Akhir?

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2017
Akhir?

Drum band terdengar nyaring si telinga, arak-arak peserta wisuda dengan toga hitam dan samir warna hijau muda berbaris rapi. Peserta laki-laki telah berada didepan, disusul peserta perempuan. 

"Aku kok ndak kaya aku sih" kata Ira melihat hasil make up di cermin.
"Kamu gak pernah rias ya? Kok berubah banget." Kata temannya.

Ira benar - benar tidak mengenali wajahnya sendiri, apakah itu benar dia? Sungguh berbeda dari dirinya sendiri. Maklum saja dia tidak pernah menggunakan make up macam-macam, hanya menggunakan bedak bayi, pelembab, maksimal celak di  kedua matanya.

Usai rias, mereka berfoto di studio yang telah di pesan. Setelah itu mereka menuju barisan wisuda yang telah lama menunggu. Disana telah ada seorang panitia dengan handytakly di genggamannya, memberikan informasi terkait persiapan peserta wisuda. 

"Tepat pukul 08.15 wib peserta wisuda memasuki arena." Kata mc wisuda.

Semua bergegas berjalan satu persatu setelah sebelumnya di tata oleh panitia. Beberapa saat kemudian mc mengumumkan jika guru besar, ketua, pembantu ketua memasuki mimbar utama dan semua diharapkan berdiri sebagai tanda penghormatan. Suasana begitu hidmat dialuni paduan suara dengan lagu khas di kampusnya.

Setelah beberapa prosesi terlaksana, saatnya prosesi wisuda. Nama Ahmad berada pada urutan nomor 3, sedangkan Ira nomor 180an. Ahmad menyandang yudisium sangat memuaskan, Ira berkaca - kaca melihatnya. Seseorang yang hampir saja dia lupa wajahnya, hanya namanya saja yang selalu ada dalam setiap barisan doa-doanya.

Kini giliran Ira maju kedepan, terlihat Ahmad mencari Ira diantara beberapa wisudawati yang mengenakan make up. Jangankan Ahmad, Ira saja tidak mengenali wajahnya sendiri. Dan terlihat sekali Ahmad berusaha menemukan mata Ira yang sudah lama tidak dilihatnya. Ira tahu itu, tapi Ira menundukkan pandangan diantara semua laki-laki yang berada disekitarnya.

Ira maju ke mimbar utama, bahkan dia tidak tahu predikat yudisiumnya. Setelah itu dia kembali melewati beberapa laki-laki dengan menundukkan pandangan. Sungguh keinginan menangkap wajah Ahmad dia urungkan karena ingin menjaga diri dari panah setan.

Prosesi wisuda berakhir, sungguh tak terbayangkan jika Ira mendapat predikat coumloud. Ira segera menghubungi bapak dan keluarganya. Ira menuju kursi tamu undangan dan bermaksud duduk dibawah itu agar mudah ditemukan.

Kedua matanya tiba - tiba bertemu dengan sosok ibu yang pernah Ira tahu, tidak salah lagi beliau adalah ibu Ahmad, dia langsung memanggilnya dengan sebutan emak seperti yang diajarkan Ahmad. Ira langsung bersalaman dan mencium tangan wanita paruh baya itu. Jika selama ini mereka hanya akrab di telpon, kini mereka bertemu untuk kedua kalinya. Ada Ahmad disana, tetapi Ahmad cuek atas keberadaannya. Ira segera mempersilahkan emak untuk duduk agar tidak lelah sambil menunggu rombongan yang lain. Terjadi obrolan pendek antara mereka, kedekatan dua orang yang sama merasa nyaman.

Beberapa saat kemudian mereka berpisah, Ira mencari keluarganya, belum sempat Ira pamit kepada Ahmad karena dia akan pindah pesantren dan tidak akan bisa berkomunikasi dengannya lagi. Ahmad sepertinya sengaja menghindari Ira entah alasan apa, dia hanya melihatnya dengan tatapan tak seperti biasanya. Menyadari hal itu, Ira hanya membiarkannya saja. Ira kembali sibuk dengan handphonenya karena dia menunggu tepat di bawah tulisan "Tamu Undangan" dan tidak sengaja bertemu dengan keluarga Ahmad.
 
Keluarga Ahmad terlihat buru - buru, dan Ira memahami hal itu karena pastinya agar tidak tertinggal rombongan. Ira masih mencari - cari keluarganya, sedangkan keluarga Ahmad sudah berlalu dihadapannya. Ira menuju tempat yang ditunjukkan oleh bapaknya, yaitu didepan masjid. Dari kejauhan dia langsung bisa menangkap bayang ibu yang melahirkannya itu bersama beberapa kerabat lainnya. Ibunya menggendong adiknya yang baru berusia 5 bulan. Adiknya lucu dan gemuk berisi, setelah mencium tangan ibunya dan mencium pipi adiknya, dia menyalami keluarga yang lainnya. Bapaknya ternyata sedang sholat dhuhur, lalu dia bergegas masuk kedalam pondok setelah berdiskusi tentang kepulangannya dengan ibunya.
 
Dari dalam pondok, dia mengeluarkan sekitar 8 kardus buku. Adik, sepupu, dan bapaknya membawa barang - barang itu kedalam mobil, lalu Ira mengajak mereka untuk foto bersama. Suasana foto sangat antrei, sehingga dia memilih yang paling sedikit antriannya karena kasihan dengan adiknya yang masih bayi. Setelah berfoto, Ira kembali ke dalam pondok  untuk berpamitan dengan ustadzah, beberapa adik tingkatnya berkali - kali mengajaknya berfoto bersama sehingga Ira begitu lama, sedangkan rombongan sudah menunggu.  Ira juga menyempatkan berfoto dengan beberapa ustadzah, tak ketinggalan adik tingkatnya di ndalem. Dia mendapatkan hadiah buku, pigora, bunga dan lainnya dari beberapa orang terdekatnya. Semua selesai, dia melangkahkan kaki keluar pondok dengan berat bersama kedua adik tingkatnya. 
 
Mobil Xenia hitam telah menantinya, beberapa keluarga terlihat sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. Ira langsung naik mobil, perutnya terasa lapar dan dia baru sadar jika belum makan sama sekali. Bapaknya menceritakan kepada keluarga lainnya betapa sibuknya Ira saat kedatangan menteri Sosial bahkan hingga tak punya kesempatan untuk makan. DItengah perjalanan, dia di inbox oleh salah satu pengurus LKSA agar menyetorkan beberapa data sore itu juga. Beruntung data - data itu sudah dipersiapkan oleh Ira jauh - jauh hari, sehingga rekannya tinggal mengirim saja. Matahari hampir tenggelam, hari itu dia istirahat melepas lelah.
 
 
***
 

  • view 136