Sekotak Rumah Bestari: Chapter 1

Irviene Maretha
Karya Irviene Maretha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
Sekotak Rumah Bestari: Chapter 1

Di dalam koper nilon abu-abu 35 kilogram, Bestari menyelipkan celana panjang terakhirnya dengan paksa. Sulitnya menutup resleting koper, ia memasukkan seluruh pakaian yang bisa muat di dalamnya. 

 

Koper besar, checked. Ransel kuning, checked. Tas travelling suede hitam, checked. Plastik camilan, checked. Bestari mengamati satu per satu barang bawaannya, kemudian tersenyum lega. Semua sudah lengkap. Seakan juga membuatchecklist untuk tubuhnya, Bestari juga mengamati kalau-kalau ada yang masih kurang. Lipstick, checked. Eyeliner, checked, sedikit blush pipi, checked. Sepatu sandal andalan, checked. Oke, Bestari sudah siap. 

 

"Sudah? Nggak ada yang ketinggalan kan, nduk?" dari dapur terdengar suara ibunya, sedikit teriak. "Nggak ada, Ma," jawab Bestari, lirih. Hari ini, ia menghela napas lebih sering dari biasanya, seakan meminta penguatan di setiap tarikan dan hembusannya. Seorang perempuan keluar dari dapur, berkeringat tipis. Diulurkannya bungkusan plastik bentuk kotak untuk Bestari. 

 

"Nduk, ini bekal makan di kereta. Kamu hati-hati. Di sana banyak kejahatan. Jadi orang biasa-biasa saja, rak usahmencolok," kemudian perempuan itu mencium pipi dan kening Bestari. Ia membantu Bestari menaikkan barang bawaan ke bagasi sedan Corolla DX berwarna merah, bersama ayahnya. Akhirnya.

 

Bestari memandangi rumahnya. Rumah di Jalan Kamboja bersatu lantai yang dicat kuning muda itu tampak sayu. Sebagian besar dindingnya berjamur. Pagar yang sudah berkarat berdecit setiap dibuka. Oh, rumah ini, tempat 25 tahun lamanya Bestari hidup. Hidup? Ia risih menggumamkan kata hidup. Apa iya, di sini aku benar-benar hidup?, pikirnya.

 

Sudah lama Bestari merasa seperti alien. Merasa asing dan terasing dalam rumah sendiri. Ayah dan mamanya pun juga tampak seperti alien-alien dari planet yang berbeda, dan secara kebetulan ditempatkan dalam satu rumah. Memangnya dua makhluk yang berbeda bisa berkomunikasi? Memakai bahasa isyarat pun tak mampu. Bestari bertanya-tanya, akankah kepergiannya akan membuat Bestari ingin kembali pulang ke rumah ini?

 

"Sudah siap, Bes?" tanya Ayah, membuyarkan lamunan Bestari. "Siap," 

 

Mobil Corolla milik ayah dinyalakan, terbatuk-batuk. Bestari menatap nanar rumahnya yang semakin menjauh. Kamu tidak bisa pulang, Bes. Oh iya, kamu memang tidak pernah punya tempat untuk berpulang, bukan?

  • view 164