Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 30 Desember 2017   02:25 WIB
Pilkada Pamekasan 2018 dan Tukang Kompor

Ngereng dhebunah ghuru (ikut apa yang dikatakan guru) menjadi suatu hal yang lumrah dikatakan oleh masyarakat Pamekasan ketika ditanya apa alasan pilihan politiknya. Istilah itu terus mengemuka beriringan dengan setiap kontestasi poilitik yang ada. Bisa dikatakan elektoral politik atau tingkat keterpilihan politik yang berkembang di Pamekasan sangat ditentukan oleh keberadaan kiai sebagai calon figur atau sebagai pendukung.

Keadaan politik elektoral di Madura khususnya di Pamekasan yang digantungkan kepada kyai pada prinsipnya bukan suatu yang negatif. Bahkan dalam keadaan tertentu menjadi positif di mana mayoritas masyarakat dalam keadaan belum kenal secara personal dan mafhum akan visi misi masing masing calon yang ada. Pada posisi inilah kiai memiliki peran sentral untuk menjadi mediator atau penyambung lidah dan menjelaskan visi misi termasuk plus minus si calon kepada masyarakat.

Selanjutnya bagaimana dengan perbedaan pandangan politik antar kiai? Jelas setiap kiai memiliki pilihan politik yang beragam. Hal demikian harus dipandang sebagai yang lumrah dan sungguh sangat biasa dalam kehidupan apalagi dalam hal berpolitik. Anggapan bahwa pandangan politik masing masing kiai harus sama justru itu adalah kesalahan atau keliru. Sebab perbedaan dalam setiap aspek kehidupan itu tidak dapat dipisahkan termasuk dalam hal urusan politik.

Kesalahan itu menjadi fatal bagi yang berpandangan bahwa pilihan politik kiai harus sama demi keutuhan dan kekompakan ulama Pamekasan ketika dibarengi dengan jargon penghianat, tidak istikomah, bahkan yang paling berbaya dibarengi dengan tuduhan karena disuap. Keadaan tersebut jika tidak dihentikan akan menjadi benih benih konflik di masyarakat. Muaranya, di kalangan akar rumput akan terjadi saling jelek menjelekkan antar kiai, mengingat masing masing kiai memiliki santri dan basis alumni yang tersebar di masyarakat. jika demikian bukan tidak mungkin konflik kekerasan akan terjadi di masyarakat.

Sebenarnya keadaan ini bukan yang pertma kali terjadi di Pamekasan. Fenomena polarisasi di akar rumput akibat perbedaan pandangan politik itu sudah menjadi konsekuensi tersindiri dalam alam demokrasi. Yang menjadi masalah di sini adalah keberadaan oknom yang terus mengisukan bahkan menjadi kompor masyarakat dengan cara menjelekkan kiai. Sikap demikian ini menjadi sesuatu yang berbahaya bagi persatuan para kiai. Karena bukan tidak mungkin, kejadian seperti pada pilkada tahun 2013 lalu terjadi saling balas mengejek antar kiai di panggung kampanye. Hal hal demikian tentu diawali oleh keberadaan oknom politik yang bukan lagi mencerdaskan masyarakat namun lebih kepada pembodohan politik yang picik.

Sebagai penutup, mari akhiri dengan berpantun ria.

Ada nampan terbuat dari Kertas
Di atasnya terletak gelas emas
Pilkada Pamekasan 2018
Marilah menjadi pemilih yang cerdas

Dua loyang pemberian Ipin
Isinya air mendidih
Dua kandidat siap memimpin
Yang menjelekkan kiai jangan dipilih ????

????????????
????????????

Karya : Hasbullah Hasip