Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 6 Maret 2018   20:15 WIB
Pemuda Keplaksari

Mentari begitu menyengat, aku yang berada di kamar akhirnya menyalakan kipas angin dengan terpaksa, terpaksa karena aku sendiri alergi dingin. Aku masih mengenakan mukena usai melakukan solat ba'diyah dhuhur, tak lupa berdo'a memohon ampunanNya, rahmatNya, kebaikan dalam menjalankan agama, kebaikan dunia akhirat dan terakhir di tutup dengan sholawat dan surah al Fatihah setelah di awal tadi juga diawali dengan syukur dan dilawat pula. Aku berusaha mempraktekkan bagaimana adab dalam berdo'a.
 
Drrt drrt drrt drrt... 
 
Beberapa menit usai membaca al Fatihah hapeku bergetar. Aku memang tidak begitu suka memberi nada handphone, agar tidak ada yang terganggu dengan suaranya. Terlihat dari layar ada pesan whatsapp, entah siapa. Setelah ku buka ternyata seorang sahabat lama. 
 
"Ma'assalamah ning, sudah sampai rumah?"
"Alhamdulillah, sudah sampai kemarin malam."
"di jemput lah sama ayahanda?"
"Iya dong, kan putri kesayangan."
"salam buat bapak ibunya ya ning"
"nggak mau ah, maaf ana gak sembarangan menyampaikan salam dari teman-teman ana. Loh ndak di kelas ya kok ngechat?"
"nggak Ning, ini persiapan mau ke Keplaksari, taukan?"
"Lha mau ngapain?"
"ini saya mendampingi anak-anak lomba adiwiyata. Kalau ada kesempatan mampir ya."
"iya insyaAllah, sampean aja yang dampingi anak-anak?"
"enggaklah, kalau hari Jum'at perempuan kalau laki-laki Kamis dan Sabtu. Mampir ya, nanti ada sesuatulah buat dibawa."
"wah beneran? InsyaAllah deh."
"Iya di tunggu, kapan rencana balik ke pondok?"
"InsyaAllah hari Jum'at, nanti sekalian kesana sama temen-temen kan ya? Lumayan bisa nebeng ke pondok. Hehehe"
"Iya Ning, ditunggu. Saya mau bantu persiapan dulu."
"owh iya, tafadhol."
"nanti kabari kalau mau balik ke pondok"
 
Chat kami berakhir, aku sibuk bermain dengan adik kecilku yang masih 3 bulan. Pipinya yang tembem selalu menggodaku untuk memegang pipinya. Izza, nama adikku yang paling kecil, dia sangat menggemaskan bahkan tak jarang membuat orang ingin menggendongnya. Dia juga tidak mudah menangis jika diajak orang lain sehingga memudahkan ibu ketika melakukan pekerjaan rumah seperti memasak atau bersih-bersih rumah. 
 
"Ibuk, besok aku balik ke pondok"
"Lha kok cepet, di rumah dulu lah seminggu lagi, masak cuma 3 hari dirumah. Besok kan Jum'at, bapak pasti ndak bisa nganterin."
"Yaudah, Sabtu aja kalau gitu."
 
Aku sekarang seperti berada di rumah orang lain, ku rasa bahwa keluargaku ada di pondok, bagiku di rumah ini hanya silaturahmi saja. Maklum, aku sudah 5 tahun lebih jarang pulang, bahkan saat lebaran Idul Fitri pun aku berada di pondok, baru hari ke - 3 pulang ke rumah.
 
"Sepertinya gak jadi balik Jum'at deh, belum boleh sama ibuk." kataku.
"Owh iya gpp. Di tunggu pokoknya."
"Ih, nih kok malah jadinya kaya maksa ya?"
"hehehe iya ning, gpp lah."
"hadeh maunya.. Tapi gak janji ya, gak ada temen soalnya, masak ya situ jemput. Ogah lah."
"besok kalau nyampai terminal kabarin ya"
"kenapa? Mau di jemput? Jangan lupa sediakan karpet merah, hehe"
"gampang itu sudah, hati-hati ya buat besok"
"insyaAllah siap"
 
 
 

Karya : hasanatul mutmainah