Akhlak Mendengarkan Adzan

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2018
Akhlak Mendengarkan Adzan

"kak angsal nderek kursus komputer niki mboten?"
 
"owh niki ta dek, tujuane nopo pengen saget ngeten niki. Nek niate bener angsal mundut seng pundi mawon."
 
"nggeh nopo kak? Niate kersane saget edit2 damel kados pengajian2 video niku lho kak, kaleh kados gambar2 seng teng akun2 hijrah niku. Soale masyarakat remen ngoten niku sakniki, ngapunten menawi salah niate"
 
*sambil senyum ngelus kepala perempuan yang dinikahinya itu
 
"kok senyum kak, salah nggeh"
 
"mboten kok purnamaku, kakak saget kok kursus teng kakak mawon nopo teng kursusan?"
 
"hmm kakak mboten sanjang seh, teng kakak mawon lah, kersane pun nyaman."
 
Obrolan usai murojaah itupun berakhir. Terdengar microfon masjid di ketuk beberapa kali, sedetik kemudian lantunan adzan isya merenggut kesunyian. Penglihatan mereka berdua terpejam, lantunan panggilan adzan merasuk relung hati mereka. Ketenangan dan kenyamanan merasuk dalam palung jiwa mereka.
 
Azan (ejaan KBBI) atau adzan (Arab: أذان) merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat lima waktu.
 
Ada beberapa perkara yang semestinya dilakukan oleh yang mendengar adzan.
 
Pertama: Ia mengucapkan semisal yang diucapkan muadzin (menjawab adzan), namun tidak dengan suara keras seperti suaranya muadzin, karena muadzin menyeru/memberitahu orang lain sedangkan dia hanya menjawab muadzin. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/83)
 
Abu Sa’id Al-Khudri z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda:
 
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
 
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 846)
 
Ketika muadzin sampai pada pengucapan hay’alatani yaitu kalimat: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ،              حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ disenangi baginya untuk menjawab dengan hauqalah yaitu kalimat:
 
لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
 
sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Umar ibnul Khaththab z. Ia berkata: Rasulullah n bersabda:
 
إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
 
Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 848)
 
Namun boleh juga dia menjawabnya sebagaimana lafadz muadzin dengan hay’alatani حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang telah kita sebutkan di atas. Al-Imam Ibnul Mundzir t menyatakan, “Ini termasuk ikhtilaf atau perbedaan yang mubah. Bila seseorang menghendaki maka ia mengucapkan sebagaimana ucapan muadzin, dan kalau mau ia mengucapkan sebagaimana dalam riwayat Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan1 c. Yang mana saja ia ucapkan, maka ia benar.” (Al-Ausath, 4/30)
 
 
 
Adapun jawaban Ketika Muadzin Berkata dalam Adzan Subuh “Ash-Shalatu Khairun minan Naum”
 
Lahiriah dari ucapan Nabi n:
 
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
 
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin,” adalah kita mengucapkan kalimat yang sama dengan muadzin, “Ash-Shalatu khairun minan naum.” Inilah pendapat yang shahih. Adapun menjawabnya dengan:
 
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ
 
Artinya: Engkau benar dan engkau telah berbuat baik, adalah pendapat yang lemah tidak bersandar dengan dalil. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/92)
 
Siapa yang menjawab adzan dengan meyakini apa yang diucapkannya maka dia mendapat janji surga dari Rasulullah n sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah z. Ia berkata:
 
كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n فَقَامَ بِلاَلٌ يُنَادِي، فَلَمَّا سَكَتَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِيْنًا دَخَلَ اْلَجّنَّةَ
 
Pernah ketika kami sedang bersama Rasulullah n, Bilal bangkit untuk menyerukan adzan. Tatkala Bilal diam, Rasulullah n bersabda, “Siapa yang mengucapkan seperti ucapannya muadzin disertai dengan keyakinan maka ia pasti masuk surga.” (HR. An-Nasa’i no. 674, dihasankan Al-Imam Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)
 
Mereka berdua mendengarkan dan menjawab adzan dengan khusyuk. Usai adzan mereka menengadahkan tangan dan memanjatkan do'a. Sang suami pun bergegas bangun untuk mengambil air wudhu, tapi sang istri menggenggam tangan sang suami lalu menciumnya.
 
"ajak adek untuk mendapatkan ridhoNya yah kak"
 
*si adek tiba2 pakai bahasa Indonesia 
_______
Kediri, 29 April 2018
Tiba2 pengen nulis aja.. 
Serpihan guratan pena..

  • view 32