Ada Apa dibalik Mimpi?

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Oktober 2017
Ada Apa dibalik Mimpi?

Terlihat berkedip layar handphone di sampingnya. Ira sedang menulis ayat - ayat al Qur’an siang itu. Udara panas menemaninya, tetapi tidak mengurangi semangatnya dalam menulis ayat - ayat illahi. Dia sudah sampai juz 5, dia telah menyelesaikan juz 16 - 30, dan kini dia akan menulis juz 1 - 15. keadaannya mulai terganggu dengan kedipan layar hape itu.

“Neng” kata singkat di layar wa miliknya.

Ntuk beberapa saat dia berfikir apakah membalasnya atau tidak. Dia sebenarnya sama sekali tidak ingin membalas, tapi dia ingat bahwa seseorang itu ingin berbicara banyak hal. Beberapa waktu lalu dia mengirimi pesan singkat dan menanyakan kapan nomor Ira akan aktif, sehingga dia bisa menelpon.

“Dalem mas,” jawab Ira singkat. Menulis kata “mas” pun seperti harus dipaksakan olehnya, mungkin Ira tak akan menulis kata - kata itu jika si pengirim tidak memanggilnya “neng”.

“Siyos wisuda?” katanya basa basi.

“InsyaAllah siyos.” Jawab Ira singkat.

“Siyos boyong?”

“Kengeng nopo kok tanglet boyong?”

“Terose nek wisuda ajeng boyong.”

“Mboten kok,” balas Ira. Boyong merupakan suatu pemutus silaturahmi baginya dan kyai, sedangkan Ira lebih menggunakan bahasa “pindah amal sholih”, maksudnya tetap menjadi santri tetapi mengambil amal sholih di luar pondok seperti mengajar dan sebagainya.

“Mas mboten siyos balik teng Jawa Tengah neng.”

“Lha?”

“Tetep teng mriki, terose Kyai angel merjuangno agama teng mriko.”

“Nggeh, alhamdulillah. Teng pundi mawon asalkan tetep berjuang dijalan Allah.”

“Mas pun ngajar neng.” Katanya sambil mengirimi sebuah gambar.

“Alhamdulillah, teng pundi?”

“Teng SD IT”

“Alhamdulillah, mugi – mugi saget amanah. Nggeh pun, ngapunten. Dalem pamit riyen. Assalamu’alaikum.” Ira mengakhiri kontak. Ira merasa dadanya panas ketika berkomunikasi dengan Ahmad. Dia merasa telah melanggar larangan Allah, Ira takut akan membuat Allah murka kepadanya.

“Pamit teng pundi?” kata Ahmad.

Tidak pernah sekalipun Ahmad menjawab salam Ira ketika Ira pamit pergi. Mungkin karena Ahmad khawatir jika itu adalah akhir dari hubungan mereka. Ahmad sangat tidak ingin kehilangan Ira, hampir dua kali Ira memutuskan tidak ingin berhubungan lagi dengan Ahmad, tetapi Ahmad bersikeras tidak ingin mengakhiri kedekatan mereka berdua. Meski Ahmad pun sadar jika jodohnya belum tentu Ira, dan Ira pun juga sadar jika jodohnya belum tentu Ahmad sehingga berkali – kali Ira bermaksud menjauhi Ahmad tetapi Ahmad tetap saja selalu muncul dalam kehidupannya.

Pernah suatu malam setelah Ira melakukan sholat, dia bermunajah kepada Allah memohon kepadaNya agar dihapus rasa yang dimilikinya, dia merasa tidak kuat jika dijadikan memeliki perasaan seperti itu, dia takut membuatNya murka, dia takut membuatNya cemburu, dia takut menduakanNya itulah pintanya. Tetapi setelah sholat, dia tertidur sambil memeluk al Qur’an. Dia bermimpi bertemu dengan Bu Nyai dimana Ahmad mondok, maklum saja dia pernah bertemu dua kali dengan beliau. Dalam mimpi itu, bu Nyai berpesan kepada Ira “Aku ridho jika Ahmad denganmu,” kata bu Nyai dan mengulanginya tiga kali. Sebelumnya juga, Ira pernah bermimpi bertemu dengan Romo Kyai, dalam mimpinya Romo Kyai melarang Ira untuk menjauhi Ahmad dan mimpi itu terjadi ketikaIra sama sekali belum bertemu dengan Romo Kyai, hanya tahu difoto yang Ahmad tunjukkan kepadanya.

Ira pun menyadari mimpi itu, baginya itu bukanlah mimpi biasa. Mimpi ditemui seorang guru Mursyid yang belum pernah bertatap muka dengan beliau, mimpi bertemu dengan istri sang Guru, bahkan Ira sendiri merasa belum pernah mimpi bertemu dengan istri – istri dari gurunya. Lalu, apa maksud dari mimpi itu? batin Ira dalam – dalam.

“Jika memang dia yang Engkau takdirkan untuk hamba, maka tiada penghalang bagi hamba untuk bersama dengannya. Jika memang Engkau menakdirkan hamba bersama dengannya, maka tiada apapun yang bisa menghalangi takdir itu. tolong hamba agar lebih taat terhadap takdir yang telah Engkau tetapkan kepada diri hamba. Hamba hanya seorang pendosa, hamba hanya seorang yang lemah dan tiada berdaya melainkan Engkau yang memeberikan kekuatan. Kuatkan hati hamba dalam menerima segala takdir dari-Mu ya Allah... Amiin.”

  • view 42