Ngamen Pahala

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Filsafat
dipublikasikan 30 April 2016
Ngamen Pahala

"Manusia paling bodoh adalah manusia yang tidak tahu hakikat dirinya sendiri."--Muhammad Bin Abdullah

Sungguh ngeri menyaksikan kehidupan manusia belakangan ini. Tak perlu jauh-jauh, kita bisa melihat lingkungan terdekat: Keluarga, saudara, sahabat, teman sampai barangkali, diri kita sendiri. Manusia yang menyelinap, setengah bersembunyi, demi memanfaatkan keuntungan sementara.

Jangan-jangan betul apa yang dirasakan Nietsczhe, kita telah kehilangan makna, nilai dan tujuan prima. "Aku selalu cuci tangan setelah tanganku bersentuhan dengan kaum beragama,"begitu kira-kira sindirian Nietsczhe, Sabda Zarathrusta.

Kita telah kembali ke jaman Aphentia Erectus, manusia setengah monyet, berebut serat buah kelapa, sementara airnya dibuang jauh-jauh, atau jika memungkinkan: lupakan. Pada gilirannya, kita tertular virus dari gelombang yang entah dari mana, lupa memilah mana isi mana kemasan, mana makna dan mana kata.

Dengan enaknya kita menyalahkan syetan:"gara-gara syetan yang membisikkan kesesatan." Bahkan, bersumber dari sejumlah status facebook, ada yang menyesal bahkan sinis, bahwa Adam dan Hawalah yang menurunkan derajat manusia yang semula bahagia di Surga.

"Apa yang membuatmu ingin bertahan hidup?" Leo Tolstoy begitu tajam bertanya, menyusut kepada inti, yang jika kita menghayatinya maka akan sampai pada: kosong. Iya, manusia sejatinya tengah bermukim, mendirikan tenda-tenda dalam ruang hampa. Padahal jauh di bawah 'aku' dalam setiap individu, terselip luka-luka menganga dan keputusasaan yang mendalam.

Tujuan telah hilang. Tuhan hanya sekedar mesiah, juru selamat terakhir, siapa tahu kelak setelah Mati ternyata penghisaban itu ada. Kita mengejek pengamen jalanan, pada saat yang sama kita adalah pengamen pahala, berhadapan dengan Tuhan seperti transaksi: jual-beli, antara penjual dan pembeli. Maka, hilangkan cinta, kecuali hanya gombalan kelas religius yang menipu diri.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan yang dalam Mas Hendra, aku suka genre yg seperti ini.

    Terkadang, manusia memang layaknya pengamen, berharap 'imbalan' agar bisa makan 'esok'. Padahal, esensi seorang pengamen seharusnya:

    1. 'menghibur' atau bermanfaat bagi seluruh 'pelanggan'. Seluruh alam.

    2. 'mendamaikan' pengamen itu sendiri. Bila ada 'imbalan' dari hasil ngamennya ya, Alhamdulillah. Yakinlah, pasti ada Maha Penonton yang mendengar lagumu walau suaramu serak-serak atau fals.

    Salam Mas Hendra
    *layak promo...
    *_*

    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    tulisan renungan ini keren, terutama bagi saya yang masih sangat awam ini

    • Lihat 2 Respon