Kenyatannya

Kenyatannya

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juli 2018
Kenyatannya

KENYATAANNYA
Gemuruh dentuman musik dangdut bertubi – tubi memecahkan kesunyian. Suara musik itu berasal dari soundsystem milik tetangga sebelah yang melakukan pesta pernikahan. Pernikahan merupakan sebuah kata yang menurut Ira begitu serius dan dia tak ingin mempermainkannya. Mungkin sudah menjadi trend untuk nikah muda dari pada menjerumuskan diri dalam kubangan maksiat bernama pacaran.
Mengenang beberapa masa sebelumnya, Ira terpedaya dengan ajakan menikah oleh seorang ikhwan, tapi karena alasan agar ikhwan tersebut taat kepada sang kyai memaksanya menelan pil hitam dalam lembaran kisah cintanya. Mungkin laki – laki itu kurang baik untuk Ira, mungkin Ira terlalu baik untuknya, mungkin juga jika mereka bersama malah membuat keduanya jauh dari kata ta’at kepadaNya.
“Ini yang dibilang ta’at kepada kyai?” kata Ira didalam batinnya setelah membaca screensoot antara Ahmad dan seseorang wanita bernama Aminah itu.
Biip..
Notifikasi whatsapp kembali menyita perhatiannya yang sedari tadi asyik membaca buku di kamar. Ternyata orang yang sama, lalu Ira sengaja membaca pesan sebelumnya agar tidak menjadi salah paham.
Akhwat : Mbak gimana hubungannya sama mas Ahmad?
Ira : tanya orangnya dek.
Akhwat : jawab aja mbak, nanti tak kirimin sesuatu.
Ira: gak gimana – gimana dek, dia kan katanya mau dijodohin sama Kyainya, dan saya gak pengan dia gak taat kepada kyai. Jadinya yaudah, padahal kamu tahu sendiri kan orang tuanya sama saya kaya gimana.
Akhwat : hahaha. Lucu lucu lucu.
Ira : kok lucu dek?
Akhwat : bentar mbak tak kirimin sesuatu.
Beberapa saat kemudian dia mengirimi gambar berupa screensoot percakapan whatsapp. Ira membaca seksama dan dia pun dengan tenang tetap tersenyum.
Ira : Katanya dulu bilang manut kyai, hehehe. Yaudah semoga dosa – dosanya bohong diampuni oleh Allah. Allah.. segitunya.. alhamdulillah saya sudah engga nanggepin anak itu, dan kalau gini kan saya makin ilfil. Astaghfirullah.. mengatas namakan agama untuk hal demikian. Alhamdulillah saya dijauhkan oleh Allah dengan dia. Apa perlu saya kirimin chat dia dulu sama saya dek?
Akhwat : hehehe. Boleh mbak, tambah ngakak saya pastinya.
Ira: bentar.
Akhwat : ngakak bareng ya mbak, hehehe.
Ira: bentar lagi tak cari, soalnya tak simpan di laptop.
Akhwat : wah segitunya sampai di arsipkan, ahahaha.
Ira: iya, kayaknya keren kalau dijadikan novel. Hehehe.
Akhwat : wah silahkan mbak, judulnya apa ya?
Ira: kamu kan tahu saya emang suka mengarsipkan segala hal karena tugasnya administrasi juga, hehehe.
Akhwat : wah mbak Ira salah satu dari sekian korban rayuan mautnya mas Ahmad. Hahaha.
Ira: hahaha. Masalahnya kalau saya di gombalin di wa, telpon atau apapun media itu enggak ngefek, lah ini sampai nemuin orang tua saya loh, main kerumah, orang tuanya dia juga gitu banget. Coba dulu orang tuanya nanyanya malah mengarah ke nikah lagi, siapa juga yang enggak menganggapnya serius? Dan lagi – lagi dia membawa nama ibunya dijadikan senjata. Hahaha.
Akhwat : mungkin ibunya juga salah satu korban yang sama.
Ira: alhamdulillah, saya bersyukur banget dijauhkan dengan makhluk seperti dia. Dia dulu juga dekat sama seseorang ketika dekat dengan saya, lalu saya tegasin kalau mau deket sama saya ya tolong jangan mainin perasaan wanita satunya dan dia milih saya.
Akhwat : wah chatnya mbak sama dia ini? Poligami kan halal mbak.
Ira: iya, saya juga gak mengelak kalau poligami halal, tapi kalau ini namanya bukan karena Allah, tapi karena nafsu. Dan saya juga gak membenci poligami, tapi saya membenci kebohongan yang dia lakukan.
Ah lagi – lagi isu poligami yang dibicarakan. Bahkan dulu saja ketika Ira pernah ditanya, siap apa tidak jika di poligami dan dia menjawab siap jika memang itu takdirnya. Seseorang yang tidak diberikan kekuatan untuk di poligami pastinya tidak akan dijadikan Allah demikian, tapi jika seseorang di takdirkan di poligami, pastinya seseorang tersebut telah diberikan kekuatan oleh Allah untuk melakukan hal demikian itu. Sangat jelas dalam al Qur’an surah An-Nisa ayat 3 sebagai berikut,
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa ayat 3)
Ayat tersebut menyebutkan “kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” dan dari sinilah kebolehan poligami berasal, tetapi dilanjutkan dengan setelahnya “jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja” dan ditegaskan pula “yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. Jadi jika ada seseorang yang menentang poligami sama dengan menentang hukum Allah, jadi poligami itu boleh tetapi dijelaskan ayat seterusnya apabila tidak mampu pologami maka seorang saja karena lebih baik jika takut tidak berlaku adil.
---
Bulan Juli adalah bulan special baginya, di bulan yang sama dia punya seseorang yang dulu tidak sengaja kenal dekat dan pernah mengiriminya beberapa buku. Jari – jarinya tergelitik untuk sekedar stalking akun media sosialnya. Dan tanpa diduga, ternyata dia yang pernah di do’akan dalam diamnya telah bertunangan dengan seorang akhwat yang tidak dikenalnya. Setelah melihat secara seksama, lama – lama Ira merasakan perasaan aneh.
Baru tunangan kok gini ya? Apa boleh sayang – sayangan? Bukankah hanya boleh kalau sudah nikah? Bukannya dia (laki-laki) bukanlah sosok yang seperti ini? Dulu sih iya, tapi entahlah kalau sekarang. Tapi masak iya? Dia kan syari’atnya dipegang banget? Tapi ya bisa saja sih, lha yang pondok aja masih bisa seperti itu. Ya sudah lah, alhamdulillah.. mungkin ini yang terbaik baginya dan bagi saya sendiri.
Adanya suatu penyakit dalam diri manusia, akan membentuk sistem imunitas agar tubuhnya akan lebih kebal jika terhadap penyakit yang sama. Seperti halnya taubat, seseorang yang dulu pernah berkecimpung dalam maksiat pastinya akan lebih berhati – hati dalam menyikapi segala hal yang sedikit atau banyak juga berhubungan. Begitu pula dengan Ira, sosok Ahmad yang telah memberikan jutaan ribu luka yang mendalam membuatnya lebih selektif lagi dalam menanggapi siapa saja yang ingin masuk dalam kehidupannya.
Kali ini ada seseorang yang mengajaknya ta’aruf, Ira dan ikhwan itu belum mengenal sama sekali. Mereka dikenalkan oleh teman organisasi mereka. Sejak merintis organisasi di desanya, Ira memiliki banyak kenalan baik tingkat kecamatan bahkan kabupaten. Sosok Ira yang supel membuat semua orang yang berada disekitarnya menjadi nyaman dan hal seperti itulah yang membuat teman organisasinya mengenalkannya dengan seorang ikhwan. Hari itu dia pulang dari kota santri setelah mengantarkan adiknya berangkat mondok, ketika di pondok ikhwan tersebut berusaha menghubunginya tapi tidak terlalu direspon olehnya. Maklum saya, dia sudah ilfil dengan kesan pertama yang diciptakan. Saat sampai di terminal, ternyata laki – laki itu menemui Ira yang berada di teras musholla. Ikhwan itu menawarkan untuk mengantarkannya pulang, tapi ditolak oleh Ira.
Seharusnya seseorang yang paham agama tidak melakukan hal yang demikian, apalagi ditambah ucapan sayang, kangen dan kata mesra lainnya yang diutarakan lewat whatsapp. Ira segera menegur ketika kata – kata itu di whatsapp. Mereka ngobrol di depan mushola sambil menunggu ayah Ira menjemput. Ikhwan itu bertanya apa saja yang Ira pelajari di pondoknya dan Ira menanyakan hal yang sama, jawaban ikhwan itu sungguh membuat hati Ira kecewa. Baru beberapa hari kenal sudah membahas hal yang demikian, tak sepantasnya seperti itu. Sejak saat itu ikhwan terus berusaha menghubingi Ira, dan Ira hanya berusaha bersikap baik saja kepadanya. Permintaan ikhwan untuk serius kepada Ira telah disampaikan kepada ayahnya.
“Ayah, Ira agak ilfil sama orangnya, bukan karena wajahnya atau apapun, tapi sikapnya. Coba bayangkan jika dia mengantar Ira pulang sedangkan dia orang asing bagi Ira. Gak sopan hal seperti itu, dan juga kata – katanya bilang kenal dekat dengan habaib – habaib dan meskipun dia vocal tim sholawatannya habaib – habaib tapi sangat disayangkan akhlaknya seperti ini membuat Ira gak nyaman. Percuma saja dia memamerkan dekat dengan habaib, coba kalau Ira balas jika dia menuhankan habaib – habaib itu dan lupa berakhlak pada Allah itu penting. Apa seperti itu memperlakukan wanita yah? Besok Ira mau balik pondok aja biar gak diganggu terus, iman Ira lama – lama keropos kalau begini terus.”
“Loh besok ada orang yang mau kesini kok, lihat kamu.”
Duar..
Gemuruh tiba – tiba menggelegar di hatinya. Ira masih mau S2, Ira masih pengen nambah ilmu lagi, kenapa sih gak ada yang bisa ngertiin Ira? Kenapa sih kemakan omongan tetangga. Kenapa sih? Ira masih butuh ilmu untuk masa depan, Ira masih butuh belajar banyak hal. Di tengah – tengah Ira yang di dekati seorang ikhwan, ternyata kerabat dari ayahnya juga sedang berusaha menjodohkan Ira dengan seseorang yang belum dikenalnya.
Malam semakin larut, Ira berusaha terpejam tetapi entah apa yang membuatnya tidak nyaman tidur malam itu. Setiap 1 – 2 jam dia kembali terbangun dan mengingat bahwa esok akan ada tamu yang datang dan tiba – tiba waktu tahajud menjelang. Diambilnya air wudhu mengharapkan ketenangan, mendapatkan kesucian lahir dan batinnya. Kembali dia melakukan rutinannya hingga adzan subuh berkumandang hatinya semakin berdesir kencang, pagipun tiba – tiba menjelang.
Ayah pagi ini bersih – bersih rumah tak seperti biasanya, ibu memasak lebih banyak daripada bisanya juga. Ira pura – pura tak tahu akan ada acara apa hari itu, bagi Ira itu acara orang – orang tua dan tidak ingin ikut campur meski tokoh utama hari itu adalah dirinya. Dia tidak mandi pagi itu dan juga tidak menggenakan bedak bayi miliknya meskipun tipis, dia sangat natural dengan gamis hitam dan sorban yang dijadikannya sebagai kerudung.
Beberapa saat kemudian rombongan datang, sebenarnya dia agak sinis terhadap seseorang laki – laki paruh baya yang berusaha menjodohkannya itu, baginya sama saja seperti menghancurkan cita – cita Ira untuk melanjutkan S2. Laki – laki yang seharusnya menjadi tema hari itu tidak ada, hanya kedua orangtuanya saja. Dalam rombongan itu hanya ada seorang wanita, sepertinya itulah ibu dari anak laki – laki yang tidak hadir. Setelah salaman kepada ibu itu, Ira kembali masuk kedalam kamar. Terdengar semua orang tertawa dengan penuh harap agar Ira dan laki – laki itu cocok, tapi hati Ira enggan menanggapinya. Baginya ini hanyalah gurauan sehingga dalam batinnya dia berdoa agar laki – laki itu sudah punya pilihan sediri karena Ira dalam kondisi terpojokkan.
“Allah.. hamba tidak tahu mana yang terbaik untuk hamba, tapi Engkau tahu bahwa hamba masih ingin mondok dan kuliah, mohon lancarkan ya Allah. Aamiin.”

  • view 33