Cinta, Sayang Sekali

Hendra Januar
Karya Hendra Januar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 April 2016
Cinta, Sayang Sekali

Sayangnya cinta itu disimbolkan. Tidak sedikit yang menyimbolkannya dengan gambar hati berbentuk serupa love cards dalam poker. Ada juga dengan bunga, mawar misalnya. Atau dengan kata “cinta” itu sendiri. Sejak sejarah simbol-menyimbol ini bergulir, memang manusia sering lupa, mereka butuh pengingat: simbol.
 
Sayangnya cinta itu disimbolkan. Dari ibu-ibu yang menggendong anaknya, sampai seorang pemuda yang menyuapi kakeknya. Dari kegigihan serdadu membela negara, sampai tukang kopi yang berjejer di dekat lampu merah. Sejak manusia semakin asing dengan cinta, memanglah manusia perlu kembali mengenalnya melalui: simbol.
 
Sayangnya cinta itu disimbolkan. Hingga manusia sibuk bertikai mana simbol yang benar-benar mewakili cinta. Cinta sebagaimana cinta, entah kemana. Seperti ketika orang-orang menikmati manis dan melupakan gulanya.
 
Sayangnya cinta itu disimbolkan. Perasaan yang dilukiskan dalam kata. Lahirlah puisi, atau sekedar berkata, aku mencintaimu. Antara simbol dan yang disimbolkan berapa jarak yang harus ditempuh untuk bertemu. Perihal batas-batas kenyataan dan pernyataan, ada jurang semakin menganga.
 
Sayangnya cinta itu disimbolkan. Hingga orang pergi ke perpustakaan untuk mencari cinta yang tertulis sebagai judul-judul buku. Mengira bahwa dengan kata-kata di atas 75 lembar kertas adalah cinta itu sendiri. Darinya ia memungut kata yang aduhai, lalu kembali meramunya dalam galonan sastra yang baru. Sastra, menghilangkan cinta.
 
Sayangnya cinta itu disimbolkan. Sayangnya!