Tentang Keyakinan

Hendra Atjeh
Karya Hendra Atjeh Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Desember 2016
Tentang Keyakinan

Sabtu 30 April 1994 ketika itu waktu sudah menunjukan pukul 18.00 di ujung pulau sumatra di kota serambi mekah tepatnya di rumah sakit umum zainal abidin nampak dalam sebuah ruang bersalin seorang perempuan sedang berjuang menghadapi pilihan antara hidup dan mati dan dia adalah seorang ibu yang akan melahirkan seorang yang nanti nya akan sangat dikasihinya yaitu seorang bayi lelaki imut dan polos yang dikemudian hari diberi nama Haikal Yakin.

-----

Perkenalkan namaku Haikal Yakin orang-orang yang ku kenal lebih senang memanggilku dengan sebutan Yakin panggilan itu pula yang kemudian membentuk sikapku yang selalu yakin akan semua yang kuinginkan akan ku dapatkan. Ya aku dilahirkan tepat malam minggu pukul 18.00 konon kata ibuku ketika azan magreb berkumandang suara tangisanku hadir.

Sekarang aku sedang bersekolah di sd tepat dibelakang rumahku yang aku sekarang sedang duduk di kelas 1 dengan wali kelas pak zaini namanya salah satu guru paling sabar yang pernah kutemui seumur hidupku.

Ayahku seorang pegawai negeri sipil biasa pekerjaan hariannya adalah sebagai pesuruh biasa di salah satu kantor instansi pemerintah di kota ini,sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga yang selalu setia mendampingi ayahku,ya keluarga kami adalah keluarga sederhana namun keluarga kami selalu diliputi kebahagiaan yang cukup,sebenarnya ibuku dulunya anak seorang saudagar kaya dikota ku namun suatu ketika kakek ku bangkrut dan ada satu rekannya menawarkan bantuan kepadanya asalkan dia mau menikahkan ibuku dengan putra nya,namun ibuku menolak karena ibuku sangat mencintai ayahku dan akhirnya ibu memutuskan untuk memilih ayahku walaupun konsekuwensinya dia harus hidup miskin dan serba sederhana.

--

Suatu ketika aku pulang dari sekolah dengan menangis tersedu-sedu lantas ibu bertanya sampai kerumah kenapa diriku akupun kemudian menjawab kalau aku menangis ketika di olok oleh randi teman sekelasku katanya aku tidak mungkin bisa menjadi pilot dan naik pesawat seperti cita-citaku,ya aku sangat sedih ketika itu Randi beranggapan anak seorang pegawai rendahan sepertiku layaknya bercita-cita yang sedang-sedang saja tidak perlu tinggi sekali.

Ibu yang mendengarkan ceritaku lantas mengusap air mataku sambil berujar wahai anakku taukah dikau kenapa dirimu kuberinama Haikal Yakin, tidak ibu jawabku lalu ibu berkata bahwa supaya aku kelak ketika dewasa agar selalu menjadi Yakin akan segala keinginan hidupku kau tau nak kata ibuku bahwa ketika ibu memutuskan untuk menikah dengan ayahmu dan menolak lamaran seorang saudagar kaya, ketika itu ibu sudah yakin bahwa bagaimanapun kondisi kedepan nanti ibu akan bahagia bersama ayahmu dan sekarang ibu mau dirimu untuk selalu yakin haikal kepada semua pilihan hidupmu jangan hiraukan perkataan temanmu karena hidupmu kamu yang putuskan termasuk cita-citamu.

---

Nasehat ibu membuat air mata ku berhenti mengalir dan kembali yakin kalau aku akan dapat mewujudkan cita-citaku dan akan kubuktikan itu suatu saat pada kawan kecilku ..

  • view 213