Memimpikanmu

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 April 2018
Memimpikanmu

Memimpikanmu

 

Mungkin sudah lupa, atau sengaja dilupakan. Keputusan diluar kehendak kita, tetapi hakikatnya mungkin itu yang terbaik bagi kita. Menjaga agar tak lagi ada rasa kecondongan dalam hati kita. Meski rasanya ingin sekali tetap melihat, tetap memandang meski dari jarak sekian mil jauhnya.

 

Entah kenapa beberapa hari ini tak sengaja memimpikanmu. Kau dengan tiba2 masuk menjadi tokoh utama dalam mimpi malamku. Mungkin ini hanya bunga tidur, padahal selama ini jangankan mendengar, membaca, atau mengucapkan namamu saat aku membaca asmaul husna pun terasa kelu. 

 

Aku tak tahu mengapa lidahku kelu dan kaku, hatiku terasa asing dengan kata itu. Tapi dalam pikiranku "ah hanya sebuah nama saja, tak akan berpengaruh dalam keberlangsungan hidupku" begitulah aku berfikir. Hingga pada akhirnya secara tak sengaja, semua hal yang aku pandang pasti namamu ada disana. Sebegitu terkenalkah kau? Sebegitu hebatkah kau? Yang tiap detik berteleportasi dari waktu ke waktu, tempat ke tempat, hingga tiba-tiba berada di mimpiku.

 

Semalam kita naik perahu lagi setelah kemarin kita naik bus didalam mimpi. Semalam kita naik motor lagi, dan kepalamu tepat seperti saat aku ngambek di basecamp itu. Hah. Aku sangat kesal jika mengingatnya. Aku tak terbiasa main tangan, bahkan seharusnya kau layak mendapatkan tamparanku.  Astaghfirullah... Aku tak pernah berlatih kasar dalam perbuatan, tapi terkadang hanya berani melalui tulisan. Kau tau kan diamku?

 

Mungkin yang pernah memahamiku pasti merasakan sakit dengan diamku, tapi kau berhasil membuatku bicara kembali. Selamat. Dan itu terjadi didalam mimpi. Dialam dimana aku tak bisa keluar sendiri tanpa kehendakNya, di alam dimana aku tak pernah menyangka akan seperti itu, dan kau tau apa yang terjadi? Kita menuju sebuah masjid yang ada di daerah Tembelang, Jombang. Masjid dengan warna keemasan itu bak kerajaan, kita bersuci dan sholat disana. Entah apa yang terjadi setelah jam tanganku yang tiba2 sama denganmu (tiba2 punya jam tangan couple) menunjukkan pukul setengah 5 sore. Kau yang pernah bilang "masak beli dipakai kanan kiri"

 

Lagi-lagi kau menjadi imam asarku, setelah imam ojek motor, bahkan pemandu, penjaga, bahkan perawat saat di bus. Masih seperti biasanya, kau duduk lalu tidur dan membiarkanku menikmati pemandangan hingga akhirnya akupun tertidur ditemani kaca yang sudah mengembun. Kau masih lucu seperti biasanya, dan membuatku tersenyum.. 

Tapi aku sudah lupa.. Hehehe. 

 

Dan kini bukan lagi kamu tema dalam setiap puisi dan ceritaku, aku punya dia yang belum ku tahu siapa, dia yang ada dalam angan dan masa depanku. Entah itu kamu atau lainnya. Aku membiarkan pintunya kosong tanpa nama. Hingga dia yang bisa menjawab teka - teki dari sang penjaga yang bisa masuk dengan selamat dan utuh. Mungkin itu bukan kamu... 

Selama ini kita saling menjaga dalam diam kita, saling memerhatikan dengan cara kita, saling tersenyum meski tiada yang saling mengetahui. Mungkin kita juga masih saling mengharap. 

Tapi inilah cerita kita.. Yang harus usai tanpa kehendak kita.. Kau laki2 luar biasa yang pernah ku kenal meski memang memiliki kekurangan. Dan kau pernah bilang "aku memilihmu bukanlah karena kelebihanmu saja, tapi aku siap mengisi segala kekuranganmu."

Selamat berjumpa diujung masa.. Mari kita belajar ikhlas.. 

________

Bojonegoro, 16 April 2018

Nafsu Mutmainah • م 

 

Tulisan ini terinspirasi dari salah seorang sahabat yang curhat (yakin?), katanya disuruh buat cerita kaya novel2 gitu. Lah saya mah kagak bisa. Yaudah tak buat sebisa saya. Wkwkwk. Terimakasih yang sudah mempercayakan kepada saya.

  • view 18