mencuri kedudukan dan mencuri-mencuri lainnya. Sama dengan menduduki kursi tentu berbeda dengan menduduki kekuasaan.

Benarkah manusia itu "memiliki"?

Bayangkan dunia ini sebelum datangnya manusia. Hutan-hutan yang terhampar luas dan gunung-gunung yang tertancap indah. Tanah luas disertai hewan-hewan yang bersuka ria hidup di atasnya. Ikan-ikan yang saling mengejar di dalam air, sesekali mereka meloncat ke permukaan. Di kaki gunung, air terjun dari puncak ke bawah.

Setelah manusia hadir dan menghuni bumi ini, lambat laun berubah. Tanah yang dulu merdeka dari segala kepemilikan, selanjutnya diukur, dibatasi dan diatasnya ditulis di atas papan: Tanah ini milik Negara!

Kalau dilihat dari kenyataan itu, maka manusia bukan pemilik, tapi sementara hanya mengklaim sesuatu yang bukan miliknya. Mengklaim adalah bahasa halus dari ‘mencuri’. Itu artinya, semua manusia adalah pencuri, mencuri bumi dan segala isinya yang semula entah milik siapa.

Kita pastinya menolak disebut pencuri. Sebab Tuhan telah menitipkan alam ini kepada manusia untuk menggunakannya dan mengelolanya demi keberlangsungan hidup manusia. Mengelola berikut memiliki arti menjaganya dari kerusakan dan kehancuran. Alam yang semula hijau dan burung-burung beterbangan dari pohon ke pohon, manusia harus melestarikannya.

Kenyataanya tidak demikian. Alam terasa semakin memburuk saja. Banyak terjadi kebakaran hutan, mendirikan gedung-gedung bertingkat dan menggali bumi sedalam-dalamnya demi ‘kepuasan’ manusia. Dunia jadi semakin sesak, sulit bernafas dan waktu semakin tergesa-gesa.

Manusia kemudian membuat sistem ekonomi, sistem budaya dan sistem kekuasaan. Dari sistem ekonomi muncullah nilai tukar uang, untung dan rugi, serta banyak lagi yang lainnya. Sementara dari budaya dan kekuasaan, terciptalah sistem pasar budaya dan jalan menundukkan manusia.

Mereka lupa bahwa Tuhan yang sebenar-benar pemiliki segalanya, Dialah pemiliki akhir dari semua (al-Fatihah, 1:4). Manusia tak memiliki apa-apa, bahkan manusia bukan pemiliki dari dirinya sendiri. Dimulai dari raga, jiwa dan ruh adalah milik Tuhan. Karena manusia sejak awal tak memiliki apa-apa, seharusnya mereka tak merasa kehilangan apa-apa. Sebab yang kehilangan adalah yang memiliki. Istilah "kehilangan" adalah kata yang muncul setelah manusia merasa memiliki, tetapi lain halnya ketika sadar bahwa semua adalah titipan yang perlu dijaga dan dirawat dan bukan dieksploitasi dan digunakan sebebasnya tanpa terkendali.

Manusia: Makhluk Faqir

Istilah "faqir" lebih dalam artinya ketimbag "miskin". Miskin adalah pengertian tentang manusia yang kekurangan harta, sebatas itu saja. Tetapi faqir adalah pengertian yang bukan hanya kekurangan harta, tetapi seluruh jiwa. Manusia tak pernah bisa merdeka, tak bisa berdiri sendiri, ia akan terus membutuhkan tempat bergantung. Karena manusia adalah wujud yang terbatas, yang terkungkung dalam ruang-waktu; ia bergerak dalam sejarah sebagai wujud yang tumbuh dan berkembang.

Bukti sederhana dari keterbatasn manusia adalah ketika tak mampu melihat apa yang ada di balik tembok sebuah rumah atau kamar. Bahkan manusia tak sanggup melihat dengan jelas sebuah benda dengan jarak ratusan meter, atau mencium sesuatu yang tertutup rapat. masih kalah oleh seekor elang yang dengan ketajaman matanya mampu mendeteksi seekor ayam dari jarak ratusan meter di atas udara, demikian juga manusia masih kalah oleh seekor semut yang sanggup mencium tumpukan gula meskipun tertutup rapat di dalam toples. 

Namun demikian, dari segala keterbatasannya, manusia dianugerahi kelebihan berupa akal. Dengan akal (rasio), manusia sanggup menyusun sebuah bahasa untuk memaknai dunia dan memanfaatkan pengetahuannya untuk keberlangsungan hidup. Tidak seperti seekor burung yang sejak dahulu tak pernah tahu bagaimana membuat sarang yang lebih baik, hingga sampai saat ini bentuknya seperti itu saja. Sementara manusia dari tahun ke tahun sanggup membangun tempat tinggal yang berbeda dari sebelumnya, berkat perpaduan akal dan imajinasinya, manusia mampu membangun sebuah gedung dengan seratus lantai sekali pun. 

Akal adalah kelebihan dari sisi perbandingannya dengan makhluk lain. Akan tetapi dari sisi keterbatasn, maka dengan akal saja manusia tetap terbatas. Akal sebagaimana kemampuannya menganalisa, membagi, membandingan, menghitung dan menyusun kesimpulan. tetap tak akan sanggup memahami semesta dalam segala kerahasiannya. Ketidaksanggupan ini adalah informasi yang mendorongan manusia untuk sadar bahwa mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di hadapan Sang Maha Tahu, Tuhan semesta Alam. Dalam arti lain, manusia adalah bagian dari wujud faqir yang karenanya tak bisa hidup tanpa ridho illahi.