Berdamai dengan Masa Lalu

istiQomah elHaura
Karya istiQomah elHaura Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 04 Juni 2017
Berdamai dengan Masa Lalu

ada ribuan alfabet yang terhimpun kemudian hilir mudik dalam lembaran hidupku, tak pernah absen mengisi putihnya kertas-kertas destinasi yang Allah gariskan untukku. Semua  presitasi yang mereka tinggalkan dalam nyataku tak pernah kusesali, karena hadirnya himpunan alfabet yang bertajuk itu telah membuat aku menjadi aku yang sekarang ini. Nama, cerita, kisah hidup, serta hal-hal lainnya yang pernah berpijak pada tiap episode hidupku tak pernah enyah dari fikirku meski seinchi. Semua yang pernah terjadi pada sebuah masa yang ku sebut masa lalu kujadikan pijakan sebagai sebuah pelajaran terindah untuk kehidupanku dimasa mendatang, sebuah masa yang akupun tak tau garis seperti apa yang akan Allah torehkan dalam lembar hidupku selanjutnya. 

Masa-masa yang dulu pernah membuatku tersenyum ceria tak akan pernah lenyap dari sanubariku, pun masa dimana aku harus terpuruk dalam sebuah rasa yang tak pernahku bayangkan sebelumnya, sebuah rasa yang tak terdefinisikan atau bahkan tak perlu untuk didefinisikan. Antara kecamuk cinta yang gugur, bersamaan dengan terpaan angin harapan yang pada akhirnya tersapu oleh kekecewaan. Dulu, disaat semua destinasi itu menyapaku aku hanya mampu tersungkur, menelungkup tak berarti menghiraukan semua keindahan dunia. Menganggap aku adalah manusia tak berarti yang terlalu remeh untuk dicintai atau bahkan diperjuangkan, begitu takut untuk kembali mengangkat kepala, menumbuhkan kepercayaan kepada sesiapa pun orangnya.

Melewati setiap cairan senja dengan kekosongan, menunggu rembulan pamit untuk menemui mentari dengan mimpi buruk. Ah, sepertinya aku telah kehilangan jati diriku, seorang aku yang selalu ceria dengan barisan gigi rapi tiap harinya, seorang aku yang renyah dengan kekonyolan. Bukan mudah berteman dengan air mata, apalagi dengan kesenduan yang hampir jarangku temui dalam bilik hidupku sebelumnya, sehari, dua hari, satu minggu, satu bulan. Tidak, bahkan aku sendiri tak ingat kapan risau itu pergi meninggalkanku. Sebatas yang ku tau waktu itu bukanlah waktu yang sebentar untuk berdamai dengan angan tumpul tak berguna itu.

Ribuan cara untuk berlari dari kenangan itu telah kuupayakan, namun tetap saja sama. Semua berujung pada tangisku yang membabi buta tak terkendali. Mengikhlaskan? bahkan cara untuk menutup mata pun aku tak tau. Sudahlah, mungkin semua keterpurukanku tak akan merubah takdir Allah yang Maha Esa, Ia membuatku tertunduk sendu agar aku sadar bahwa pengharapanku selama ini salah, Sang Maha Cinta sesungguhnya justru terabaikan. padahal bukankah bertambahnya frekuensi cinta pada Ar-Rahman saat cinta lain membersamainya adalah bentuk cinta sesungguhnya? mungkin memang aku yang terlalu dangkal memaknai makna cinta, atau aku yang terlalu mudah memaknai arti sayang.

Berdamai dengan perpisahan mungkin lebih baik dari pada harus merutuknya, sudah saatnya untuk kembali mengangkat kepala melihat gradiasi langit bersama mega-meganya di lautan langit lainnya, sudah saatnya merayap menyusun impian dengan tujuan mewujudkannya. Mensejajari langkah hati dengan senyuman pertanda ikhlas telah menancap hebat dalam kedalaman dada. Terima kasih untuk orang-orang yang pernah berhenti di pelabuhan hidupku, meski persinggahan kalian terbilang sekejap itu sudah cukup membuatku menjadi pribadi aku yang sekarang ini, meski saat ini aku tak berpijak bersama kamu yang dulu pernah kuharapkan berpijar bersamaku.

 

 

  • view 117