Hijab syar'i Adinda

Helti Listiani
Karya Helti Listiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juli 2017
Hijab syar'i Adinda

Lahirlah seorang anak perempuan yang terlahir bukan dari keluarga dengan basic agama yang panatik, tapi hanya keluarga biasa-biasa saja, anak perempuan itu bernama Adinda, ibunya meninggal dunia ketika melahirkan Adinda.

Adinda tinggal hanya berdua saja bersama Ayahnya. Kini Adinda beranjak dewasa. Dia mulai menyadari kehidupan-kehidupan selama ini yang dia jalani tidak selaras dengan apa yang dia pikirkan saat Adinda mulai beranjak dewasa. Diumur 21 tahunnya ini sekarang Adinda mulai menyadari seperti ada rasa ingin dia untuk memperbaiki dirinya menjadi baik bahkan lebih baik.

Ya Adinda sebelumnya adalah gadis yang biasa saja seperti gadis perempuan lainnya. Yang bergaul dan berteman dengan teman laki-laki sebayanya. Celetak celetukan perkataannya kepada teman-temannya. Dan Adindapun sama seperti gadis lainnya yang mempunyai kisah asmara percintaan. Suatu hari ketika Adinda akan menjalankan aktifitasnya untuk pergi kekampus dengan celana jeans dan kemejanya tiba-tiba ayah Adinda memanggilnya kembali.


Ayah Adinda : Adinda bajumu terlalu pendek, jeansmu ganti jangan pakai yang sobek-sobek
Adinda : kenapa yah ?? , Ini kan trend. Adinda sudah terlambat. Adinda pergi dulu ayah.
( Tak mendengarkan Ayahnya berbicara, Adinda bergegas pergi).


Hampir setiap Adinda akan pergi kekampus ayah Adinda selalu memanggilnya kembali untuk mengingatkan pakaian yang dipakai putrinya itu. Tapi Adinda tidak pernah memperdulikannya. Ayah adinda memang bukanlah ustad ataupun ahli dalam bidang agama. Tapi Ayahnya lah yang tidak pernah bosan untuk mengingatkan Adinda dalam menutup auratnya dengan baik.


Di perjalanan, Adinda melihat kecelakaan yang menimpa gadis seumurannya. Tepat didepan mata Adinda gadis itu menghelakan nafas terakhirnya. Melihat gadis itu sudah tak bernyawa hanya dalam hitungan detik, seluruh tubuh Adinda gemetar. Lalu Adinda melanjutkan perjalanannya untuk pergi kekampus.

Disepanjang perjalanan Adinda terus berpikir.
Adinda : ini tak masuk akal, bagaimana mungkin gadis yang masih muda secepat itu menghembuskan nafas terakhirnya, sedangkan yang tua saja masih banyak yang hidup. Apakah aku hari ini juga akan seperti gadis itu ataukah lusa, sedangkan masih banyak amalanku yang masih buruk sungguh aku tak siap, tapi kematian itu benar adanya. ( Hati dan pikirannya selalu bertanya-tanya).

Keesokan harinya Adinda seperti mendapatkan hidayah yang Tuhan beri untuknya. Didalam hatinya seperti ada panggilan dari Rabb yang maha agung.


Adinda : Apa ini ?? Mengapa hatiku seperti ingin menggunakan pakaian seperti orang-orang itu. Hatiku seperti terpanggil, dan ingin menggenakan pakaian, dan jilbab panjang itu.
( Adinda pun memutuskan untuk hari pertamanya dia menggunakan pakaian yang tak biasa dia gunakan dengan hijab syar'inya).

Adinda : Ayah, lihat aku, apa aku nampak seperti ibu-ibu tua menggunakan pakaian ini ??
Ayah : Tidak nak. Kamu cantik dengan berpakaian seperti ini.
( Ayah adinda tersenyum bahagia melihat perubahan putrinya).


Hari pertama Adinda menggunakan pakaian syar'i untuk pergi kekampus. Adindapun mulai merasakan adanya gejolak-gejolak api yang membuatnya ingin mengeluarkan amarahnya. Karena perkataan teman-temannya terhadap perubahannya sekarang.


" Hey, lu mau kemana ?? Mau marawis ??"
" Woy salah kostum ini siang, ngapain lu pake baju begituan! "
" Eh mau ngelayat lu pake hitam-hitam "
" Palingan cuma hari ini, besok juga pake jeans ketat lagi, iya kan Adinda"
" Kaya orang-orangan sawah lu "


Kalimat-kalimat seperti itu sering sekali dia dengar ketika Adinda memutuskan untuk berhijrah dari pakaian lamanya. Adinda hanya membalas semua perkataan mereka dengan senyum dan menundukan kepala.


Adinda : ntah bagaimana mungkin tiba-tiba aku bisa sesabar ini. Menanggapi mulut-mulut mereka.
( Adinda merasa aneh dengan perubahan yang ada pada dirinya sekarang).


Hari-haripun berlalu, Adinda masih dengan pakaian hijab syar'inya yang semakin hari semakin membuatnya nyaman. Bahkan Adinda merasakan seperti ada yang melindunginya ketika dia berpakaian syar'i, hingga suatu ketika pujian-pujian pun datang menghampirinya.
Ratna : Assalamualaikum Adinda, cantik kamu berhijab seperti sekarang ini.
Adinda : Waalaikumsalam, Terimakasih Ratna.
Listi : ingin rasanya aku sepertimu, bagaimana kamu bisa berpakaian hijab syar'i?
Adinda : Aku pun tidak tahu awalnya, tapi seiringnya waktu, dan dari buku-buku yang aku baca semua ini karena pemberian dari Allah.
Maryam : Beruntungnya menjadi kamu yang sudah diberikan hidayah oleh Allah, semoga kamu istiqomah.
Adinda : Yah, sebagian teman-temanku berkata semua ini hidayah yang Allah beri untukku. Aku bersyukur atas semua ini. Terimakasih atas semua doa-doanya untukku.
( Adindapun semakin mengerti bahwa semua yang terjadi pada dirinya dari Allah lah datangnya).


Adinda semakin hari semakin memahami bahwa semua yang dia alami adalah atas kehendak-Nya, dan melihat gadis yang seumurannya harus meninggal didepan matanyapun adalah semata-mata untuk mengingatkan bahwa kematian bisa datang kepada siapapun, tak memandang muda, tua, kaya, miskin. Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.


Disuatu malam Adinda menangis tak henti-henti. Ayahnya pun datang menghampirinya.


Ayah : Adinda kamu kenapa ??
Adinda : Ayah, apa Kau tahu yang membuatku bercucuran air mata, ketika semua orang menganggapku adalah wanita baik, suci, dan shaliha yang selalu berada dijalan yang benar, mengerjakan semua amalan-amalan yang diperintahkan Allah. Itu semua seperti tamparan keras bagi diriku. Disaat semua orang mengagumiku karena hijab syar'i yang ku pakai. Semua kalimat-kalimat buruk yang mereka ucapkan kepadaku membuat aku termotivasi untuk menjadi lebih baik. Tapi ketika semua orang memujiku, padahal aku tak seperti apa yang mereka kira, itu semua seperti tamparan keras yang Rabbku berikan untukku. Aku malu Ayah, disaat semua orang menilaiku sudah baik tapi nyatanya aku masih banyak berbuat dosa.
Ayah : nak, hapus air matamu, jadikan ini semua sebagai motivasimu untuk menjadi lebih baik lagi, dan ingat kamu lakukan ini harus karena Allah. Jangan puas dengan kebaikan yang sudah kamu lakukan. Tapi teruslah menjadi baik untuk mendapatkan Ridha-Nya. Ayah yakin hijab syar'i mu akan membawa akhlak mu juga kepada jalan yang di Ridhoi oleh-nya.
( Adindapun memeluk ayahnya )


Adinda : Ayah terimakasih, maafkan aku yang tidak pernah mendengarkanmu. Sekarang aku tau ketika pakaianku sudah menutupi auratku dengan benar aku merasakan keajaiban-keajaiban yang Allah berikan untukku.


Adindapun kini semakin yakin dengan hijrah pakaiannya menjadi hijab syar'i, dirinya menemukan kebaikan-kebaikan yang dia rasakan. Adinda semakin mengerti bahwa kehidupan didunia bukanlah segalanya, dia bisa lebih menghargai dan menyayangi dirinya dengah hijab syar'inya. Kini Adinda semakin yakin dengan ketaatannya terhadap Rabb-Nya. Dan semakin yakin untuk selalu berserah diri dan memberikan semua kehidupannya hanya untuk Allah.

Helti Listiani

Rangkasbitung, 07 July 2017

  • view 31