Di Bawah Lampu Merah

Di Bawah Lampu Merah

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 April 2016
Di Bawah Lampu Merah

Rasa cemas dan tergesa-gesa berkumpul di perempatan sekitar RS Fatmawati pada suatu siang. Mereka seperti terpaksa harus patuh pada lampu merah yang menyala di atas tiang itu, lampu yang berjasa mengatur lalu lintas kendaraan agar tidak saling tabrak-menabrak, mirip planet-planet yang berjalan di atas garis orbit. Di samping lampu, hitung mundur berjalan terasa lambat, mulai dari angka 100, 99, 70, 50, 35, 15, sampai akhirnya berjalan melewati angka 10 dan suara klakson mulai riuh. Mobil berjejeran berjarak sekitar dua kali jengkal dewasa, di tambah sepeda motor yang berdesakan seolah ingin berdiri paling depan. Dunia terasa sesak. Waktu menyempit. Di dalam mobil, sebagai hiburan, terdengar “C’mon Everyday” dari Eddie Chohran. Sementara dalam hati mereka berkata,”seandainya tidak apa polisi yang berdiri di pojok depanku, siapa aku yang harus peduli dengan lampu yang menyebalkan itu.”

Pedagang asongan berlari mengejar lampu hijau menyala, dalam hati mereka berharap siapa tahu ada yang dengan senang hati membeli air dingin itu sekedar untuk melepas dahaga. Di siang bolong dengan matahari tepat di atas kepala memang cocok disegarkan dengan air dingin, mungkin itulah mengapa mereka mengasong, ada alasan yang cukup masuk akal sekaligus bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tetapi mereka tidak tahu, orang-orang yang ada di dalam mobil itu telah menyiapkan air minum di sampingnya, air yang didapatkan dari Mart  jauh lebih bersih dan dijamin menyehatkan. Sementara air yang digenggam pedagang asongan kotor, ada bekas tangan mereka yang sebelumnya menyentuh sebatang rokok atau bekas menyibakkan rambut mereka yang penuh debu dan bau.

Dengan mata yang terkuyuk-kuyuk dan tubuh yang lesu mereka kembali ke tepi jalan di bawah pohon yang tidak terlalu rimbun. Lima botol minum yang dibawa ternyata masih sama jumlahnya. Sambil duduk seraya menunggu lampu merah berikutnya, mereka terlihat muak dengan semua ini, apalagi ketika membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu. Ketika tangan mengetuk kaca mobil menawarkan jajanannya, tidak ada satu pun penumpang dan supir yang menghiraukannya, padahal cukup dengan membuka kaca dan mengatakan untuk tidak membeli itu sudah memberi kepastian yang tidak menyebabkan mereka harus berdiri lama. Mereka bukan anggota Batalion yang bisa dengan tegap berdiri berjam-jam, mereka tidak lebih dari sekedar orang-orang yang kurang tidur, tidak sehat, dan hidup di atas nasib pengguna jalan.

Di atas sebuah meja di depan rumah, ditemani segelas kopi dan beberapa batang rokok, aku menulis sajak pendek.

Ada lampu yang mati di dalam hati

Ada lampu menyala di depan kepala

Apa yang terang bisa menerang,

bukan dari mata yang berkunang

Di dalam yang hampir mati mengering

 

 

Jakarta, 2016.