Hidup dalam hati bersama dalam surga

Hasna athiyyah
Karya Hasna athiyyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Hidup dalam hati bersama dalam surga

Waktu dengan semena-mena menjebak kami dalam ketidak mampuan. Tidak mampu untuk memerdekakan hidup, karena jebakan kemiskinan. Tak heran, kedua orangtua ku memang tidak berasal dari keluarga kaya. kami hanya hidup dari lahan sawah yang itu itu saja warisan nenek moyang. Sedangkan harus dibagi ke saudara bapak yang lain.

Bapak dapat bagian sepetak tanah dikelilingi batuan karts. Entah berapa luas sawah itu pematangnya tidak jelas hanya berbatas dinding batu raksasa dan batu kecil bertebaran bagai pulau yang berjajar tepat ditengah. Entah hanya berapa pikul gabah yang mampu dihasilkan setiap panen. Dan sudah pasti tidak akan cukup hingga panen selanjutnya.

Hingga sepanjang musim keluarga kecil ini melanjutkan hidup dengan uang pinjaman dari juragan beras yang akan dilunasi musim panen selanjutnya. Setelah itu kembali berutang. Begitu saja terus sampai bosan.

Akhirnya rasa bosan itu benar-benar menghinggapi mama. Merundingkan dengan matang bersama bapak. Dan keputusan akhirnya adalah merantau. Saat diberitahukan mama hatiku girang tidak karuan.  Aku akan pergi naik kapal, melihat laut luas, lumba-lumba dan akan punya banyak uang.

Setelah keputusan itu, sapi peliharaan bapak harus dijual untuk biaya perjalanan kami dan untuk modal di tanah rantau. Lepas magrib sore itu om pembeli sapi datang menjemput sapi yang ku beri nama si Bondeng. Waktu itu ia baru saja melahirkan. Dan tak pernah ku lihat perpisahan induk dan anak sebelum ini. Ada bulir bening dimatanya. Anaknya tak henti mengoek melihat induknya diseret pergi. Ada haru disana meski itu hanya induk dan anak sapi. Dan aku terisak, begitu kejamnya kita memisahkan mereka.

Tibalah hari kami akan berangkat. Yang berangkat adalah bapak, mama, adik, dan Aku. Lalu kakak? Kami hanya tiga bersaudara dan Aku seorang yang perempuan. Dan saat itu dengan alasan sekolah yang tidak bisa ditinggal, kakak mengalah untuk tidak ikut. Dan menjadi anak asuh emma saudara perempuan kakek yang hidup sendiri.

Dua hari dua malam harus terapung diatas laut hingga tiba dikota Ternate. Ternyata tidak seindah khayalan. Sejak berangkat hingga tiba kepalaku oleng aku mabuk laut. Aku tak pernah melihat laut tidak ombak, terlebih lagi lumba-lumba. 

Untuk sementara kami tinggal dirumah saudara yang sudah lebih dulu merantau. Selang beberapa hari ku pikir bapak akan memulai usahanya. Nyatanya ini bukan tujuan kami. Kami harus menyeberang pulau lagi dengan kapal veri ke tanah yang bernama Tobelo.  Setelah menyeberang laut berjam-jam. Kita harus kembali menempuh perjalanan darat yang lebih melelahkan. Isi perutku terhambur keluar tanpa sisa. Sekarang sudah mabuk laut dan darat.

Di pulau kecil ini lah bapak memulai usahanya dengan kios kecil yang hanyak muat satu orang. Kami tinggal di daerah pesisir dimana yang lalu lalang bukalah mobil atau motor melainkan kapal-kapal nelayan.

Setahun kuhabiskan masa kecilku di pulau itu. Dan dipulangkan paksa ke tanah kelahiran karena kerusuhan yang mulai meriuhkan kehidupan. Entah apa konflik hingga rusuh seperti itu. 

Kakek datang khusus untuk menjemputku. Karena kita harus keluar satu-persatu dari pulau itu. Masih ku ingat betul subuh itu, saat mobil melarikan kami menuju pelabuhan kami dicegat sekelompok orang di dekat pasar yang sedang terbakar, atau dibakar. Entahlah.

Alhamdulillah kami selamat sampai tanah daeng tanpa bapak, mama dan adik. Kembali ingatanku melayang pada perpisahan si bondeng dengan anaknya. Lama, lama tak ku dapat kabar dari bapak di tanah rusuh sana. Hingga telah kusimpulkan betapa kejam waktu menikam masa kecilku. Meski Emma tak pernah melunturkan sedikitpun kasih tulusnya kepada kami. 

Setiap hari kamis aku dan kakak duduk di tangga rumah panggung kami. Berharap bapak akan datang menggotong tas besarnya besama mama dan adik. Penantian itu tak pernah mati, hingga akhirnya menjadi nyata.

Kami kembali berkumpul dan Aku sudah masuk sekolah dasar. Selang beberapa bulan sembari memulihkan trauma yang membekas pada kami, bapak memutuskan untuk kembali merantau namun tidak kembali ke pulau itu lagi. Mungkin hanya ke Ternate. Kembali memulai dari angka nol. 

Aku tidak ikut berangkat. Aku harus bersekolah disini bersama kakak. Dan dirawat oleh emma. Begitu hidup ku jalani hingga kini. Hingga dewasa. Dengan perjuangan orangtua di tanah rantau dan kasih sayang emma yang tak pernah habis.

Hingga hari ini kami tak juga mampu bersatu dalam satu atap istana indah kami yang terbangun antik khas rumah adat orang Makassar. Kakak sudah memiliki istri dan seorang putri cantik cucu pertama di keluarga kami. Adik telah menamatkan sekolah menengah atas dan mempersiapkan diri menjadi abdi negara. Semoga cita-cintamu terwujud dik. Sedang bapak dan mama masih disana, tanah ternate, tanah perantauan. Dan aku, baru saja merampungkan sarjana pendidikan ku, dan mengurungkan niat untuk melanjutkannya, memilih menjadi karyawan swasta saja. Hidup sederhana bersama emma. Sudah ku hibahkan hidupku untuk menemani emma menghias jingga di hari tuanya. Dan emma, masih setia dengan kasih sayangnya.

Tak mengapa waktu tak menyatukan kita setiap saat. Meski kita tak selalu seatap, namun hati kita akan selalu merindukan dalam doa doa. Berharap kelak SEHIDUP SESURGA bersama kalian.

  • view 197