Sederhana

Hasna athiyyah
Karya Hasna athiyyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Sederhana

Pukul 17.00 wita. Waktu pulang kantor. Hari ini hari kamis dan masih terasa manis dengan bubuhan kertas memenuhi permukaan meja kerja. Aku pun tak kalah manis dengan bingkai kacamata lebar yang bertengger di pipi. Karena hidung tidak cukup untuknya bertengger. Yah maklum saja.

Penghuni meja sebelah sudah menamatkan pekerjaannya. Beliau memang salah satu karyawan yang tidak akan rela semenit pun waktu pulangnya terlewat. Pulangnya on time, pas pagi datangnya belakangan. Tapi Abang yang satu itu adalah partner terbaik dalam segala hal.

Sejurus kemudian ia sudah berdiri di samping mejaku menggendong tas ransel yang nampak berat dan entah apa isinya, mengingatkan ku jam pulang sambil menunjuk jam dinding yang sibuk menunjuk angka-angka. 

kubiarkan ia berlalu begitu saja. Menutup laptop kerjaku sambil meregangkan otot-otot. Merapikan berkas-berkas dan mengandangkan kembali pada bundel-bundel yang berjejer. Suara ketukan-ketukan sepatu pantofel terdengar riuh dengan candaan karyawan lain. 

Diruangan ini tinggal tersisa aku dan setumpuk pekerjaan yang merengek pada pikiran untuk diajak pulang kerumah. Namun dengan keras kududkkan pada meja kerjaku. Tunggu disini saja besok aku akan menyelesaikan mu.

Ku tinggalkan ruangan yang masih dingin namun senyap. Diluar sudah mulai sepi, tersisa aku dan beberapa orang yang berjalan terburu buru. 

Seperti biasa, kembali memotret sidik jari di pintu utama sebelum pulang. Disana sepi, tidak ada antrian panjang. Hanya ada seorang sekuriti yang bertugas menjaga sore itu, ia sibuk mengusiliku. 

Aku lelah, sedang tidak berselera meladeni keusilannya. Dengan langkah sedikit berlari ku tinggal kan tempat itu. Ada sebuah kendaraan yang menjebak motorku. Kembali lagi harus sedikit bersabar. Sang pemilik datang dengan kaca helem yang gelap dan tertutup. Menutupi hingga hidung, yang terlihat hanya janggut tipis dan senyum lebar. Ku balas sesaat dan bergegas pulang.

kami berjalan beriringan hingga berpisah di pertigaan. Dan sepanjang jalan itu aku tahu dia tak henti menengok ke arahku. Meski yang tampak olehku tetap saja hanya janggut nya.

Besok aku ingin pulang belakangan lagi, ingin melihat janggut itu lagi, ingin melihat bayangan senyum itu lagi. Sekalian ingin berkenalan. Setelah keberhasilan ku mendudukkan ingatan tentang pekerjaan pada meja kerjaku. Justru malah janggut mu yang ikut menggantung di pikiranku hingga rumah, hingga gelap, hingga lelap, hingga pagi.

Begitu sederhana nya ia hadir. Namun begitu kuat getaran nya. Selamat malam, sampai jumpa di 2/3 malam nanti.

  • view 181