DIA PUN KEMBALI

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2018
DIA PUN KEMBALI

Sepoi angin di penghujung fajar menyambut kulitku. Dia membelai dengan lembut dan membuat sebagian bulu kudukku berdiri merasakan kesejukannya. Mataku masih terasa perih sisa tangi semalam. Aku tidak bisa tidur hingga pukul 00.30. Aku ragu apakah ini memang jawaban atas semua do'a-do'aku ataukah ini ujianku dalam belajar menghafal al Qur'an?

Kemarin sore aku menelpon Ibunya, bukan bermaksud apa-apa, aku sudah merasa nyaman dengan ibunya saja dan meskipun aku tidak bersamanya-pun aku ingin tetap menjaga silaturahmi dengan ibunya. Ibunya begitu menyayangiku seperti anaknya sendiri. Ketika menelpon, aku tak pernah sekalipun menanyakan atau menyebut anaknya. Tetapi, setelah 2 minggu lebih aku tidak menelpon dan akhirnya aku menelpon pada sore itu. 

"Assalamu'alaikum emak, ngganggu nopo mboten?" sapaku ceria dari ujung telpon.
"Wa'alaikumussalam, alhamdulillah ndak nduk. Kok lama ndak nelpon?"
"hehehe ngapunten emak, nembe repot soale, dospundi kabare?
"Alhamdulillah sehat semua.."
"Bapak teng pundi?"
"Bapak keluar tadi kayaknya."
"Pengajian kemarin datang nggak ke pondok?"
"Nggak, soalnya lagi repot kemarin, lha bapak sampean kesana?"
"Hehehe, mboten emak, mboten enten sangu"
"hehehe..iya..ya.. Emak tak tanya serius ya?"
hufh.. aku udah deg-degan mau ditanya apa..
"Iya emak monggo.."
"Sampean gimana sama mas Ahmad (Ahmad itu nama anaknya)"
"hehehe.. ndak gimana-gimana kok emak?"
"Lho kok malah senyum itu lho,, gimana sama mas Ahmad hubungannya?" 
"Mboten nate hubungan kok emak, winginane mase telpon mawon tanglet hafalane sampai pinten kaleh tanglet kabar, ngoten mawon mboten nate smsn."
"owhgitu.. Lha iya.. kemarin mas Ahmad itu mau di jodohkan sama Kyai, waktu mau dipertemukan sama calonnya itu dia bilang belum siap terus, setelah dipijokkan akhirnya dia ditanya sama Kyai, apakah sudah punya calon sendiri kok dari kemarin mau di pertemukan belum siap terus. terus mas Ahmad bilang iya, sudah punya calon sendiri."
"Lha sinten emak calone?"
"ya sampean itu, (deg..!) makanya emak ini tanya ke sampean, perasaan sampean gimana ke mas Ahmad, apakah masih seperti dulu atau gimana?"
"kalau mas Ahmad gimana emak?"
"Kalau mas Ahmad ya jelas masih, buktinya dia bilang ke pak Kyai gitu."
"Ya kalau mas mau serius silahkan saja.."


ketika mendapatkan telpon itu aku terus menangis, tangisku bercampur jadi satu antara rasa sedih, bahagia. aku sedih karena aku takut karena aku, dia tidak mendapatkan ridho Kyai, aku juga bahagia karena dia memang benar-benar menepati janjinya memperjuangkan perasaannya. Ya Allah.. apakah ini nikmat atau ujian hamba?

Selang 2 hari kemudian, dia mengirim pesan WA
01 Februari 2018

"Sampean sampun siap mendengar keputusan kulo nopo dereng" smsnya tiba-tiba tanpa salam.
"InsyaAllah" jawabku. 
"barokallah" balasku lagi. aku membalas demikian karena aku berfikir dia memilih dijodohkan Kyainya, aku mengatakan barokallah agar pilihannya itu berkah, padahal dia sendiri belum mengatakan pilihannya tersebut. 
"saya sudah istiqomah ngajar di SD sini, otomatis tidak bisa tinggal disana (kotaku), bagaimana, purun ta seumpama nikah ngekost2 disekitar sini saja" katanya. 
"Istri manut sama suami. Asal tidak melanggar syari'at Allah. Apapun itu. Itu yang saya pahami sampai detik ini." balasku. aku tidak ingin terbawa oleh perasaanku sendiri, aku siap sakit tak berdarah, aku siap tanpamu meski berat sepertinya menghapus rasa ini, dan sepertinya diapun begitu. jikapun dia bisa menghapus, kenapa selang 2 tahun ini dia tidak pindah hati kepada orang lain? bukankah dia laki - laki yang diingini banyak wanita? sedangkan aku hanya seorang gadis yang dulu pernah diajak untuk berumahtangga bersamanya. disaat aku tak memiliki rasa apapun kepadanya, dia selalu berusaha menumbuhkan benih itu, ketika aku membunuhnya, dia menebar benih itu hingga rasa itu subur selama 2 tahun meski hama menyerang.
"sampean tau sendiri kan, saya penuh dengan kesederhanaan to insyaALlah hati ini belajar merasa kaya, karena selalu berusaha mensyukuri segala nikmat, jadi soro -soro titik purun ta, transportasi ndak punys, uang pas-pasan karena saya bantu biaya adek sekolah dan mondok disini." balasnya.
"Hakikat kaya bukan banyak uang, tapi bersyukur. Berlelah untuk urusan Allah itu disukai Allah, insyaAllahakan menjadi hamba yang dicintai Allah." jawabku yang tidak sedikitpun mengedepankanrasaku, aku hanya mengedepankan pengetahuan yang selama ini Abah pondok ajarkan padaku.
"mau ta sampean tidur tidak dikasur, makan seadanya, hidup susah, tapi insyaAllah selalu bersyukur, kaya merasa mlarat dan mlarat merasa kaya."
"Kalau gak salah saat saya kecil minta tidur sendiri hanya beralaskankloso amoh yang terbuat dari daun pandan, aak kelas 4 SD itu erfikir Rasulullah saw saja tidurnya pakai pelepah kurma, masak saya tidurnya dikasur. dan sekarang saya dijadikan Allah mengerti, hakikatnya bukan pelepah kurma, tapi bagaimana bisa sholat malam, beribadah kepada Allah. Kaya merasa mlarat dan mlarat merasa kaya itu karena segala miliknya telah digunakan untuk kepentingan agama Allah."
"Mas seperti ini, yakin neng mau nikah sama mas, neng gimana keputusannya lanjut atau gimana?"
aku berfikir sejenak, aku terbiasa hidup susah sejak kecil, insyaAllah aku bisa melaluinya. dulu bapak ibu juga seperti ini, bapak cuma lulusan pesantren, pendidikan terakhirnya kelas 2 Mts karena tidak punya biaya akhirnya tidak melanjutkan. bapak nikah dengan tangan kosong, bukan dari anak orang kaya, bahkan bisa dibilang nenek dari ibu lebih berada daripada bapak, tapi ibu susah senang bersama bapak, buktinya bisapunya 3 anak, bisa menguliahkan aku sampai S1 bahkan sampai aku bisa kursusdi Kampung Inggris.
"InsayaAllah, bismillah lanjut. tapi saya punya permintaan, boleh?"
dia lama tidak membalas, mungkin dia juga berfikir bahwa dia tidak punya apa - apa, sedangkan belum apa-apasaja saya sudah mengajukan syarat.
"nopo niku" jawabnya singkat.
"Selagi belum halal, chat seperlunya saja, agar tidak membuat penyakit hati. dan jika sudah halal, masih diizini buat ngaji. keberatan mboten?"
"Ngaji maksudnya gimana, mondok atau gimana?"
"Ya kalau di sana tinggalnya, masih boleh setoran al Qur'an, nopo setorane teng njenengan?"
"nggeh angsal to.." jawabnya melalui voice note.
"Alhamdulillah" jawabku singkat.
"sudah berapa juz?"
"malu, masih sedikit."
"kapan khatamnya?"
"ngendikane bunyai, ndak usah cepet2 hafal, itu nafsu."
"merencanakan apa itu dosa? jwabnya.
"bisamillah, insyaAllah akhir tahun, tapi tergantung ujiannya."
kemudian dia mengirimi emoticon jempol dan menyemangati. aku hanya membaca dan tidak membalasnya karena sudah ku nilai tidak begitu penting.

obrolan kami hanya sebatas itu saja. aku berusaha agar tidak terjadi penyakit hati dalam diriku dan dirinya. meski rasa kami masih utuh seperti dahulu.

03 Februari 2018
"Ini bagus" chatnya tiba-tiba mengomentari story wa ku yang mengupload jam niqoby couple.
"Itu sepasang." jawabku singkat. aku merasa dia adalah calon pembeli, dan chat kami kali ini adalah tentang mu'amalah, bukan tentang munakahat seperti kemarin.
"beli laki-laki aja mbotenangsal"
"mboten dijual terpisah"
"beli 2 setunggale damel sinten, dipakai ditangan kanan dan kiri ngoten" balasnya mulai melawak dan menjurus agar couple dengan dia.
" mbak atau emak, atau sinten ngoten."jawabku logis.
"mboten pun" balasnya lagi. sepertinya dia kecewa dengan balasanku. dia ingin aku mengatakan couple denganku, tapi aku malah menjawab demikian.

04 Februari 2018
"Sampean dimana" chatnya tiba-tiba
"teng Kediri" 
"kulo kinten teng mriki. wau kulo teng kampus ajenge manggihi TU, tapi malah ketemunya kaleh bunyai."
"Lha pados nopo? ibu full nek dinten Ahad"
"SKL" jawabnya singkat.
"pemberkasan" balasku lagi.
"nopo niku?" 
"nembe pemberkasan ta teng SD?"
"enggeh"
"barokallah"
"amiin"
"kira-kira ijazah jadinya kapan ya?"
"paling cepat 3 bulan."
"maksudnya bulan 3 pengajuan atau 3 bulan lagi?"
"3 mulai bulan pengajuan"
"lho kemarin katanya Februari"
lalu dia mengirim pengumuman tentang tanggal pendafatarn ijasah
"terimakasih"
 "sami-sami"

aku rasa, dia ingin membuat sejuta alasan agar bisa chat denganku, tapi dia ingat bahwa aku mengajukan syarat agar chat seperlunya saja agar tidak berpenyakit hati.

06 Februari 2018

kali ini dia tidak mengirim chat, karena aku tidak ingin chat dengannya jika tidak penting. karenanya dia tanggal ini menelponku lumayan lama, 16 menit lebih.

#tobecontinued...

  • view 48