Filosofi Kaos Kaki

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Filsafat
dipublikasikan 08 November 2017
Filosofi Kaos Kaki

Pertama saya ingin berterimakasih telah membuat saya terinspirasi untuk menulis.
 
Tulisan ini saya tulis setelah mengintip inbox dari orang ternama (ciyeeh) tentang kaos kaki, pesannya singkat tapi pakai huruf kapital semua seolah tegas (kalau buat saya malah hampir kaya mbentak orang, untung aja saya gak pingsan ya, hehehe #abaikan), pesannya gini “KAOS KAKI? FILOSOFINYA?” Nah serem kan ya tulisannya gede – gede kaya nyamuk kekenyangan (jangan dibayangin deh nyamuk kekenyangan kaya apa hehehe #abaikan).
 
Sebenarnya bisa saja sih buka google dan ngetik “filosofi kaos kaki”, ya tapi karena orangnya seperti suka lihat saya berfikir secara mendalam bla bla bla (silahkan cari pengertian filsafat menurut Zidi Gazalba, hehehe)
 
Oke dah, ini perspektif diri yang dhoif ini lho yaa..
Dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah menemukan jahitan kaos kaki kecuali di pangakal dan diujungnya, entah bagaimana cara membuatnya. Kaos kaki itu mungkin sepele sih, coba kalau hari Senin upacara bendera gak pakai kaos kaki putih, pasti langsung bikin barisan sendiri dan memunguti sampah satu sekolah setelah upacara usai, atau paling tidak nyapu dari koridor satu ke koridor lainnya. hehehe. Ini namanya agak curhat pemirsa. #sudahlah
 
Next..
Kaos kaki itu dari proses membuatnya saja sebuah kain harus melewati proses yang gak mudah, di buat sedemikian rupa sehingga bisa berwujud seperti itu deh, tujuannya untuk apa lagi kalau bukan untuk membuat melindungi si pengguna. Dari sinilah kita bisa meneladani kaos kaki, jika untuk sesuatu yang dicintai, maka harus dijaga, bukannya malah diajak mendekati zina *peace*. Karena dia yang mencintaimu pasti akan menjagamu, tidak rela jika dirimu tergores api neraka. Dalam diamnya, dalam tunduk pandangannya untuk menjaga kita. Meski duh, hatinya pasti pengen anget tuh ngelihat, tapi demi menjaga, dia rela sakit menahan nafsunya. Kata kuncinya MENJAGA.
 
Proses pelenturan rela ditempuh, buat apa sih? Ya agar kita merasa nyaman ketika menggunakannya. Kita tidak terluka dengan kekakuannya, dan kenyamanan itu penting lho. Pernah denger “tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu”, nah dibalik keraguan tersebut telah tersimpan ketidak nyamanan. Bisa jadi nyaman disini diartikan sebagai PERCAYA.
 
Kaos kaki itu lentur dan elastif, saya lebih suka mengartikannya dengan fleksibel. Coba kalau kaos kaki kita itu kaku, mana bisa masuk itu kaki? Hehehe. Dalam menghadapi setiap proses kehidupan ya harus fleksibel, pandai memposisikan diri ditengah – tengah masyarakat, kalau kaku pasti akan menyakiti salah satu pihak. Nah, disini kita bisa belajar lebih dewasa, mempunyai prinsip, tetap fleksibel, punya kecerdasan emosional dan sosial. Kata kuncinya CERDAS.
 
Sementara sekian dulu ya.. mungkin ada tambahan silahkan.. biasanya sahabat – sahabat saya itu paling seneng berfilosofi.. hehehe
 

  • view 31