Topeng

Topeng

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juli 2018
Topeng

 
Sekian tahun berjalan, kaki ini terseok hingga berdarah dalam pengembaraan. Dia pergi setelah memberikan tusukan tak berdarah dalam batin. Aku terluka begitu dalam dan kesepian dalam menanti. Dia yang tertipu oleh topeng rayumu, dia yang tak sadar atas hadirnya semut hitam di kegelapan malam, dia tak nampak dan dia tak sadar bahwa dia telah hadir menggerogoti manisnya iman. Wahai sang pembawa topeng, kau atas namakan cinta palsu dalam bungkus agama yang agung. Kau katakan perjuangan atas nafsu yang kau sembunyikan didalam pikiran. Dia terlena, gadis itu sungguh terlena. Manisnya perjuangan yang kau tawarkan membuatnya lemah tak bisa membantah. Dia pikir kalian sama, tapi nyatanya perjuangannya dan perjuanganmu tidaklah sama. Kau bukan lagi memperjuangkan iman, Islam, tapi hakikatnya kau selalu mengaku insan yang maklum atas segala kesalahan dibalik topeng muslihat kemaksiatan.
 
Wahai kau yang mengaku pejuang, tidak ada lagi barisan do’a khusus namamu. Do’a – do’a tulus untukmu telah kau sia – siakan, dan suatu saat nanti kau akan merindukan do’a – do’a itu. Suatu saat nanti kau akan mempunyai penyesalan yang mendalam dan tidak di dunia saja. Suatu saat nanti kau akan merasa merugi begitu besar telah kehilangan. Wahai kau yang mengaku tawadhu, jangan kau gunakan topeng ketawadhu’an sebagai rayuan, jangan kau gunakan topeng perjuangan sebagai cover kemaksiatan. Meski terkadang kita samar terhadap perkara abu-abu, tapi pada akhirnya abu-abu bukanlah putih.
 
Don’t judge book by this cover.

Bojonegoro, 6 Juli 2018

  • view 54