Ainun Chomsun, Kartini Masa Kini

Irviene Maretha
Karya Irviene Maretha Kategori Tokoh
dipublikasikan 21 April 2016
Ainun Chomsun, Kartini Masa Kini

Peringatan Hari Kartini selalu mengingatkan Indonesia akan adanya kesetaraan. Perempuan kelahiran Jepara ini adalah seseorang dari kalangan priyayi yang dengan gigih mendirikan sekolah wanita di beberapa daerah di Indonesia di saat di mana wanita memiliki status sosial yang rendah sehingga tidak dianggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, buah pikiran Kartini semasa hidupnya juga dibukukan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini adalah kumpulan surat-surat Kartini pada sahabatnya di Belanda mengenai pemikirannya terhadap kondisi sosial perempuan pribumi. Gugatan dan kritikan dilayangkan pada budaya yang menghambat kemajuan perempuan. Terbitnya buku yang semula berasal dari surat-surat Kartini pada rekannya di Belanda membawa inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan dunia mengenai kesetaraan pendidikan. Sebagai seorang yang berjuang dan percaya bahwa perempuan pribumi pantas mendapatkan pendidikan layak di negeri ini, Kartini memang pantas dianugerahi predikat pahlawan nasional Indonesia.
 
Ainun Chomsun adalah pendiri Akademi Berbagi (@akademiberbagi), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen untuk menyebarkan pengetahuan dan pendidikan melalui kelas yang terbuka untuk siapa pun yang ingin mendaftar. Ia adalah ‘kepala sekolah’ dari sebuah tempat belajar untuk semua. Tanpa batasan biaya, tanpa batasan strata. Visi dari Akademi Berbagi seperti yang dikutip dalam situsnya adalah: “Menjadi sebuah wadah pembelajaran, yang menghubungkan orang-orang yang berilmu dan berwawasan dengan orang-orang yang ingin belajar dengan mudah, dan akan ada di setiap kota di seluruh Indonesia.” (www.akademiberbagi.com, 2013)
 
Ainun Chomsun 
 
Akademi Berbagi dilatarbelakangi oleh keadaan sekolah Indonesia masa kini yang semakin berjarak dengan dunia karya (atau sering disebut dunia ‘nyata’). Dengan tembok yang tinggi dan pagar yang tertutup, sekolah seakan hanya untuk kalangan orang yang mampu secara intelektual dan finansial. Tidak lulus seleksi, tidak bisa masuk. Tidak punya uang, jangan bermimpi untuk sekolah tinggi-tinggi. Padahal, selepas mengenyam pendidikan formal, seringkali para lulusan menjadi canggung dengan dunia yang akan dihadapinya karena, simpel saja, tidak terbiasa. Malahan, banyak di antara mereka yang bingung mau menjadi apa setelah lulus. Sudah terlalu banyak cerita mengenai jumlah pengangguran terdidik, atau pun pekerja terdidik yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tepat dengan pekerjaannya. Dengan Akademi Berbagi, setiap orang dari berbagai usia dapat belajar secara gratis melalui para ahli di bidangnya masing-masing. Subyek pelajaran yang diajarkan pun bervariasi, mulai dari ilmu periklanan, fotografi, keuangan, teknologi, dan masih banyak lagi.
 
 
Awal mula Akademi Berbagi adalah bulan Juni 2010, yaitu pada saat Ainun memiliki keinginan memperdalam ilmu periklanan dan dengan ‘iseng’ me-mention akun Twitter Bapak Subiakto CEO Hotline Advertising untuk mengajarkan Copywriting. Beliau secara mengejutkan membalas, “Saya mau dengan syarat bisa mengumpulkan 10 orang untuk diajari”. Ainun segera mencari teman belajar melalui Twitter dan berhasil mendapatkan 25 rekan. Sejak saat itu, Ainun semakin rajin menggelar kelas gratis dengan mendatangkan praktisi-praktisi terkenal karena passion-nya bahwa pengetahuan adalah milik semua orang. Akademi Berbagi kemudian dibentuk dengan beberapa volunteer yang membantu Ainun. Nama-nama besar seperti Boediono Darsono, Yoris Sebastian, Clara Ng, Anies Baswedan, Handry Santiago, dan Rene Suhardono dengan senang hati membagikan ilmunya di Akademi Berbagi tanpa dibayar. Kebanyakan pemateri di Akademi Berbagi menganggap bahwa kepuasan dari memberikan manfaat bagi orang lain adalah bayaran yang setimpal.
 
 
Saat ini, Akademi Berbagi sudah ada di 36 kota dengan ribuan siswa dan ratusan volunteer dengan latar belakang yang sangat beragam. Berkembangnya internet dan media sosial adalah satu titik tolak penting dalam menjadikan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang. Ainun sendiri mendapatkan berbagai penghargaan berkat komitmennya untuk kesetaraan pendidikan melalui Akademi Berbagi. Salah satunya adalah penghargaan dari Bubu Award sebagai Digital Community Leader pada tahun 2011.
 
 
Sosok Ainun Chomsun adalah bukti bahwa semangat RA Kartini untuk menyetarakan pendidikan berkembang begitu pesat berpuluh-puluh tahun setelah ia wafat. Pendidikan sebagai pilar penting bagi kemajuan bangsa patut untuk diperjuangkan masing-masing dari kita dan kontribusi Ainun Chomsun adalah salah satu bagian yang bersejarah bagi perjuangan tersebut.
 
 
Menurut saya, saat ini, kita dianugerahi masa yang sangat mendukung kemajuan pendidikan. Internet menjadikan pengetahuan sebagai milik bersama dan dapat diakses siapa pun dan kapan pun. Jika pun belum memiliki waktu dan tenaga untuk kemajuan pendidikan orang lain seperti yang dilakukan Ainun Chomsun, adalah tanggung jawab bagi diri sendiri untuk memiliki pendidikan setinggi-tingginya melalui segala sarana yang dipunya. Bagaimana pun, saya percaya bahwa life is all about learning, then sharing. Jika Anda juga percaya hal ini, lakukanlah... layaknya Kartini dan Ainun.
 
Selamat Hari Kartini. :)